Puisi-Puisi Cinta Ini Berharap Bisa Memeluk Kamu Segera


*

dunia yang lengang

sebuah usaha, agar orang-orang
lebih banyak bicara dengan mata,
pemerintah membuat aturan ketat.
setiap orang hanya berhak memakai
seratus tiga puluh kata per hari, pas.

jika telepon berdering, aku meletakkan
gagangnya di telingaku tanpa menyebut halo.
di restoran aku menggunakan jari telunjuk
memesan mi atau coto makassar. aku secermat
mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat.

tengah malam, aku telepon nomor kekasihku
di jakarta, dengan bangga aku bilang kepadanya:
aku menggunakan delapan puluh sembilan
kata hari ini. sisanya kusimpan untukmu.

jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti
ia telah menghabiskan semua jatahnya,
maka aku pelan-pelan berbisik: aku
mencintaimu. sebanyak lima belas kali.

setelah itu, kami hanya duduk membiarkan
gagang telepon di telinga kami dan saling
mendengar dengus napas masing-masing.

*

sajak saat hujan

jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang, sudah kugulung benang-benangnya dan kugunting bagian yang tak kuingin.

hari itu, hujan curah tak deras namun lama. kaca jendela berembun hingga tak perlu juntai tirai sebagai selubung. tak ada orang yang akan melihat kita, bisikmu. lalu kau buka kancing-kancing baju dengan tangan gemetar, memperlihatkan kerumunan tahi lalat yang kau rahasiakan di sisi kiri payudaramu yang perawan menawan. kau tuntun tanganku menghitungnya satu persatu, tetapi aku gagal menyebut jumlah.

setiap hujan seperti ini, aku berkeringat teringat hangat tubuhmu. meski kukatup mata sepenuh tutup, sedikitpun tak ada terlupa. seluruh benar-jelas-selalu.

tahi lalat yang tak pernah aku tahu jumlahnya itu, kini menjelma jutaan belatung yang tak kenal kenyang. usiaku hanya bangkai-bangkai kucing dan anjing.

jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang, pada saat-saat hujan begini, sudah ada seorang lain perempuan. sebelah pahanya jadi bantal, sebelah tangannya mencabut uban-uban

di ubun-ubunku.

*

kepalaku: kantor paling sibuk di dunia

                                                            —alifiah

engkau tahu? kepalaku: kantor paling sibuk di dunia. anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana. tak mengenal hari minggu atau hari libur nasional. tak pula mengenal siang dan malam. tak mengenal apa-apa kecuali bekerja, bekerja, bekerja dan bekerja.

kadang-kadang ingin sekali suatu pagi melihatnya dating menyodorkan sehelai map berisi surat permohonan cuti. ingin pergi ke satu tempat yang jauh, mengasingkan diri beberapa hari di awal desember yang lembab sembari merayakan hari ulang tahun sendiri. lalu di depan pintu kantor terpasang sebuah tanda berwarna merah: tutup.

tetapi ia betul-betul seorang pekerja keras. setiap saat ia berada di kantor. mungkin hendak menyelesaikan seluruh persoalan waktu yang tidak pernah mampu selesai itu. tentang masa lampau yang tersisa di masa sekarang. tentang keinginan berhenti atau tak berhenti. juga tentang perihal lain yang sepele namun sungguh rumit buat dijelaskan.

ya, percayalah. kepalaku: kantor paling sibuk di dunia. anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana.

engkau saja.

*

sajak buat istri yang buta
dari suaminya yang tuli

maksud sajak ini sungguh sederhana.

hanya ingin memberitahumu bahwa baju
yang kita kenakan saat duduk di pelaminan
warnanya hijau daun pisang muda, tetapi
yang membungkus kue-kue pengantin
adalah daun pisang tua. memang keduanya
hijau, tetapi hijau yang berbeda, sayang.

di kepalamu ada bando berhias bunga,
kau merasakannya tetapi mungkin tidak
tahu bunga-bunga itu adalah melati putih.
sementara di kepalaku bertengger sepasang
burung merpati, bulunya juga berwarna putih.

aku selalu mengenangkan hari itu, kita
adalah sepasang pohon di musim semi.
kau pohon penuh kembang. aku pohon
yang ditempati burung merpati bersarang.

aku lihat, orang-orang datang dan tersenyum.
mereka berbincang sambil menyantap makanan.
tapi aku tak dengar apa yang mereka bincangkan.
maukah kau mengatakannya kepadaku, sayang?

