Filed under puisi 2007

Puisi tentang Doa yang Terbata-bata

Entah mengapa selalu aku bayangkan puisi ini doa seorang anak kecil yang terbata-bata. Tuhan, maukah Kau mengatakan kepada Bapak agar dia berhenti bercita-cita seperti anak kecil? Dia ingin dunia dan isinya jadi tabungan keluarga. Katanya untuk masa depan aku, padahal aku tak mau menanggung dosa itu. Tuhan, tolonglah kami! * Entah mengapa selalu aku bayangkan aku … Baca lebih lanjut

Selepas Berbincang dengan Tolstoy

Di atas satu-satunya meja milik kamar ini, Tolstoy telungkup hendak mengubur dirinya ke dalam debu. Berkali-kali sudah aku menguap. Di kepalaku meluap kantuk yang ingin melupakan bantal dan tempat tidur. Di punggung Tolstoy tiba-tiba telepon menyanyikan lagu lama itu, lagu kesukaan kita yang telah berulang kali menjadi baru melalui suara bintang-bintang muda, mengantarkan huruf-huruf yang … Baca lebih lanjut

Menelponlah, Kekasih!

O, Kekasih, pergilah ke mana saja, ke tempat paling jauh dari jangkauan mata. Berdiamlah di ujung kabel telepon. Tekan angka-angka telepon saya. Bicaralah. Jangan pernah tamatkan pembicaraan kita. Bicaralah terus. Tentang apa saja. Berpura-puralah jadi perempuan paling jahat yang tidak kenal tanda baca. Marahilah saya karena lupa berdoa usai sembahyang, karena tidak memotong kuku dan rambut, membeli novel yang salah, lupa … Baca lebih lanjut

Mengejar Kaki-Kaki Kota

Presiden mengubah sepuluh angka kalender yang berwarna hitam menjadi warna merah. Dia paham orang-orang kelelahan mengejar kaki-kaki kota yang larinya semakin laju. “Pulanglah ke desa berehat panjang,” katanya. Dan kita pulang ke desa membawa semua isi supermarket sebagai oleh-oleh, seolah-olah rindu bisa diobati dengan barang-barang itu. Di desa kita beli sawah, ladang dan gunung. Kalau … Baca lebih lanjut

Dalam Sajak Ini Ada Kota Besar Terbakar

Tak usah panik jika dalam sajak ini kau temukan sebuah kota besar sedang terbakar dilalap api. Aku sengaja. Aku membutuhkan banyak puing dan abu untuk membangun sebuah keluarga. Membakar kota sesungguhnya mengubah tumpukan sampah jadi pemandangan indah. Bukankah kau sudah lama ingin bertemu dengan diri sendiri sambil tenang membaca sajak-sajak rinduku di bawah rindang pohon? … Baca lebih lanjut

Kota: Anak Desa yang Kurang Ajar

Kota adalah anak desa yang amat kurang ajar. Tidak satu pun petuah yang dia mau dengar. Dia kira bisa dewasa dengan membakar lembar buku-buku tua dan hanya membaca surat kabar. Kota menikah dengan orang asing lalu lahir anak-anak yang setengah mati pandir dan kikir. Dia mendirikan banyak bangunan tanpa pikir, mall, hotel, bioskop, restoran dan … Baca lebih lanjut

Engkau dan Sajakku

engkau selalu sengaja memilih busana yang sederhana agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan seperti aku sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja agar makna sajakku tidak lenyap di perangkap ungkapan 2007

Seorang Lain

aku bercakap dengan kau dan seorang lain di dalam kau matanya aku tangkap mengintip dari matamu suaramu melampaui suaramu sampai di telingaku ada makna lain menumpang di maknamu bicaramu menampung kata-kata siapa? aku bercakap dengan kau dan seorang lain di dalam kau aku ingin mengenal dia, orang yang tinggal di dalam kau namun mungkin orang … Baca lebih lanjut

Doa

ingatkan aku agar sadar usiaku akan pelan-pelan berubah jadi bumi ingatkan aku seluruh tangan yang pernah menanam bebijian di ladang-tubuhku sebab aku ingin melihat mereka merayakan pesta di musim panen 2007