Filed under puisi 2006

Riwayat Dinding dan Dingin

1. kami bersandar merapatkan punggung masing-masing pada dinding. ia tiba-tiba bertanya: untuk apa dinding diciptakan? dinding, kataku, dibuat untuk memisah-misahkan. yang satu jadi dua atau jadi bilangan-bilangan berlainan, jadi kawan dan lawan, jadi ada aku jadi ada kau. sebab, sesungguhnya, sebelum ada dinding, segala sesuatu hanya satu. hanya satu. aku bangkit dan membuka daun-daun jendela. … Baca lebih lanjut

Malam Lebaran. Tebaran Hujan. Debaran Jantung.

Suara ketukan air hujan di kaca jendela kamar seperti suara ketikan surat berlembar-lembar Hujan tak sejahat yang kau duga, katanya. Oleh hujan padang rumput yang semula berona tanah menjelma hamparan hijau karpet beledu Dan rumput-rumput hijau membuat ternak-ternak riang bukan kepalang dan karenanya berubah gemuk Dari ternak-ternak gemuk datanglah sempurna irisan-irisan daging kurban yang segar … Baca lebih lanjut

Sebuah Sajak yang Tak Indah

Beginilah akhirnya yang mampu aku tuliskan; sebuah sajak yang tak indah. sebab semua kata yang dulu indah di mata-telinga telah menyembunyikan dirinya entah di mana sementara waktu telah pula mempercepat langkah seperti diburu bermacam-macam masalah. maka lihatlah betapa miskin sajak ini! seperti seorang janda yang memaksa anaknya melupakan sepatu dan tas berisi buku dan pensil … Baca lebih lanjut

Petir

apakah kau dengar petir dari balik bilik dadaku bergetar getir kau angka kalender itu-itu saja seperti seorang raja menunggu tiba kudeta sia-sialah segala suara kulontar seperti kerontang belukar menunggu bakar aku belum bertemu putus asa meski mata berkali-kali basah biarlah segala yang di luar adalah negeri asing yang bingar namun suaraku jadikan paling dengar sebab … Baca lebih lanjut

Hujan Pagi

hujan hijau bertunas-tumbuh sehabis subuh di beranda aku jadi penonton mereka jadi ranting lalu berbunga aku membayangkan kau tiba kuyup menyusup mencari hangat matahari ke dalam ringkih rengkuhku satu-dua buah jatuh dipetik lentik jari-jari angin aku pungut mengupas dan mengunyahnya kecut seperti suara sol sepatumu menjauh dari pipih pintu sambil berlari-lari dalam kota dari bangunan … Baca lebih lanjut

Mata Ibu

sejak dulu kala matamu hulu kali airnya lelehan cermin menggenangi pipi, telaga tempat ikan-ikan berenang; anak-anak yang engkau lahirkan dan tumbuh dewasa lalu melepaskan siripnya di antara batu-batu buta air itu jualah menguap ke langit sebab tak ada mulut laut mau jadi muara di ceruk pipimu, para pemancing datang bagai gelombang pengungsi dari pulau-pulau jauh … Baca lebih lanjut

Senja dan Lain-Lain

– dari catatan harian, 2001 – 2006 Pantai Losari, 1/09/2001 “aku mencintai senja,” katamu aku mendengar harapan dan apa pun di meja makan sambil menyantap sarapan aku bernyanyi sendirian Bone, 31/10/2002 sebelum matahari dihanguskan malam ibu menyalakan segala lampu di dapur, beranda, dan ruang tamu ia ketakutan pada masa lampau yang bersiap-siap dalam gelap Pantai … Baca lebih lanjut

Kereta Api

– dari catatan harian, 1994 – 2005 Aku punya tiga kereta api dalam catatan harianku Solo, 14/01/1994 Aku bertemu kereta api seminggu setelah engkau tak mau lagi bertemu Aku sungguh gugup berkenalan Engkau pernah cerita: banyak pencopet, mereka tahu betul bagaimana orang baru menyebutkan nama dan menjabat tangan, juga dompet di mana disembunyikan Di kotaku, … Baca lebih lanjut

14 Januari

:dari catatan harian 1999 – 2006 Bone, 14/01/1999 Seberapa jauh kuda waktu mampu membawaku di pelana? Hei, anak sulung tanpa ayah, beradik dua, ibumu sudah tua, cepat sekali kau tujuhbelas Mengapa anak-anak itu tak mau meninggalkan mainannya dari pekarangan dadamu? Makassar, 14/01/2001 Kalender telah menyiapkan perjamuan; segelas alkohol, angka sembilanbelas, dan teman-teman yang pergi jauh … Baca lebih lanjut