*

tiga catatan terakhir

1.

di dalam sebuah pejam
aku saksikan sepasang mataku
menghamburkan jutaan
kunang-kunang. kuning
seperti daun lerai dari ranting.

kunang-kunang itu berkerumun di ujung-ujung
jari tanganku menyematkan ciuman terakhir
sebelum terbang berkilau-kilauan di udara.

kunang-kunang itu melanglang mencari sepasang
matamu yang berada dalam sebuah pejam yang lain
pejam yang telah lama direncanakan alam dan malam.

dan engkau menyangka kunang-kunang
yang masuk ke matamu adalah mimpi,
mimpi yang engkau duga-duga maknanya.

namun pada saatnya engkau akan tahu,
kelak kunang-kunang itu terbang
hinggap di kelopak pipimu
setiap kali aku engkau kenang.

2.

tiba-tiba mampu aku pahami
seluruh yang pernah datang
bertandang ke dua mataku
bahkan yang aku duga mimpi.

tiba-tiba aku jatuh cinta
melebihi seluruh jatuh cinta
yang pernah menyakiti dadaku. namun

ketika ingin aku katakan pada telingamu
aku tak lagi memiliki suara,
ketika ingin aku katakan pada matamu
aku tak lagi memiliki cahaya.

3.

melalui lubang pepori kulitku, air resap perlahan
membentuk sungai-sungai kecil di tubuhku.

sungai itu mencari rongga dadaku
mencari lautan yang pernah dipenuhi
ribuan ikan mungil peliharaanmu.

sesaat sebelum mataku dikatup
dan peti matiku ditutup,
sungai-sungai itu meluap,
menguap ke langit lapang,
langit yang selalu engkau pandang
sambil menggigit bibir sendiri
dengan mata bergenang-linang.

sebab engkau tak mau lebih manja
dari langit di bulan-bulan hujan.

tetapi tidak. kelak langit dan dirimu
sendiri akan memaafkan semua
kesedihan yang engkau ciptakan
dari kematianku.

*

pelukan

1

sudahkah kau memeluk dirimu hari ini?

masih aku ingat pertanyaanmu itu
dulu aku tak bisa menjawabnya
tetapi begitulah kau, selalu begitu,
jika ada pertanyaan kau lontarkan
sudah kau siapkan juga jawaban

lenganmu memang terlalu pendek buat tubuhmu
tetapi tentu saja cukup panjang buat tubuhku

lalu kau merasuk ke dalam pelukanku
dan berdiam di sana

masih kau simpan pelukan itu?

kita bertanya serempak
lalu sama-sama terbahak

pelukanlah satu-satunya
jawaban atas pertanyaan itu

lalu benam kita ke dalam kenangan

2

istriku lebih suka memeluk dari pada berkata-kata:

aku mencintaimu, nak!
aku mencintaimu, pak!

seolah-olah dua lengannya
bisa menyampaikan semua rahasia

anak-anak kami tumbuh
lebih mencintai lengan dari pada kata-kata

itulah sebabnya istriku setiap malam
berdoa agar ia bisa jadi seekor gurita
dan semua kami bisa masuk ke dalam
pelukan tangan-tangannya

3

satu per satu tubuh
akan lepas dari pelukan

lalu lengan-lengan kita
mulai mengenal sengketa
mulai mengenal senjata

tubuh memang ditakdirkan
awalnya jadi milik pelukan
lalu kemudian milik peluru

*

lubang untukmu

aku ingin jadi lubang di jalan raya
agar kau melangkah penuh waspada
dan lututmu tak berdarah karena jatuh
seperti masa kanakmu yang lincah dulu.

aku ingin jadi lubang di ibu jari kaus kakimu
agar kau bisa tersenyum saat melepas sepatu
dan lelahmu hilang di palung lesung pipitmu.

aku ingin jadi lubang di dinding kamarmu
agar kau tak pernah luput mengenakan selimut
sebelum tidur dan kau aman memeluk mimpi.

aku ingin jadi lubang tanam bagi mayatmu
agar kau dan aku bisa sempurna menyatu.

