Riwayat Tiga Codet

co.det /codét/ Jk n bekas luka (pd muka, dahi, dsb)

Kamus Besar Bahasa Indonesia

 

KALI ini, aku ingin bercerita tentang codet. Semalam aku menonton Scarface, film lama Al Pacino—yang sering dikisahkan kakekku. Sebelum tidur dan memimpikan kamu, aku menulis cerita. Cerita itu lebih banyak berupa potongan ingatan, meski ada juga sedikit terselip harapan.

*

1. Yang Bakal

SUDAH matang aku pikir. Baik, aku bukalah rahasia kecil ini. Kita harus mulai belajar berbagi rahasia: sebagian rahasiaku adalah rahasiamu, dan sebaliknya. Bukan begitu? Sebentar lagi November yang basah tiba; kau akan jadi istri, aku akan jadi suami.

Hanya satu rahasia kecil sebenarnya. Tetapi setitik nila bisa membuatmu membuang susu seember. Maka inilah rahasia kecil pelik itu. Semoga kau bisa bersikap dewasa menerimanya dan tidak menumpahkan susunya. Aku tidak mau melihat mukamu asimetris setiap kali bertemu. Wajah cemberut selalu mengingatkan aku kepada seorang perawan tua yang aku benci di kampung, guruku di SMP dulu. Dia guru Agama Islam yang sangat cerewet.

Perban ini cuma penutup luka kecil, bekas kuku tajam seekor kucing nakal bernama La Bolong. Bukan luka karena berkelahi dengan preman atau lelaki lain. Tidak perlu terlalu kau risaukan. Seminggu yang lalu, malam Minggu, aku ke rumah kontrakan Halwiah, bukan menjenguk teman di Rumah Sakit.

Aku berbohong. Halwiah gadis yang belum pernah aku ceritakan kepadamu. Dia pacarku di SMA dulu. Beberapa bulan lalu aku bertemu dengannya di reuni alumni—di pintu aula sekolahku. Aku ingin keluar merokok, dia baru tiba. Sepulang dari acara itu, kami banyak bercerita, tentang kenangan tentu saja. Ternyata dia juga tinggal di kota ini. Dia bekerja sebagai teller di satu bank swasta. Dia tidak banyak berubah. Katanya, dia belum bisa jatuh cinta lagi setelah kami sepakat berpisah di acara penamatan sekolah.

Aku iba mendengar semua ceritanya. Tentang kesepiannya dan tentang hutan kenangan yang tidak bisa dia tebang. Katanya, dia menyesali keputusannya berpisah denganku dan sudah bertahun-tahun mencariku hanya untuk mengatakan penyesalan itu. Aku iba. Hanya itu.

Tetapi, maaf, aku terjerat. Awalnya hanya berjanji sesekali mengunjungi dan menemaninya makan malam. Tiga-empat kali kemudian dia memanggilku ‘sayang’. Dua-tiga kali kemudian aku juga.

Minggu lalu aku ke rumahnya, untuk mengakhiri cerita itu. Dengan jujur, aku jelaskan semuanya. November tahun ini kita—aku dan kau—akan menikah. Aku tak mau lagi membohongimu dan membohonginya. Dia marah. Dia menangis. La Bolong, kucing kesayangannya, yang awalnya dia elus-elus di pelukannya tiba-tiba dia lempar ke mukaku. Kuku kaki kiri kucing itu mencakar daguku dan kuku kaki kanannya merobek dada kiri bajuku. Waktu kau tanya kenapa ada perban di dagu kiriku, aku tidak tahu harus menjawab apa, maka kupilih menyembunyikannya. Tetapi semuanya sudah selesai sekarang, kecuali kau tak memaafkanku.

Dan luka di balik perban ini, apa pun yang terjadi dengan hubungan kita, semoga tidak meninggalkan codet yang akan mengekalkan kenangan tak sedap itu. Aku tak mau seperti Rahman dan Beddu. Dua sahabatku itu, sahabat waktu SMP, masing-masing memiliki bekas luka di mukanya dengan masing-masing cerita di baliknya.

