Kenapa Saya (Masih) Menulis Puisi

Saya tidak betul-betul tahu alasan kenapa saya memutuskan menulis puisi. Barangkali ini ada hubungannya dengan kebosanan dan kesepian saya waktu kecil. Saya menemukan kesepian dan kebosanan penuh keindahan. Dengan kebosanan, saya jadi sering bertanya kepada macam-macam benda dan peristiwa. Saya juga bepergian ke banyak tempat dan membuat banyak teman hayalan.

Waktu kecil saya terobsesi ingin menjadi pemain musik dan pelukis. Saya menganggap musik dan lukisan bisa membuat hidup yang rumit, seperti hidup ibu saya, menjadi lebih tenang. Tetapi kata ibu saya, “kamu bisa melakukan keduanya sekaligus dengan menulis.” Kata-kata, katanya, adalah alat yang bisa digunakan untuk menciptakan musik, lukisan, dan bahkan tarian. Saya tahu, dia mengatakan itu karena tidak mampu membeli alat musik dan perlengkapan melukis untuk saya. Belakangan saya merasa kata-kata ibu saya itu benar adanya.

*

Kenapa saya masih menulis hingga sekarang? Sesungguhnya saya sering mengatakan ‘jika saya tahu alasan kenapa saya menulis puisi, saya mungkin sudah berhenti menulis puisi’ untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi saya juga sering mereka-reka jawaban lain.

Saya pikir ada beberapa hal yang membuat saya masih menulis puisi hingga sekarang.  beberapa di antaranya, adalah sebagai berikut.

Pertama, saya ingin terus hidup di masa kecil saya, masa di mana kebosanan dan kesepian masih saya lihat sebagai dunia yang amat menyenangkan. Barangkali menjadi dewasa adalah salah satu kutukan bagi kita. Setiap orang membutuhkan sesuatu atau seseorang yang bisa mengembalikan kita menjadi kanak-kanak.

Kedua, bagi saya, puisi media yang nyaman dan aman untuk menyampaikan kebenaran dan kemungkinan-kemungkinannya. Kebenaran penuh kemungkinan, begitulah. Saya tidak menyukai kebenaran disampaikan seperti khutbah jumat. Saya pikir setiap orang punya kekuasaan untuk menafsir kebenarannya masing-masing.

Ketiga, saya menyukai permainan, utamanya permainan bahasa. Permainan bahasa yang menurut saya paling menyenangkan adalah menciptakan sesuatu yang nampak sederhana, indah, dan dalam sekaligus.

Keempat, melalui puisi saya bisa belajar banyak hal. Jika saya ingin mengetahui sesuatu, saya menuliskannya. Dengan saya menuliskannya, saya mencari tahu dan menemukannya. Jika saya menulis dengan alasan bukan untuk menemukan apa yang saya pikirkan, kadang saya merasa itu sia-sia belaka.

Kelima, saya selalu menganggap puisi sebagai sebuah dunia di mana orang masuk ke dalamnya, datang dari berbagi tempat dan keyakinan berbeda tetapi mereka tidak berseteru. Melalui dunia bernama puisi saya berjumpa dan berdansa bersama orang-orang yang bahkan tak mampu saya genggam tangannya.

Keenam, saya selalu percaya bahwa menulis adalah cara belajar menjadi manusia sederhana dan rendah hati. Puisi, dengan seluruh kesederhanaan dan kompleksitasnya, membantu saya untuk tetap menyadari diri sebagai orang yang tidak lebih baik dari orang lain.

*

disarikan dari versi Bahasa Indonesia esai pendek yang saya bacakan pada Pertemuan Penyair Korea-ASEAN beberapa bulan lalu.

Iklan

3 thoughts on “Kenapa Saya (Masih) Menulis Puisi

  1. saya kira itu juga berlaku sama buat siapa saja yang suka menulis puisi, baik itu yang dicap orang-orang sebagai ‘penyair’ atau bukan :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s