*

jika kau terpaksa berpisah dengan aku atau kau menanggalkan janji dan meninggalkan aku, mungkin dengan seorang lain kau menikah kemudian ke sebuah kota jauh kau pindah mengikuti suami kau yang bekerja di sana

sungguh-sungguh, seluruh sisa usia yang aku punya habis hanya buat menyatakan mimpi masa kecil aku: pemain biola, perancang busana dan penulis obituari. ketiganya selalu kau namai lelucon yang tidak mampu membuat seorang pun di dunia tertawa, termasuk diri kau (meski setiap usai mengatakan itu kau sakit perut tertawa)

kalender atau waktu atau apapun namanya akan menjerumuskan kau jadi renta dan lupa pada ciuman yang aku dan kau curi di toilet mesjid, sebuah es krim yang aku dan kau jilat bergantian dan bahkan nama aku yang hurufnya hanya sedikit

aku terus menggesek senar biola atau mengawinkan benang dan kain atau mengata-ngatai kematian dan sebab itu seluruh kau masih jelas bahkan huruf terakhir yang kau sebut kali pertama menjanjikan kesetiaan

suatu kala kelak kau tak akan pernah tahu pakaian yang kau kenakan dijemput maut pernah membuat jemari aku tertusuk mata jarum berkali-kali saat menjahitnya

suara biola yang mengantar mayat kau ke pemakaman: tangis aku

juga tentu saja aku menuliskan obituari singkat untuk kau yang dimuat di koran persis di samping obituari aku sendiri

*

ketika kelak kisah aku dan kau difilmkan adegan ini harus hadir sebelum muncul kata tamat, sebelum sejumlah nama itu berjejatuhan ke atas seperti hujan yang kembali ke langit, sebelum lampu dinyalakan dan entah kenapa mata penonton berair banyak

aku dan kau berhadap-bersitatap. rapat. aku pelan-pelan membuka kacamata kau saat kau pelan-pelan membuka kacamata aku. lalu tiba-tiba di mata aku kau samar, sama samarnya aku di mata kau. seperti seseorang yang mendekat datang atau seperti seseorang yang hendak hilang

(di atas meja, di dekat bingkai jendela yang penuh bangkai senja, sepasang kacamata aku dan kau asyik membaca larik-larik sajak cinta di sebuah buku yang terbuka)

*

sebetulnya ini hanya semacam rangkuman atas sejumlah pertanyaan dan penyataan yang kau katakan suatu malam di balkon belakang sebulan sebelum kau mati yang, aduh, sungguh malu aku menyebutnya puisi, sebab kata-kata aku belum makan seharian seperti buruh yang dililit hutan kredit sehingga terlalu lemah untuk tumbuh menjadi puisi

mengapa kau tak pernah bertanya bagian mana dari tubuh kau yang paling senang aku cium? aku ingin sekali mengatakan jawaban: aku paling senang mencium jempol kaki kau sebab meski jauh suara-suara jantung kau di situ selalu masih bisa mengatakan kau akan terus hidup untuk aku

jika aku betul-betul menikah dengan lelaki yang tak mampu membuat aku berhenti mencintai kau itu, bolehkah aku menuliskan tato, nama kecil kau, di payudara aku? agar di malam pertama lelaki itu menangis seperti anak-anak dan aku tak akan ke mana-mana selain ke dalam malam-malam kau

menurut kau, apakah akan lahir sebuah fatwa haram mencintai seseorang jika aku dan kau dikuburkan saling berpelukan dalam sebalut kafan?

