permainan malam minggu

Satu Kisah Sederhana yang Dipersiapkan untuk Anak-anak yang Beranjak Remaja

Kamu pernah dijemur di halaman sekolah, teman kamu cuma tiang bendera. Saya juga. Kita suka terlambat dan tak suka ikut upacara. Sejak saat itu saya benci sengat matahari. Sangat. Sejak saat itu kamu takut wajahmu berubah coklat.

Beberapa tahun kemudian, (kamu masih ingat?), kita bertemu di sebuah toko. Pertemuan singkat sepasang remaja yang jatuh cinta kepada topi yang sama, topi bertulis nama band ternama.

Tetapi kita, dua kolektor topi, akhirnya tidak jadi membeli topi. Saya malah membeli baju. Kamu juga. Sama-sama berwarna biru.

Di dada baju baru saya itu ada gambar radio dan notasi lagu yang beterbangan di atasnya seperti kawanan capung. Di dada baju barumu ada gambar lima tentara terjun payung. Menurut saya gambar parasutnya tidak kelihatan betulan, tetapi lebih menyerupai kantong plastik belanjaan yang dikembangkan.

Bertahun-tahun kemudian, (kamu masih ingat kan?), di sebuah pertemuan, tempat duduk kita berdekatan. Sebelum bicara banyak, kita saling tukar kartu nama dan senyum. Saat itu saya mulai jatuh cinta. Kamu juga.

Saya masih menyimpan kartu nama itu di lemari yang sama saya menyimpan benda-benda kecil dari masa kecil saya, seperti foto saya yang termuat di selembar surat kabar lama.

Saya suka foto itu. Sedang menangis di tepi kolam renang. Kamu tahu, saya memang takut tenggelam, hingga sekarang. Iya, kecuali di hidup kamu.

Jika anak-anak bertanya bagaimana kita bisa menikah, ceritakan saja kisah sederhana bohongan itu kepada mereka. Agar seolah saya dan kamu memang ditakdirkan menikah, hidup bahagia dan saling mencinta. Ya, begitu saja.

*

Tulisan di atas cuma hasil dari sebuah permainan iseng. Daripada galau, saya meminta teman saya menyebutkan 10 frase. (Perhatikan frase-frase yang sengaja saya tebalkan di tulisan itu!)

Saya menantang diri saya membuat tulisan bebas dengan syarat kesepuluh frase itu ada dalam cerita yang saya bikin. Saya diberi waktu tidak lebih 15 menit untuk menyelesaikan tulisan saya. Hasilnya biasa saja, tetapi saya berhasil melewati tantangan teman itu.

Sekarang giliran Anda yang membuat tulisan dari 10 frase di atas. Jika tulisan Anda kelar, silakan masukkan link-nya di kolom komentar, nanti saya masukkan di postingan ini.

Selamat bermain dan berlatih menulis!

20 thoughts on “permainan malam minggu

  1. Masih ingat notasi lagu yang harusnya kita mainkan tiap upacara sekolah di hari senin?. Aku berdiri di depan deretan paduan suara, dan kamu menjadi salah satu penyanyi. Dulu, tempat kita berdiri ada di samping kiri tiang bendera. Seusai upacar bendera, kamu menungguku untuk kembali ke kelas. Kelas kita bersebelahan.

    Bel pulang sekolah berbunyi. Aku menantimu di depan kelasmu. Tak banyak kata, kamu segera menggenggam tanganku menuju mobil pemberian orang tua mu (Hey, walaupun kita sama-sama kelas 3, tapi umurmu 2tahun di atasku). Di mobil yang cukup mewah itu, kamu memutar lagu kesukaanku dari band ternama saat ini.

    Mobilmu terhenti di pusat perbelanjaan. Kita mengendap-endap masuk, segera mencari toilet umum, untuk mengganti baju. Sesudah mengganti baju, kita melangkahkan kaki ke toko olahraga. Kamu memintaku untuk membeli sepatu mana yang aku suka. Kamu paham sekali kegemaranku terhadap sepatu, dan nantinya kamu akan memintaku memilihkan topi yang paling bagus. Sudah berapa topi yang kamu punya, wahai kolektor topi kesayanganku?. Tapi, kali ini kamu memintaku untuk memilih sepatu olahraga, entah apa yang ada di pikiranmu.

    Sesudah ujian nasional, kamu datang ke rumahku membawa sebuah surat kabar. Kamu menunjukkan promosi liburan, kebetulan sekali, kita sedang libur sekolah. Hmmm, mungkin ini rencanamu ketika memintaku memilih sepatu olahraga. Aku mengangguk, menyetujui rencana liburan kita. Sore hari, kamu dan aku bersiap. Membeli beberapa keperluan untuk liburan. Aku suka caramu membukakan pintu mobilmu, ketika melihatku kesusahan membawa plastik belanjaan.

