waktu dan musim ibu

ibuku berdoa di balikpapan. aku ada di satu-satunya pukul 5 pagi
hari ini. dari makassar, aku ingin bisa menulis satu puisi untuknya,
sebelum senyum gadis tetangga mengalahkan aku. dia juga puisi.
ramah melintas di depan rumah. matahari yang masih segar acap
mengalihkan kata-kataku menjadi milik gadis itu. aku sudah tua,
usiaku mulai sering mengeluhkan takut melihat bunga-bunga.

waktu masih kecil, aku selalu ingin menelan matahari. namun bulan
akan makan apa? jika bulan mati kelaparan, siapa menemani ibuku
menunggu ayah pulang?


*

burung-burung waktu juga sedang sembahyang. telur-telurnya jatuh
mau merantau jauh ke masa lalu, ke masalah aku yang melulu jatuh
cinta pada perihal perih yang tidak mudah ditanggalkan. jam dinding
adalah sarang. tetapi aku sering malas melongok ke situ. sejak kecil,
aku lebih senang mengejar yang terbang.

semua orang membayang-bayangkan sayap sepanjang hidup. langit,
ladang menunduk itu, malah menciptakan orang-orang yang tidak tahu
merunduk. tidak ada yang mereka tanam di sana kecuali angan-angan.

tetapi, kata ibuku, aku punya lautan dalam diriku. sebagian aku pernah
berkali-kali ke langit. dari hujan aku belajar memahami tempat tertinggi
adalah jantung palung lautan.

*

aku mencintai lautan yang mencintai pucuk hidung gunung, kekasihnya.
laut hanyut melalui kali cahaya ke langit agar mampu menjatuhkan diri,
mengecup, dan meresap ke pelukan gunung. sebagian aku ada di situ.
aku bercita-cita menjadi seluruhnya, seluruh-luruhnya.

kepada ibu, aku melulu bicara perihal aku. padahal tiap saat cuma ada
kesempatan terakhir. aku tak tahu cara menjadi waktu bagi ibu. sekolah
cuma memberi makan musuhku, pikiranku. juga mengajariku jadi hujan.
ke dalam musim ibuku, aku selalu menjatuhkan diri lalu menjauhkan diri
dengan penyesalan yang pura-pura telanjang.

*

kedua mata ibuku lebih kuat daripada langit. tiap kali aku jatuh dari sana,
di bibirnya aku dibersihkan. doa ibuku pagi ini yang membangunkan kota
di mana sebentar lagi aku memejamkan mata beberapa jam di dalamnya,
atau mungkin selamanya, sedalam-dalamnya.

mati membuat aku takut memejamkan mata. aku tidak mau ibuku masuk
dalam ruangan tanpa jendela dan pintu. tetapi, kata ibuku, tubuhku butuh
terbiasa menggiring dan mengistirahatan mimpi buruk ke dalam tidur.

sungguh, kata-kata menjadi begitu gugup tiap kali aku membicarakan ibu.
seperti puisi ini: rumah goyah yang tidak mampu selesai.

makassar, januari 2012

4 thoughts on “waktu dan musim ibu

  1. copas : sungguh, kata-kata menjadi begitu gugup tiap kali aku membicarakan ibu…

    ah, saya jadi kangen ibu saya .. sigh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s