*

sajak dengan huruf tak cukup

aku merasa selalu saja ada huruf
hilang dalam sajak ini,
serupa gigi depan tidak lengkap.

tetapi tanggalnya satu, dua, atau tiga,
menggenapkan senyum gadis kecil
dan karenanya menggoda kita
mencium pipinya berkali-kali

maka aku terus menulis agar kau tahu
bahwa semua yang sempurna
adalah ketidakcukupan.

begitu juga cinta yang setia
bermain-main di sini,
bagimu

yaitu sajak dengan huruf tak cukup.

*

cinta

cinta adalah gugurnya bebaris gerimis
untuk selengkung pelangi yang barangkali

cinta adalah jatuhnya reranting kering
untuk setumbuh tunas yang mungkin

cinta adalah turunnya malamhari
untuk seterang pagi yang matahari

cinta adalah sementaranya pergi
untuk sebuah datang yang abadi

*

surat cinta yang ganjil

1. cintaku yang besar, cintaku yang tulus,
2. telah hilang, menguap, dan kini rasa benciku
3. berkembang setiap hari. ketika melihatmu,
4. aku tak ingin lagi melihat wajahmu sedikitpun;
5. satu hal yang sungguh ingin aku lakukan adalah
6. mengalihkan mata ke gadis lain. aku tak lagi mau
7. menikahkan aku-kau. percakapan terakhir kita
8. sungguh, sungguh amat membosankan dan tak
9. membuat aku ingin bertemu kau sekali lagi.
10. selama ini, kau selalu memikirkan diri sendiri.
11. jika kita menikah, aku tahu aku akan menemu
12. hidupku jadi sulit, dan kita tak akan menemu
13. bahagia hidup bersama. aku punya satu hati
14. untuk kuberikan, tapi itu bukan sesuatu
15. yang ingin aku beri buatmu. tiada yang lebih
16. bodoh dan egois dari kau, kau tak pernah
17. memerhatikan, merawat dan mengerti aku.
18. aku sungguh berharap kau mau mengerti
19. aku berkata jujur. kau akan baik sekali jika
20. kau anggap inilah akhirnya. tidak perlulah
21. membalas surat ini. surat-suratmu dipenuhi
22. hal-hal tak menarik bagiku. kau tak punya
23. cinta yang tulus. sampai jumpa. percayalah,
24. aku tak peduli padamu. jangan pernah berpikir
25. aku masih dan akan terus menjadi kekasihmu.

catatan:
tiap baris surat ini sengaja diberi angka, agar kau
bisa membedakan baris ganjil dan baris genap.
baca baris-baris ganjil saja, hapus baris selebihnya.
sesungguhnya, ini sehelai surat cinta yang ganjil.

*

selama dua jam aku berpikir tentang pikiran kamu

di dekat jendela, di kursi 25a sriwijaya, aku mengikat diri.
ini perjalanan dari makassar ke jakarta, penerbangan dari timur
ke barat melintasi langit oktober yang bingung pada perangai
sendiri. aku tak mampu terpejam dan bermimpi, selama dua jam
aku cuma mampu berpikir tentang pikiran kamu.

pikiran kamu seperti langit—lapang dan senang berubah warna.
aku cuma penumpang dari balik jendela pesawat, seorang yang takut
pada ketinggian tetapi mengabaikan petunjuk penyelamatan diri
yang diperagakan pramugari dengan tidak sungguh-sungguh.

aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang kamu gunakan
bertanya mengapa penerbangan selama dua jam yang berangkat
dari makassar pukul 09.10 akan tiba di jakarta pukul 10.10? pikiran
yang sama kamu gunakan menjawab: sebab penerbangan dua jam pulang
dari jakarta pukul 11.11 akan tiba di makassar pukul 14.11. aku merasa
sebagai pemenang dalam perhitungan itu. aku berangkat ke kotamu
melawan waktu, perjalanan dua jam hanya kutempuh satu jam kadang
terasa cuma sepejam—tetapi kembali ke kotaku harus aku bayar
dengan perjalanan yang jauh lebih lama.

aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang kamu gunakan
bertanya tentang kota yang terbuat dari kemacetan dan korupsi,
menteri-menteri yang diganti dan tidak diganti, juga presiden
yang gampang diserang rasa prihatin kepada diri sendiri. pikiran
yang sama kamu gunakan bertanya apakah aku sebaiknya dipertahankan
atau dilepaskan, diganti lebih lekas atau dibiarkan bertahan dalam ruang
antara sudah selesai atau masih andai.

aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang disebut orang tuamu
sebagai rumah sakit bersalin. selalu ada anak yang lahir—cerita, puisi,
dan pemberontakan-pemberontakan yang kamu gunakan untuk menyakiti
diri sendiri. pikiran yang bagi lelaki seperti aku kadang tempat berlibur,
hanya nyaman buat berakhir pekan atau menenangkan diri beberapa hari.
atau kadang-kadang satu-satunya tempat tinggal layak huni di bumi.
tetapi kemudian aku duga tempat di mana aku pernah ditunggalkan
lalu ditanggalkan dan ditinggalkan pemiliknya sendiri.

aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang sering menolak dikecup
dan ditakar dengan jawaban-jawabanku. pikiran yang malah lebih sering
memilih terpekur memeluk pertanyaan-pertanyaan sendiri.

pikiran yang kadang halaman rindang, kadang hutan yang
pohon-pohonnya belum ditebang, kadang cuma ladang-ladang
kerontang.

pikiran yang pernah mengabaikan siapapun kecuali aku.
pikiran yang pernah berniat selingkuh. pikiran yang gampang
goyah tetapi gamang memutuskan sesuatu dan aku.

aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran selapang langit,
yang lihai melukis matahari, purnama, bulan kesiangan,
namun dihantui gerhana.

pikiran yang berhadap-hadapan dengan lautan, yang selalu dahaga,
selalu siaga menumpahkan sesuatu yang basah seperti kesedihan.

aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang dilintasi pesawat
yang bergetar karena cuaca buruk yang datang tiba-tiba. pikiran
yang dilintasi pesawat yang di dalamnya ada seorang duduk di dekat jendela,
memandang langit oktober yang bingung pada perangai sendiri, seorang
yang takut pada ketinggian tapi mengabaikan petunjuk penyelamatan diri—
seseorang yang rela jatuh melayang tanpa parasut di pikiran kamu.

aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang barangkali sedang ragu
mengecupkan kabar apa ketika lelaki yang duduk di kursi 25a itu selamat
tiba di bandara soekarno-hatta.

aku berpikir tentang pikiran kamu. pikiran yang sibuk menduga
apa maksud puisi yang dibacakan lelaki yang dalam perjalanan
sibuk berpikir tentang pikiran seseorang agar bisa menulis
dan membacakan sesuatu di acara peluncuran buku sajak cinta.

Catatan: 14 judul puisi (sesuai tanggal lahir saya) di atas saya ambil dari 128 judul puisi yang ada di himpunan puisi terbaru saya, Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini?. Keempatbelas puisi itu secara acak saya comot dari empat bab yang ada di buku yang bisa dipesan via @katabergerak itu. Lebih detil mengenai buku tersebut, silakan baca postingan saya ini.

Iklan

19 thoughts on “Puisi-Puisi Cinta Ini Berharap Bisa Memeluk Kamu Segera

  1. Ping-balik: Kepalaku: kantor paling sibuk di dunia « dandelion notes

  2. Hi Aan Mansyur. I am felt in love with your words. I’m kiera dr Malaysia dan berminat untuk mendapat apa jua karyaa buku dari kamu. Ada di jual di Malaysia?

  3. Dan Cerita Cinta kita takkan lekang oleh masa
    Membawa dari peraduan dan kemanapun,
    Mendedikasikan untuk ketergilaan Cinta,
    Penuh darma dan kasih,

    Saat Cinta di restui takdir,
    Saat perjuangan mulai se jalan dengan takdir
    Kehormatan Kita yang menjadi mahkota,

    Cerita kasih yg membawa nada kebersamaan
    Kebersamaan yg membawa kedamaian,kenyamanan Cinta,

    Garis ini telah tegas Telah pasti
    Menjadi satu perjalanan cinta yg di restui dan diinginkan,

    Kehormatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s