Aku Selalu Bangun Lebih Pagi

“BARU bangun, kan?”

Setiap kali perempuan itu datang, kira-kira pukul sepuluh pagi, ia menyapaku seperti itu. Meskipun sesungguhnya itu kalimat tanya, aku kira, ia tidak bermaksud bertanya sama sekali. Itu pernyataan yang menyamar sebagai pertanyaan.

Aku tidak pernah menanggapinya. Setelah mengatakan kalimatnya, perempuan itu akan masuk ke ruanganku. Ia akan duduk di depan komputerku, dan menulis sesuatu—entah apa—tanpa memberiku waktu menanggapinya. Selalu seperti itu. Akhirnya, aku merasa  kalimat itu memang tidak perlu ditanggapi.

Sering kali, aku pikir ia tidak kreatif. Setiap pagi, ia menyapa dengan kalimat yang sama. Baru bangun, kan? Apakah ia tidak bisa menemukan kalimat lain yang lebih menarik—lebih baik? Kenapa ia tidak sesekali mengatakan, misalnya, ‘rambutmu kusut sekali pagi ini’ atau yang lain yang maksudnya sama. Mestinya ia tahu aku tidak suka kalimat-kalimat klise.

*

IA selalu menemukan aku membaca buku, ketika ia datang. Hal itu sesungguhnya satu jawaban. Aku tidak mungkin baru bangun. Setiap kali ia datang, pintu sudah terbuka, lantai-lantai sudah disapu, juga buku-buku sudah kembali tertata rapi di rak. Tentu saja akulah yang melakukan semua itu. Tidak ada orang lain yang akan melakukannya. Aku tidak punya cukup uang menggaji seorang cleaning service. Menggaji seorang pegawai menunggui toko buku saja sudah berat. Tetapi, ia selalu datang dengan sapaan khas basi dan menyebalkan itu.

Aku selalu berharap, besok paginya, ia datang tidak dengan kalimat itu lagi. Aku berharap ia tahu aku sudah selesai membaca satu buku, ketika ia tiba. Aku ingin ia sadar, sejak pagi aku sudah membersihkan lantai dan menata buku-buku di rak, meskipun aku belum mandi. Namun harapan itu tidak pernah terwujud. Besok dan besoknya lagi, ia tetap datang membawa kalimat serupa.

Aku pernah berpikir sebaiknya mandi lebih pagi sebelum membersihkan ruang perpustakaan dan toko buku. Tetapi, kemudian aku punya pikiran lain. Jika hal itu aku lakukan, ia akan mengatakan: tumben bangun lebih pagi! Itu bahkan lebih menyakitkan. Ah, biarlah ia menemukan sendiri kebenarannya. Intinya, aku selalu bangun pagi sekali—beberapa jam sebelum ia datang.

*

AKU pikir, ia mengatakan aku baru bangun karena ia selalu menemukan rambutku masih acak-acakan. Tetapi, untuk apa aku mengingkari ketidaksukaanku kepada sisir cuma untuk perempuan itu? Baju yang aku kenakan kemarin juga belum diganti. Ia selalu mendapati aku belum mandi pagi. Aku mengerti, pukul sepuluh adalah waktu yang sudah sangat telat untuk mandi pagi. Tetapi begitulah aku. Sebelum penunggu toko bukuku datang, aku tidak akan sempat mandi. Dan itulah masalahnya. Perempuan itu selalu datang beberapa menit lebih cepat daripada pegawaiku. Aku sudah sepakat dengan pegawaiku. Jam kerjanya mulai setengah sebelas—sampai pukul sembilan malam.

Aku selalu merasa tidak punya alasan kenapa harus mandi lebih pagi. Aku selalu berpikir, banyak hal lain lebih penting daripada mandi pagi. Membersihkan lantai. Menata buku-buku. Menyelesaikan satu buku yang baru aku beli sebelum dimasukkan dalam katalog dan dipinjam anggota perpustakaan. Atau menuliskan apa saja di komputer. Seharusnya ia sadar, ia selalu menemukan komputerku sudah bangun ketika ia datang.

Siang hingga sore, aku selalu sibuk meladeni pengunjung perpustakaan. Mengurusi toko buku dan perpustakaan bukan pekerjaan enteng bagi dua orang. Seharusnya, ia tahu aku tidak punya banyak waktu membaca buku, selain pada pagi hari ketika orang-orang yang mau membaca, meminjam, atau membeli buku belum datang. Sementara membayangkan ada seorang pemilik perpustakaan dan toko buku tidak pernah membaca buku sudah merupakan hal yang sangat lucu.

Mungkin harapanku terlalu besar ia bisa menemukan kebenarannya. Ia sama sekali tidak mau belajar dari fakta-fakta yang bisa menunjukkan ia keliru. Ia seorang sarjana—seharusnya ia tahu hal-hal sederhana seperti itu.

