#puisipekanini #1 – sepasang puisi

Pada edisi #1 ini, ada 47 judul puisi yang masuk di kotak surat saya. Dari seluruh puisi itu, saya memilih dua yang saya suka. Puisi pertama karya Sulisgingsul, puisi kedua adalah tulisan seorang yang menyebut dirinya Coffee Cups.

1.

Yang Dilakukan Istrimu Setelah Kau Tak di Rumah

Bila langit mendung, wajahnya malah berubah cerah.
Buru-buru, ia mencuci beberapa potong pakaian kotor
Yang tidak pernah ketinggalan: baju kesukaanmu
yang masih ia simpan di tumpukan pakaian bersih.

Ketika gerimis datang, senyumnya mengembang
—lengkung bibirnya seperti pelangi, indah sekali.
Berlari-lari kecil, ia menuju belakang rumah
memunguti jemuran yang terlanjur sedikit basah
“Cepat, cepatlah bantu aku!” bisiknya lirih
kepada bajumu
yang padahal sudah tidak pernah kau pakai lagi.

Di dalam rumah, tubuhnya dibiarkan tetap basah.
Ia anggap gerimis itu kiriman air dari matamu.
Ia percaya kau tentu sedang sangat sibuk–
belum sempat-sempat membawakan hadiah itu.

Di ruang tamu, ia menjereng baju kita
sambil mengajaknya bercakap-cakap mesra,
sambil sesekali mendekapnya erat-erat.
“Lebih erat, Sayang! Apakah kurang hangat?
Bicaralah, apakah sudah terasa kering?”
tanyanya berulang-ulang, berbisik-bisik.

Setiap senja, ia menyeduh teh hangat
dua cangkir, meletakkannya di meja sudut,
sebentar-sebentar melongok ke pagar
dari jendela bekas kamar kita.

Ia masih rajin bangun pagi-pagi sekali,
meminum teh kemarin—dua cangkir sekaligus
sambil berdoa agar kau dijauhkan dari haus.
“Nanti sore aku buatkan yang lebih hangat”
bisiknya sesudah selesai menyapu
matanya.

*

2

Kita Saling Memiliki dengan Cara Sederhana

Kita saling memiliki dengan cara sederhana
namun tak semua mampu mencerna
kerap, aku dendangkan requim-requim tentang bulan dan matahari yang karam
di balik selimut malam atau sujud-sujud tahajud tengah malam

aku menyanjung nama kau di ujung jalan gelap
di mana tikus menggerogoti roti basi bawah sinar bulan pucat

Kita saling memetakan dengan mata-mata buta
menari atas daun linden yang digugurkan angin

berrererepaah…

berjalan atas titian batu-batu yang labur oleh lumut.
jauh ke depan.
begitu sajalah
melompat bersisian atas jembatan gantung akar beringin

aku melebur dalam setiap sajakku,
menggedor-gedor pintu hati yang setiap saat takut terkunci.

aku takut arwahku memudar, dikutuki bulan-bulan pucat pasi—bahkan dalam senyap—
takut tak sempat menyempurnakan talqin gerhana di kupingmu.

*

Puisi pertama dengan ide sederhana cukup menyentuh. Puisi itu bisa menjadi jauh lebih menarik jika ditulis lebih padat lagi. Puisi itu masih longgar, begitu juga pada puisi kedua. Kedua puisi di atas masih membutuhkan sedikit suntingan. Saya seperti membaca puisi terjemahan di puisi kedua itu.

*

Untuk #puisipekanini #2 dan seterusnya, saya tidak akan menetukan tema lagi. Silakan baca informasi perihal #puisipekanini di sidebar blog ini. Saya tunggu puisi teman-teman.

8 thoughts on “#puisipekanini #1 – sepasang puisi

  1. 🙂 suka pilihan atasmu

    Puisi jika dipadatkan akan berbentuk cerita pendek.
    Pilihan kata yang tak banyak orang mengerti mengerutkan dahi yang beranjak mengeriput.

    Sekian

  2. Ping-balik: #puisipekanini #1 – sepasang puisi « gembiraloka

  3. Ping-balik: #puisipekanini #1 – sepasang puisi « gembiraloka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s