 *

2. Yang Kekal 

INI cerita tentang Rahman dan codet di alis kanannya. Ia siswa paling berandal di kelasku dulu. Kalau aku sering mengulang-ulang kata ‘dulu’, itu karena cerita ini tentang kenangan. Kau pasti sering melihat, membaca atau mendengar cerita tentang anak nakal, entah di televisi atau buku-buku atau apa saja. Tetapi Rahman lain. Keberandalan Rahman berbeda.

Bayangkan, dia pernah mengedarkan desau-desus, dia menangkap basah Kepala Sekolah kami sedang enjot-enjotan—begitu istilahnya—dengan Bu Abidah, perawan tua menjengkelkan, guru agama kami, di Ruang UKS. Dia menempelkan lembar-lembar kertas bertuliskan ‘Horee! Bu Abidah tidak perawan lagi. Dia enjot-enjotan dengan Pak Kepala Sekolah di UKS’ di dinding-dinding sekolah. Kenakalan itu dilakukannya waktu masih duduk di kelas dua SMP.

Itu salah satunya. Rahman punya banyak ulah lain yang lebih mengerikan. Meskipun paling berandal, dia laki-laki paling dimimpikan setiap siswa perempuan di sekolah untuk dijadikan cinta pertama. Kuakui, di antara semua sahabatku, dialah yang paling gagah. Malah kadang-kadang aku merasa punya orientasi seksual lain waktu itu. Aku merasa ketampanannya membuat bakat homoseksualku berdiri. Kau pernah mengatakan bahwa semua orang berpotensi jadi homoseksual atau biseksual. Barangkali benar. Itulah sebabnya, kenapa diam-diam aku selalu ingin berada tidak jauh darinya. Setiap hari, termasuk hari libur.

Suatu waktu, saat libur, kami berkemah di bukit tidak jauh dari rumahnya, aku memeluknya saat dia tertidur dan aku merasakan kehangatan di seluruh tubuhku. Utamanya, di selangkanganku. Aku ereksi. Sudah aku bilang, aku mau belajar membuka seluruh sekat dadaku, memperlihatkan semua hal yang selama ini kusembunyikan.

Perihal codet di alis kanan Rahman, tentu ada sejarahnya. Bekas luka itu hadiah yang dia peroleh dari kenakalannya. Kau percaya atau tidak, codet itu hadiah ulang tahunnya yang ketiga belas? Ceritanya begini: saat dia tahu hari itu ulang tahunnya, dia benturkan kepalanya di gerbang sekolah. Aku menyesal mengingatkan dia berulang tahun hari itu. Masih dengan kepala berdarah, dia mengatakan akan bilang kepada ibu-bapaknya dia terjatuh dari angkutan umum. Bagi dia, itu satu-satunya alasan masuk akal agar dia bisa punya motor. Dia betul-betul nakal!

Sampai saat ini, ada saat di mana aku tiba-tiba merindukan Rahman. Meski nakal, dia sering menjadi pahlawan bagiku. Menyelamatkanku dari anak-anak nakal lainnya atau dari amarah guru yang hampir semuanya suka memukul. Dia sering mengaku dialah yang harus bertanggungjawab atas kesalahan yang aku lakukan. Meskipun sudah bertahun-tahun tidak bertemu, aku sebenarnya masih sering mendengar kabarnya. Menurut Beddu, sekarang dia masih berandalan seperti dulu.

Rahman sekarang jadi bos preman di Pasar Sentral. Dia pimpinan para pencopet di sana. Kadang-kadang aku ingin mencari lalu menemuinya, tetapi aku khawatir dia malu bertemu dengan aku. Bagaimana pun juga, dulu sebelum berpisah, dia pernah berjanji untuk berhenti jadi anak nakal.

“Ini janji seorang sahabat sejati!” katanya sambil menepuk bahuku.

Nyaris semua berita dan cerita tentang Rahman aku peroleh dari Beddu. Menurut Beddu, waktu bertemu dia nyaris tidak mengenali Rahman lagi. Tetapi codet di alis kanannya menjadi tanda yang kekal. Dan codet itu mempertegas bahwa Rahman memang seorang bajingan, membuat tampangnya menjadi lebih sangar. Rahman bukan lagi Rahman. Sekarang dia dipanggil Bang Codet oleh orang-orang di sana, kata Beddu kepadaku sambil tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala. Sebelum berpisah dengan Beddu, Rahman menitip salam kepadaku dan berpesan sekiranya aku atau istriku—dia mengira aku sudah menikah—kecopetan ponsel atau dompet di Pasar Sentral, naik saja di lantai paling atas dan cari Bang Codet di sekitar penjual bakso. Hanya ada satu penjual bakso di situ, katanya. Dalam hitungan detik benda yang hilang akan kembali.