    Bali. Yap, kita di Bali saat ini. Segera kamu memesan sebuah kamar di hotel ternama itu. Kamu mengambil selembar kartu nama, supaya mudah memesan lagi jika kita datang lagi, katamu.

    Kita bermain di pematang sawah, melihat kawanan capung yang terbang kesana kemari. Lalu, kita bermain di pantai, melihat matahari tenggelam. Ah, indahnya. Sudah larut pikirku, aku ingin segera tidur, tapi kamu memintaku untuk bermain sebentar di tepi kolam renang. Aku menolaknya, aku lelah, tapi, kata-kata itu tidak terucap. Aku tersenyum dan mengangguk. Di tepi kolam renang itu, kita berpelukan. Rasanya, ini cukup menggantikan keinginanku untuk terjun payung tadi sore yang tidak kamu penuhi.

    Esoknya kita kembali ke Jakarta. Singkat memang, tapi aku tidak akan melupakan hari itu.

  2. aku tak punya kartu nama untuk perkenalan kembali kita. kalau aku harus membantumu mengingat siapa aku, maka dengar saja satu kisah tentang kridosono. stadion kecil yang kita sering menyebutnya bundaran. hanya memuat satu lapangan sepak bola kelas rendahan. tapi satu bagian di sisi utara adalah umbang tirta, kolam renang tertutup yang jauh lebih mewah dari bantar kali code.
    menjelang sore, saat surat kabar pagi menjadi basi, kita sepakat menemui mang mudi, kolektor topi koboi yang tiga dari entah berapa koleksinya paling sering menutup rambut jarangnya. mengendik agar kita boleh mencicipi umbang tirta barang satu jam saja. seribu kita membayarnya. titip sisa koran lokal di laci mejanya. dan gitarmu juga.
    lalu saat kita kembali, mang mudi pasti memeluk gitarmu sambil jejarinya membelai senar-senar usang itu. aku tak yakin ia mengerti notasi lagu. Ia memainkan satu irama yang selalu sama. Meski tak seindah lagu band ternama, tapi seperti sihir yang menarikku untuk menikmatinya.
    satu siang dan kridosono teramat ramai. ada lomba terjun payung. hari ABRI, katanya. aku ingat kau ingin jadi tentara. dan melihat mereka mampu terbang, mendarat di tanda bundar merah di tengah lapangan, adalah menakjubkan bagimu. tanganmu seketika membentuk hormat ke tiang bendera, seperti yang dilakukan tentara itu di akhir atraksinya.
    keningmu masih mengerut. memandangiku lama. kau masih belum ingat juga? aku darmini. teman kecil yang tak pernah lepas dari sisimu dulu. membelah jalanan jogja dengan koran demi rupiah-rupiah. aku tak banyak berubah. ini aku. plastik belanjaan ini? oh, ini milik majikanku.

  3. aku tak punya kartu nama untuk perkenalan kembali kita. kalau aku harus membantumu mengingat siapa aku, maka dengar saja satu kisah tentang kridosono. stadion kecil yang kita sering menyebutnya bundaran. hanya memuat satu lapangan sepak bola kelas rendahan. tapi satu bagian di sisi utara adalah umbang tirta, kolam renang tertutup yang jauh lebih mewah dari bantar kali code.
    menjelang sore, saat surat kabar pagi menjadi basi, kita sepakat menemui mang mudi, kolektor topi koboi yang tiga dari entah berapa koleksinya paling sering menutup rambut jarangnya. mengendik agar kita boleh mencicipi umbang tirta barang satu jam saja. seribu kita membayarnya. titip sisa koran lokal di laci mejanya. dan gitarmu juga.
    lalu saat kita kembali, mang mudi pasti memeluk gitarmu sambil jejarinya membelai senar-senar usang itu. aku tak yakin ia mengerti notasi lagu. Ia memainkan satu irama yang selalu sama. meski tak seindah lagu band ternama, tapi seperti sihir yang menarikku untuk menikmatinya.
    satu siang dan kridosono teramat ramai. ada lomba terjun payung. hari ABRI, katanya. aku ingat kau ingin jadi tentara. dan melihat mereka mampu terbang seperti kawanan capung, berputar-putar, lalu mendarat di tanda bundar merah di tengah lapangan, adalah menakjubkan bagimu. tanganmu seketika membentuk hormat ke tiang bendera, seperti yang dilakukan tentara itu di akhir atraksinya.
    keningmu masih mengerut. memandangiku lama. kau masih belum ingat juga? aku darmini. teman kecil yang tak pernah lepas dari sisimu dulu. membelah jalanan jogja dengan koran demi rupiah-rupiah. aku tak banyak berubah. ini aku. plastik belanjaan ini? oh, ini milik majikanku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s