lima pertanyaan perihal bakso

1

Sejak kapan ada warung bakso di kota kabupaten ini?

Kenapa kamu tiba-tiba ingin menjadi seorang peneliti? Saya lebih senang melihat kamu sebagai seorang istri mengenakan baju terusan dengan perut hamil tiga bulan.

Waktu itu kamu kelas enam sekolah dasar. Saya kelas satu tsanawiyah. Rok kamu masih pendek dan merah. Sementara biru celana saya baru belajar memanjang.

Saya ingat, tentu saja, pelayan-pelayan warung bakso itu disapa Mas dan Mbak. Pemiliknya menggunakan namanya sebagai nama warungnya. Mas Harto. Tetapi, kamu tahu, saya tidak suka menghafal tanggal-bulan-tahun, kecuali tanggal hari lahir kamu. Angka-angka semacam itu bagi saya selalu mengingatkan saya kepada jumlah korban.


2

Kenapa anak muda di kota ini senang makan bakso?

Saya semata-mata tahu bakso adalah makanan nasional para anak muda tanpa pernah tahu kenapa bisa demikian. Kira-kira sama dengan ketidaktahuan saya kenapa semua gerbang, pagar, dinding rumah dan kantor saat itu harus berwarna kuning.

Tapi bukankah saya pertama bertemu kamu di warung bakso? Kamu kepedisan. Sesungguhnya, itu cara Orang Bugis menyebut kepedasan. Saya pikir kata pedis lebih indah dan kaya dibanding pedas, apalagi pedes. Saya bayangkan itu terbuat dari kata pedih dan pedas. Waktu itu, kamu selalu menghapus butir-butir peluh di dahi kamu dengan tissue toilet yang tersedia di meja.

Saya menunggu di depan warung mau menjabat tanganmu. Saya menyebut nama agar kamu mau balas menyebut namamu. Tetapi kamu keluar bersama ayahmu yang berkumis tebal dan menggulung dua lengan baju memperlihatkan tatonya. Entah kenapa saya membayangkan ayahmu seorang polisi yang gemar menakut-nakuti dengan memamerkan pangkatnya.

3

Kenapa kantin sekolah kita juga menjual bakso?

Kenapa kamu tidak bertanya kepada guru sejarah dan ekonomi, guru sosiologi, guru antropologi atau kepala sekolah? Siapa tahu ada hubungannya dengan program transmigrasi, ekonomi rakyat dan koperasi atau gerakan politik tertentu.

Kepada saya, tanya saja tentang berapa kali saya mencuri uang dari bawah kasur nenek dan dompet ibu saya agar bisa mentraktir kamu makan bakso. Sebab hal-hal memalukan seperti saya lakukan agar kamu mau menerima saya sebagai pacar.

Atau bertanya saja berapa hutang bakso yang belum saya bayar di kantin sekolah hingga kini demi melihat kamu tersenyum. Saya selalu merasa dicintai setiap kali kamu tersenyum usai melahap bakso.

4

Betulkah para penjual bakso itu punya jimat penglaris?

Saya cuma tahu bahwa pemerintah suka sekali menyebar mitos agar kita percaya dan takut kepada macam-macam proyek mereka. Apakah kamu pikir penjual bakso itu sama dengan pemerintah? Penjual bakso barangkali tidak gemar korupsi.

Saya pernah mendengar desas-desus warung bakso di persimpangan, dekat rumah kamu, memasukkan celana dalam dan kutang bekas ke dalam panci baksonya. Tetapi saya tidak pernah mau usil membuktikan rumor yang diembuskan penjual bakso di dekat rumah saya yang warungnya sepi pengunjung. Waktu itu, saya lebih penasaran kenapa kamu tidak juga menerima saya jadi pacar kamu.

Tapi, hei, saya sudah senang melihat kamu sebagai seorang istri, berpakaian hamil meski sahabat saya yang beruntung jadi suamimu. Jangan kamu rusak reuni ini dengan terus bertanya tentang bakso.

5

Saya penasaran, betulkah kamu betul-betul tidak suka makan bakso?

Kamu tidak tahu, saya memiliki puluhan warung bakso di berbagai kota? Warung-warung itu menjual berjenis-jenis bakso. Bakso ayam dan bakso sapi. Bakso udang, bakso ikan, dan bakso teripang. Ada juga bakso binatang langka. Bakso buah-buahan dan bakso sayur-sayuran.

Oh, iya, tentu saja ada bakso cinta dengan segala warnanya. Saya punya puluhan warung bakso sebagai usaha mengekalkan kamu.

Makassar, 2009

5 thoughts on “lima pertanyaan perihal bakso

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s