Kau pernah kecopetan di Pasar Sentral, tidak? Kalau pernah, beritahu dan aku akan ke sana mencari Rahman lalu menyuruhnya mengembalikan uangmu sepuluh kali lipat. Satu hal lagi tentang Rahman yang ingin aku katakan kepadamu. Sekarang dia punya tujuh istri. Rukun dan tinggal serumah. Kau tahu kenapa perempuan-perempuan itu mau dimadu Rahman? Karena Rahman gagah dan pemberani. Jangan khawatir, kau tidak akan aku madu. Bukan karena aku jelek dan penakut, tetapi karena hanya kau satu-satunya perempuan yang aku cintai. Sungguh.

 *

3. Yang Tidak Kekal 

SEKARANG akan aku ceritakan perihal Beddu. Beddu tidak susah ditemui. Dulu, aku bisa menemuinya setiap hari, atau kapan pun aku mau. Aku tahu dia tinggal di Jl. AP. Pettarani. Dia mengontrak sepetak kamar di sana. Setiap hari Beddu mangkal di Kilo Empat. Di sana, dia mengemis. Jangan terlalu cepat berkesimpulan macam-macam dulu! Segala sesuatu ada riwayatnya sendiri. Aku akan menceritakan semuanya.

Meskipun dia hanya seorang pengemis, penghasilannya bisa sampai 250 ribu rupiah. Per hari. Kau harus percaya. Sebab aku melihatnya sendiri. Kenapa dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu setiap hari sementara para pengemis lain yang juga ada di sana hanya bisa mendapatkan paling banyak 10 ribu rupiah? Codet.

Setiap orang yang lewat di Kilo Empat, dan melihatnya, akan menjatuhkan uang karena iba ke tangan Beddu yang tengadah. Kalau kau tidak percaya, tetapi kau harus percaya, aku akan ceritakan sebuah riwayat. Beddu dan codetnya.

Ibunya menjanda ditinggal suami ke Malaysia saat Beddu masih berumur 7 bulan. Ayahnya tidak pernah pulang dan tidak ada kabar mati atau tidak mati. Ibunya yang masih muda dan bergairah akhirnya menikah lagi dengan seorang duda yang jago memanjat pohon kelapa. Beddu benci ayah barunya. Aku tidak tahu alasan kenapa dia membenci ayah tirinya. Tetapi, bukankah selalu ada sesuatu yang tidak perlu jelas?

Karena benci dan jijiknya, dia mengajak ayah tirinya berkelahi. Sebelum bercerita tentang perkelahian itu, aku mau bilang kepadamu Beddu orang paling sabar yang pernah aku kenal. Mereka betul-betul berkelahi. Tidak main-main. Ayah tirinya, yang tidak bisa menahan marah ditantang berkelahi seorang anak SMP, mengambil parang dan mencoba menebas leher Beddu. Beruntung tebasan parang itu meleset. Namun ujung yang tajam itu mengenai pipi kiri Beddu dan menyisakan luka—yang kelak menjadi codet di sana.

Tetapi cerita tentang Beddu dan codetnya tidak berhenti di situ. Kau tahu? Codet oleh parang ayah tirinya itu, dia bawa ke kota ini. Awalnya, aku tidak tahu kenapa—dia juga tidak pernah tahu—di codet itu lalu tumbuh semacam bisul yang semakin hari semakin besar dan bernanah. Belakangan dia tahu, bisul raksasa itu ternyata tumor. Tumor yang menggantung itu menghapus codet dan membutakan mata kirinya.

