kata nanti kinan

minggu pertama ramadan lebih banyak saya habiskan dengan menyunting satu buku kumpulan cerita yang semoga segera terbit. setelah lima tahun, akhirnya saya akan menerbitkan lagi satu buku prosa sendiri. selama ini, selain buku puisi, karya-karya prosa saya lebih banyak terbit sebagai antologi, proyek kumpulan cerita pendek bersama sejumlah teman.

di sela-sela proses menyunting naskah kumpulan cerita itu, saya kembali melirik satu naskah prosa saya lainnya, yang setahun terakhir ini saya biarkan tidak tersentuh. akun twitter saya, @hurufkecil, sebenarnya lahir karena ide membuat naskah itu. proyek itu berjudul: kata nanti kinan. semacam mengembangkan timeline jadi novel.

untuk menyemangati diri sendiri, saya akan memajang sejumlah potongannya di sini.

*

1. genangan kenangan

pada akhirnya adalah awal kenangan. ketika seseorang menyentuh aku pertama kali, aku mengingatkan diri sendiri: ada yang akan menjadi kenangan. kalimat serupa itu aku kecupkan ke benakku kali pertama matamu menyentuh mataku. sebagai seorang perempuan yang gampang tergesa, begitu cara aku belajar waspada—meski aku akui tidak selalu berhasil.

*

bagiku kenangan adalah bukti yang baik untuk mengatakan tidak ada yang utuh di bumi ini—bahkan kehilangan. pula, kenangan adalah cara waktu mengatakan kepada aku ada sejumlah hari yang tidak pernah menemukan sunset, ada bulan atau tahun yang tidak pernah berakhir, dalam hidupku.

*

setelah seseorang yang aku cintai pergi, aku adalah bagian dari dirinya yang tertinggal di diriku. dan sebaiknya dan sebaliknya. di hadapan cermin atau jendela, kadang aku berpikir bahwa diriku tidak lebih sekumpulan orang yang aku cintai. bagian terbesar diriku yang tunggal, kini adalah dirimu yang sudah lama tanggal.

*

waktu kecil, ketika aku berada jauh dari orang-orang yang aku cintai, aku sering berpikir barangkali ada langit yang lain—entah di mana. kadang kala aku merasa diriku dan mereka tidak berada di bawah langit yang sama. itulah yang aku rasakan kini. kau entah mendongak memandang langit yang mana ketika sedang sendiri. sementara, aku di sini, setiap hari ditudungi langit yang memendung—langit yang tidak ubahnya pertanyaan yang sia-sia tapi tidak hendak putus asa. bukan cuma bertanya perihal di mana gerangan langitmu, kini aku sering membayangkan kehilangan diri sendiri—aku dan diriku tidak mengetahui langit kami masing-masing.

*

betapa pun aku sering belajar dari kehilangan demi kehilangan, aku tetap sering merasa terperangkap dalam satu hubungan seperti ini. aku cuma punya pensil. kau cuma punya penghapus. sementara cinta cuma sehelai kertas.

*

perihal yang menyakitkan adalah perih yang menguatkan. begitulah. berulang kali aku cuma kehilangan orang yang mencintai aku, namum tidak pernah kehilangan orang yang aku cintai. tetapi alangkah sakit membayangkan hal serupa terjadi pula padamu—meskipun kau tidak kehilangan keduanya.

*

barangsiapa yang menganggap masa lalu sebagai bencana akan tinggal di masa depan sebagai pengungsi. kepada masa lalu bersama kau, aku ingin bersahabat. bahkan yang paling sakit telah berubah dan tumbuh menjadi kenangan indah. aku percaya, kenangan indah adalah hal-hal yang berakhir tepat waktu.

*

2. rindang rindu

waktu kecil, aku menyaksikan ibuku bertahan hidup bertahun-tahun menanggung beban rindu. ayahku pergi ke alamat yang tidak dikenal surat. pada suatu hari, aku melihat ibuku menangis. sejak hari itu, aku berharap bisa punya pabrik pengalengan rindu. aku ingin ada tanggal batas rindu layak dikonsumsi. aku tidak ingin melihat jiwaku dan jiwa siapapun sakit atau keracunan rindu yang kelelahan menunggu.

*

aku tidak selalu punya pertemuan kedua. aku ingin selalu belajar berbaik hati dari kenyataan menyedihkan itu. aku tidak ingin membiarkan orang lain hidup dengan kesan buruk dari pertemuan pertama tentang aku—dan, utamanya, sebaliknya. tetapi kau dan aku memiliki ribuan pertemuan sebelum ini, sebelum bertahun-tahun aku rindu pertemuan sekali lagi.

