adrainy

 Oleh Reni Umbara 

“Ini masih Aan yang penyair dan penulis, bukan?”

Sekalimat sindiran yang spontan diucapkan atau lebih tepatnya diketikkan dalam percakapan saya dengan Aan Mansyur itu ternyata mengantarkan saya lebih dekat kepada beratus-ratus judul puisi. Belajar berkenalan, walaupun setelah beberapa kali pertemuan, puisi bagi saya tetaplah asing. Puisi – puisi yang berkali-kali saya baca adalah puisi pada dua buku Aan Mansyur yang terbit 2012; Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (selanjutnya disingkat TTYMKDSC) dan Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini? (selanjutnya sebut saja Pelukan)

Saya tidak ada kapasitas untuk menilai puisi sesuai teori-teori atau membandingkan karya penyair satu dengan penyair lainnya. Maka saya memilih membaca puisi seperti menikmati kopi di senja hari. Duduk di beranda dengan pikiran kosong, menatap langit yang berubah warna. Menghirup aroma kopi. Menyesapnya perlahan. Membiarkan lidah mengenali pahit, getir, asamnya kopi dan manisnya gula. Setelah itu menunggu reaksinya dalam tubuh. Menyegarkan? Atau malah membuat…

Lihat pos aslinya 579 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s