Aku pernah ingin membantu mencari orang yang mau meringankan bebannya. Aku katakan di mana-mana bisa dengan mudah kita temukan donatur. Di majalah atau di stasiun televisi. Aku juga pernah bilang siapa tahu orang-orang Dinas Sosial mau membantunya. Tetapi dia malah marah. Sangat marah. “Kau ingin membunuhku, Mar?” Aku yakinkan dia, dunia kedokteran sekarang sudah canggih sehingga dia bisa sembuh, sehat dan selamat. “Aku tahu itu,” katanya membentakku, “tetapi aku hidup dari tumor ini. Aku makan dari sini. Kau harus tahu, tumor ini harta milik yang paling kusayangi.” Dia menangis. Aku pikir dia aneh dan bodoh.

Dia bilang tidak dua atau tiga kali ada orang kaya datang kepadanya ingin membantu mengangkat tumor itu. Dia tidak pernah mau. Dia selalu menolak. Dengan tumor itu, dia masih mampu makan dan bertahan hidup. Aku bilang, dia bisa mendapatkan pekerjaan lain setelah tumor itu diangkat.

“Pernahkah kau berpikir tumor itu justru akan membunuhmu lebih cepat? Lihat, mata kirimu sudah tidak ada! Besok mungkin nyawamu.”

Dia hanya tertawa.

“Bukankah hal itu justru membuat segalanya akan jadi lebih baik, Mar?”

Aku sangat tidak mengerti.

“Kau masih juga menyimpan dendam bodoh itu? Tidak ada gunanya!”

Dia diam.

Dua minggu lalu, aku ketemu Beddu. Dia datang ke kontrakanku. Dia membawa sekantong plastik uang. Isinya 35 juta rupiah. Lebih. Kau percaya? Awalnya aku tidak bisa percaya. Aku kira dia telah merampok seseorang kaya. Barangkali walikota, anggota dewan, atau seorang pengusaha entah siapa.

Dia jelaskan sambil menangis. Dia kumpulkan uang itu selama sebelas tahun hidup sebagai pengemis. Uang itu dia titipkan kepadaku.

“Mar, kau satu-satunya temanku yang kenal siapa keluargaku. Aku ingin minta bantuanmu. Tolong, kalau kau pulang kampung lebaran nanti, atau entah kapan, bawa uang ini dan berikan kepada ibu-bapakku. Katakan kepada bapakku aku minta maaf atas semua kekurangajaranku. Minta kepadanya menjaga ibuku baik-baik,” dia berhenti sejenak.

Aku ikut menangis. Kami menangis.

“Kau lihat, Mar! Bekas luka parang bapakku sudah lama hilang. Aku juga seharusnya melupakan dendam bodoh itu, seperti katamu. Mar, ada seorang keturunan Tionghoa ingin membantu mengangkat tumor ini.”

Aku memeluknya tanpa menunggu dia jeda bicara.

“Ini sedikit uang untukmu. Ini bukan hasil merampok. Anggap saja ucapan terima kasih, karena kau siap menolongku menyampaikan uang itu ke orangtuaku.”

Dia menyodorkan uang, barangkali satu atau dua juta, aku tak tahu. Aku menolaknya.

“Simpan saja untuk beli obat, Du!”

Beberapa hari lalu, aku membaca berita kecil di koran pagi. Operasi pengangkatan tumor di pipi kiri Beddu berhasil. Tetapi kemarin, di koran yang sama, aku baca kabar Beddu dikeroyok preman di Kilo Empat. Dia meninggal.

*

SETELAH menonton Scarface, film kesukaan kakekku itu, aku terkenang lagi kepada Beddu. Aku pikir kau harus tahu hal yang bisa membuatku sedih dan bahagia. Untuk itu aku ceritakan semua ini kepadamu. Sebentar lagi November tiba. Kau akan jadi istriku. Aku akan jadi suamimu. Sebagian rahasiaku adalah rahasiamu, dan sebaliknya. Sebaiknya.

*

Catatan:

Cerita di atas saya tulis tujuh tahun lalu, sewaktu masih mahasiswa, ketika melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata Profesi di kantor Dinas Sosial Kota Makassar. Saya bertemu seorang pengemis dan terpikir menulis kisah itu. Saya menemukan cerita ini di folder yang sudah jarang saya buka. 

Iklan

2 thoughts on “Riwayat Tiga Codet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s