*

SEJAK memutuskan berhenti kuliah, mendirikan perpustakaan, dan toko buku beberapa bulan lalu, perempuan itu pelanggan tetap di tempatku. Di daftar anggota, ia berada di urutan sebelas. Ia pengunjung paling rajin. Ia datang nyaris setiap hari.

Ia gadis manis, yang kemudian aku tahu sebagai seorang sarjana pertanian yang lebih tertarik menjadi anggota perpustakaan daripada melamar kerja di Dinas Pertanian. Ia anak orang kaya yang tinggal beberapa blok dari tokoku. Menurut pengakuannya, ia suka membaca buku-buku sastra. Tanpa ia katakan, aku tahu dari judul-judul buku yang selalu ia pinjam. Ia mengagumi Sapardi. Beberapa kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono ia pinjam berulangkali. Kadang aku berpikir, kenapa ia tak membeli buku serupa saja?

Meskipun ia manis dan anak orang kaya, aku tidak merasa tertarik kepadanya. Mungkin karena sapaannya setiap ia datang. Sapaan menjengkelkan itu mungkin menutupi kelebihan-kelebihan miliknya yang bisa membuat aku jatuh cinta. Kedengarannya terlalu mengada-ada, tetapi begitulah adanya. Aku tidak melihatnya sebagai seorang gadis istimewa, meskipun sudah lama aku ingin punya kekasih—yang suka membaca buku dan manis.

Beberapa anggota perpustakaan, utamanya para pria, selalu membicarakan kecantikan perempuan itu. Namanya Nanti. Nanti Kinan. Aku jarang menyebut namanya. Perempuan itu berambut hitam indah. Wajah halus dan tidak terlalu putih. Senyumnya manis. Aku dengar para pelanggan pria sering memujinya. Beberapa di antara mereka terang-terangan memperlihatkan ketertarikannya kepada perempuan itu. Aku tidak. Jika harus memilih, aku lebih suka menjadi kekasih pegawaiku. Ia tidak suka cari perhatian dengan pertanyaan aneh.

Mungkin karena ia sering datang, perempuan itu  tidak sungkan duduk di kursiku, dan mengutak-atik komputerku. Awalnya, aku kaget dengan ulahnya itu. Tetapi aku piker, itu bukanlah hal yang mengganggu. Tetapi sapaannya itu selalu menganggu dan membuat aku merasa dilecehkan—dianggap lelaki pemalas.

*

PAGI tadi, dengan satu novel baru yang tidak sempat aku selesaikan semalam, seperti biasa aku duduk menunggu pegawaiku datang—juga menunggu perempuan itu.

Aku sudah memutuskan, jika perempuan itu datang, akan mengatakan kepadanya ia salah selama ini. Aku sudah tidak tenang melihat ia, dengan kebodohannya, tidak menyadari aku selalu bangun jauh lebih pagi.

Seperti dugaanku, perempuan itu akhirnya datang menyodorkan sapaannya.

“Baru bangun, kan?”

Aku melihat angka halaman bukuku lalu menutupnya. Aku bangkit, mengikuti perempuan itu.

“Kenapa kau selalu menyapaku dengan kalimat itu?”

Ia tidak menjawab. Ia terus melangkah.

“Kalimat itu selalu merusak pagiku.”

Ia tidak menjawab.

“Seharusnya kau tahu, aku selalu bangun lebih pagi dari yang kau kira.”

Ia belum mengatakan apa-apa. Menyebalkan.

“Kau pikir siapa yang membuka pintu itu untukmu. Siapa yang menyapu lantai ini? Siapa yang menata buku-buku di rak? Kau pikir itu semua kerjaan pembantumu?”

Ia masih diam dan terus berjalan menuju komputerku. Aku kesal.

“Semua itu aku lakukan mungkin saat kau masih lelap, masih memimpikan lelaki yang kau cintai. Aku tidak suka kau mengatakan aku baru bangun. Kenapa kau tidak pernah berpikir, seorang penjaga toko dan perpustakaan pasti akan bangun lebih pagi dari pelanggan yang akan datang? Dan—”

Ia tetap diam membuatku semakin jengkel.

“Dan kenapa kau tidak menjawabku? Apakah kau memang hanya bisa mengucapkan sapaan itu? Apakah kau—”

Ia tiba-tiba berbalik dan aku melihat matanya sembab. Ia menangis.

“Kenapa kau menangis? Kau pikir aku akan merasa bersalah jika kau menangis?”

“Maaf. Barangkali aku memang salah,” katanya.

“Iya. Kau jelas salah!”

Ia berbelok masuk ke ruang baca lalu duduk di salah satu kursi. Aku juga duduk—di depannya. Ia meletakkan tasnya di meja, kemudian menghapus air matanya.

