puisi yang pohon

apa yang hendak dikatakan kata-kataku? cangkang
belaka kata-kataku. rumah berpenghuni rasa penasaran.
kue keberuntungan berisi ‘maaf, anda tidak beruntung!’
aku pula penuh kekosongan atau kau, pengungsi anonim
yang lapar. butuh buah kata-kata.

aku ingin menjadikan kata-kata sebagai mata-mata. mampu
menciptakan sesuatu yang terlihat dan menangkap kau.

aku selalu bicara, tetapi kata-kataku tidak. aku mengisi kata-kata
dengan segala yang ditangkap—yang barangkali sudah kau. lalu
aku berisi ketakutan. ketika aku mulai mengatakan kau, aku tidak
pernah tahu bagaimana berhenti.

aku takut kata-kata mencintai kau dan tidak tahu mengakhiri diri.

*

ketika kata-kata—mata-mataku—terpejam, kau menampakkan
diri sebagai yang seolah mampu aku raih. kata-kata menulis
dalam tidur mereka. tapi ketika terbeliak, kau adalah mimpi.

kau terang-terangan terlihat sebagai usaha menutup diri.
aku menatap wajahmu yang ternyata punggungmu.

aku belajar—darimu—menggunakan ketidakberdayaan aku
sebagai kekuatan. aku memulai segala sesuatu dari akhir.

aku memulaimu dari lambaian selamat tinggal.
aku menikmati semua lelucon dari jantung
kesedihannya.

aku merasa aman memulai doa
dari amin.

*

aku tidak mengingat waktu sebelum kau. masa lampau
utang yang tidak pernah aku tahu. kau tiba-tiba tiba
penuh iba dan membayarnya tunai.

kau menjadikan ingatan aku jaminan. kebenaran,
katamu, telah jatuh menimpa kegelapanku. aku biji
yang kau lengkapi akar, batang, dan daun-daun.

aku boleh tumbuh sesuka inti. cuma boleh tumbuh.
limpahan buah-buahan kelak pesta panenmu
semata.

*

kau punya gergaji bergigi-gigi mesin. aku tidak boleh
bercabang terlalu panjang. aku tidak boleh jatuh cinta
kepada cahaya jendela tetangga.

kau matikan rantingku. kau bakar kering-keringku.
pupuk untuk menggapai cita-cita, katamu.

langit lebih baik daripada tetangga. tidak memiliki
kecemburuan yang berbahaya. aku pohon

tumbuh di bawah rasa was-was dan pengawasan
gergaji.

*

aku mendongak setiap hari, tetapi langit terlalu jauh—
lebih jauh daripada besok dan maut.

kau harus belajar jadi laut. bertanyalah kepada angin.

angin adalah roh yang lepas dari tubuh laut. aku biarkan
angin merasuk ke daun-daunku dan merusak angan
masa kecilku yang ingin mencintai dahan
selamanya.

tetapi selamanya cuma sampai pada saat sesuatu
harus tanggal. selebihnya tidak ada yang tinggal
kecuali niat-niat untuk tumbuh sekali lagi.

*

suatu sore, kau melemparkan buahku ke halaman.
di udara, sebelum menyentuh tanah, biji-bijinya
bimbang antara harus tumbuh untuk kau sekali lagi
atau mati sebelum berkecambah, atau barangkali
ada kemungkinan lain.

aku dengar kau tertawa dari dapur.

sore itu, aku memutuskan berhenti mengumpamakan diri
sebagai sebatang pohon. barangkali aku lebih cocok
menjadi puisi yang seekor burung atau layang-layang,

atau angin—roh laut yang lepas.

Iklan

3 thoughts on “puisi yang pohon

  1. Wuah kakak tomat….ini bagus sekali. “kau harus belajar jadi laut. bertanyalah kepada angin.” Sudah 3kali kubaca :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s