*

kata ‘pulang’ selalu terdengar jauh lebih indah daripada ‘pergi’. tetapi orang harus rindu untuk bisa menikmati keindahan pulang. barangkali itu alasan yang membuat kau pergi dariku, dari orang yang mencintaimu. semoga kau, seperti aku, menyukai lembab senyum seorang yang gemetar berdiri di hadapan seorang yang pulang.

*

pada saat-saat tertentu, ketika merindukan kau misalnya, aku menemukan tuhan untuk aku sembah. kadang aku menamakan dia sakit yang nikmat dan tidak mau sembuh.

*

di antara milyaran manusia, kadang datang saat ketika aku merasa tidak punya siapa-siapa. tetapi, kata ibuku ketika mengajari aku sembahyang, berdoa adalah menyadari bahwa kita tidak sendiri. mengingat juga berdoa. pada saat rindu, aku juga meyakini bahwa mengingat kau adalah cara menyelamatkan hidup seseorang. hidupku.

*

seluruh ketiadaan kau adalah kesunyian. jika aku menikmatinya, ia bernama kesunyian. jika aku tidak menikmatinya, ia bernama kesepian. dulu, aku dan kau selalu berbincang perihal kesunyian. sekarang, aku dan kesunyian selalu berbincang perihal kau.

 *

….

3. hangat mengingat

seringkali aku memilih tinggal di pikiranku—tempat yang nyaman memandang segala sesuatu dari ketinggian. pikiran aku tempat yang melulu cuma ada aku—atau orang-orang yang aku inginkan menjadi aku. pada saat seperti itu, aku merasa tempat terjauh dari diriku adalah hatiku. aku tidak bicara perihal kau, sebab aku mengingat kau dengan hatiku.

*

aku menyukai kekosongan. tanpa kekosongan, aku tidak tidak ada. tanpa kekosongan cincin, perkawinan tidak mampu melingkari jari manis ibuku. tanpa kekosongan dalam diriku, tidak ada orang yang hidup dan saya cintai di dalam saya. bagaimana aku mampu memenuhi diriku dengan dirimu, jika tidak ada kekosongan di dalam aku? mengingat kau adalah cara mengisi kekosongan.

*

….

4. lengang lengan

salah satu perihal mengharukan hidup ini adalah kenyataan bahwa setiap keluarga harus punya dan tinggal di rumahnya masing-masing, apapun yang mereka pahami sebagai rumah. tetapi aku selalu membayangkan pelukan adalah rumah—yang tidak terlalu besar, hangat, dan pintunya tidak terkunci. di rumah sederhana itu, selamanya aku ingin menampung kau juga tempat menumpang semua orang.

*

betapa pemberani sehelai daun melepaskan diri dari lengan pohon yang dia cintai. alangkah indah caranya menjatuhkan diri. aku sering cemburu kepada daun. setiap kali aku menyadari tidak mampu menjadi daun, aku membayangkan diri jadi ekor layang-layang. meskipun lenganmu menggenggamku, aku bisa menari di keluasan udara yang tinggi dan lapang. tetapi aku kini cuma tubuh tanpa lenganmu.

*

….

*

itu sedikit penggalan-penggalan dari empat bagian pertama ‘kata nanti kinan’. saya berharap proses menyuntingannya kelar sebelum ramadan kali ini usai. aamiin.

p.s. jangan lupa beli ya nanti! hahaha.

15 thoughts on “kata nanti kinan

  1. mas huruf kecil, aku bertinggalkan tempat dijakarta tepat nya di cilengsi dan sekitar sini. sudah lama aku menantikan buku buku mu, aku tak dapat setelah beberapa toko buku ku kunjungi jawaban mereka tidak ada. 2 buku terbitan mu sudah ku cari namun tak dapat. bisa kah kau berikan aku alamat rekening mu ? aku ingin mendapat kan nya… dan mengirimkan nya ke alamat ku…
    tolong dan terimakasih
    sheila

    • buku saya bisa dipesan via akun twitter @katabergerak atau silakan kirim email pemesanan ke katabergerak at gmail dot com. itu penerbitnya. terima kasih.

      • hey aan,sepertinya kamu hanya membalas komen orang-orang yang mungkin penting,aku suka tulisanmu,setiap hari aku membaca tulisanmu,dikantor,dikamar,dimana saja selama bufer tidak menggangguku. Aku juga memperhatikanmu,semoga ini hanya perasaanku saja,benar atau tidak aku tau ini bukan perkara penting,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s