“Ya. Barangkali—“

“Kau memang salah. Aku tidak pernah sekali pun bangun pukul enam, selalu lebih cepat, sejak pertama kali membuka perpustakaan dan toko buku ini. Aku selalu bangun lebih pagi. Selalu lebih pagi. Tidak pernah telat.”

“Bisakah aku melanjutkan kalimatku?”

Aku diam.

“Aku tahu, kau tidak betul-betul baru bangun saat aku datang. Aku tahu kau yang membuka pintu dan menata buku-buku. Aku tahu kau bisa menghabiskan satu atau dua buku sebelum aku datang. Tetapi, apakah aku salah jika menginginkan satu hari saja melihat orang yang aku, aku, aku cintai kelihatan lebih segar saat aku datang? Ya, barangkali aku salah.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Kau juga salah. Kau tidak pernah memperhatikan perhatianku. Tetapi, terima kasih. Hari ini akhirnya kau tahu. Selama ini aku mencintaimu. Maaf, aku mau mengembalikan buku. Aku harus pulang. Aku harus mengepak barang. Besok kami harus pindah ke kota lain. Terima kasih telah menyediakan tempat ini untukku.”

“Buku kumpulan puisi Sapardi itu tak perlu kau kembalikan. Bawa saja. Nanti aku beli lagi. Kau serius mau pindah?”

“Kau tidak pernah percaya—”

“Aku percaya. Tetapi, bisakah kau tinggal sedikit lebih lama? Biarkan aku mandi dulu. Kita lanjutkan sedikit lagi pembicaraan ini.”

“Kau tidak perlu mandi. Aku sudah terbiasa dengan keadaanmu itu.”

“Tetapi apakah kau mau tinggal beberapa menit lagi di sini?”

“Untuk apa?”

“Aku ingin mandi pagi untukmu.”

“Tidak perlu.”

“Perlu. Nanti setelah berbincang, aku ingin mengajakmu makan siang. Jika kau mau. Bagaimana?”

“Barangkali tidak. Atau barangkali ya. Baik, mandilah dan biarkan aku memikirkannya.”

*

SELEPAS mandi aku bersalin baju. Di depan cermin, aku melihat diriku lebih segar. Aku tiba-tiba malu karena kenyataan itu. Perempuan itu ingin melihatku seperti diriku yang aku lihat di cermin. Aku kemudian, dengan pelan, berkata seolah kepada perempuan itu: ini aku yang ingin kau lihat pada pagi hari!

Aku seperti seorang anak belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Tetapi tidak, tidak, aku belum memutuskan jatuh cinta atau tidak. Mungkin akan jatuh cinta. Aku cuma merasa telah melakukan satu kesalahan yang harus aku bayar. Makan siang tentu saja tidak setimpal.

Aku keluar dari kamar menuju ruang baca. Aku ingin melanjutkan pembicaraan dengan perempuan itu, sebelum berangkat ke tempat makan yang ia pilih. Aku ingin ia yang memilih tempat makan. Aku juga akan memintanya memilih makanan yang disukainya, untukku.

Sebelum berbelok masuk ke ruang baca, aku memperhatikan penampilanku. Sekali lagi, aku merasa lebih segar. Sekali lagi, aku malu karena itu. Aku memasuki ruang baca berusaha mengatur langkah-langkah sealami mungkin.

Aku tidak menemukan perempuan itu di sana. Tidak juga di ruangan lain. Aku keluar, dan menemukan sandalnya sudah tidak ada di depan pintu. Tidak ada sandal siapapun di sana kecuali sandalku sendiri, yang salah satunya telungkup menghadap ke tanah.

Aku berlari ke jalanan. Aku berharap masih bisa menemukan punggung perempuan.

Di depan gerbang, seorang perempuan datang ke arahku tersenyum: pegawaiku. Aku malu, lebih malu dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ia menemukan aku sesegar ini, berdiri di depan gerbang seperti hendak menyambut kedatangannya. Aku berbalik dan masuk ke kamarku. Aku tertunduk di depan cermin. Aku malu melihat mataku sendiri.

Kafe Baca Biblioholic, 2006

Iklan

21 thoughts on “Aku Selalu Bangun Lebih Pagi

  1. yaaah….. mas sih udah marah duluan. T.T *ikut sedih* tapi apa yg membuat mas lebih menyesal, karena sudah ditinggal pergi duluan atau karena baru tahu kebenaran kata-katanya sekarang? terutama kenyataan bahwa dia mencintai Anda.

  2. Ping-balik: Aku Selalu Bangun Lebih Pagi | devinasoul's Blog

  3. Dan tersadar dengan perasaan bersalah dikemudian hari memang menyakitkan.
    Apa akhirnya si laki-laki jadi dengan pegawai perempuannya?
    Aku harap si lelaki tidak ingkar bahwa dia lebih berminat pada pegawainya dari pada pelanggan yang suka membaca buku dan manis.

  4. Ping-balik: Aku Selalu Bangun Lebih Pagi | gummytammyblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s