dari arsip lama: sejumlah sajak cinta

sajak buat istri yang buta
dari suaminya yang tuli

maksud sajak ini sungguh sederhana.

hanya ingin memberitahumu bahwa baju
yang kita kenakan saat duduk di pelaminan
warnanya hijau daun pisang muda, tetapi
yang membungkus kue-kue pengantin
adalah daun pisang tua. memang keduanya
hijau, tetapi hijau yang berbeda, sayang.

di kepalamu ada bando berhias bunga,
kau merasakannya tetapi mungkin tidak
tahu bunga-bunga itu adalah melati putih.
sementara di kepalaku bertengger sepasang
burung merpati, bulunya juga berwarna putih.

aku selalu mengenangkan, hari itu, kita
adalah sepasang pohon di musim semi.
kau pohon penuh kembang. aku pohon
yang ditempati burung merpati bersarang.

aku lihat, orang-orang datang dan tersenyum.
mereka berbincang sambil menyantap makanan.
tapi aku tak dengar apa yang mereka bincangkan.
maukah kau mengatakannya padaku, sayang?

*

lubang untukmu

aku ingin jadi lubang di jalan raya
agar kau melangkah penuh waspada
dan lututmu tak berdarah karena jatuh
seperti masa kanakmu yang lincah dulu.

aku ingin jadi lubang di ibu jari kaus kakimu
agar kau bisa tersenyum saat melepas sepatu
dan lelahmu hilang di palung lesung pipitmu.

aku ingin jadi lubang di dinding kamarmu
agar kau tak pernah luput mengenakan selimut
sebelum tidur dan kau aman memeluk mimpi.

aku ingin jadi lubang tanam bagi mayatmu
agar kau dan aku bisa sempurna menyatu

*

kepalaku: kantor paling sibuk di dunia

engkau tahu? kepalaku: kantor paling sibuk di dunia.
anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana.
tak mengenal hari minggu atau hari libur nasional.
tak pula mengenal siang dan malam. tak mengenal
apa-apa kecuali bekerja, bekerja, bekerja dan bekerja.

kadang-kadang ingin sekali suatu pagi melihatnya datang
menyodorkan sehelai map berisi surat permohonan cuti.
ingin pergi ke satu tempat yang jauh, mengasingkan diri
beberapa hari di awal desember yang lembab sembari
merayakan hari ulang tahun sendiri. lalu di depan pintu
kantor terpasang sebuah tanda berwarna merah: tutup.

tetapi ia betul-betul seorang pekerja keras.
setiap saat ia berada di kantor. mungkin hendak
menyelesaikan seluruh persoalan waktu yang tidak
pernah mampu selesai itu: tentang masa lampau
yang tersisa di masa sekarang, tentang keinginan
berhenti atau tak berhenti, juga perihal lain yang sepele
namun sungguh rumit buat dijelaskan.

ya, percayalah! kepalaku: kantor paling sibuk di dunia.
anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana
:engkau saja!

*

sajak di saat hujan

jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang
sudah kugulung benang-benangnya dan kugunting
bagian yang tak kuingin.

hari itu hujan curah tak deras namun lama.
kaca jendela berembun hingga tak perlu juntai tirai
sebagai selubung. tak akan ada orang yang melihat kita, bisikmu.
lalu kau buka kancing-kancing baju dengan tangan gemetar
memperlihatkan kerumunan tahi lalat yang kau rahasiakan
di sisi kiri payudaramu yang perawan menawan.
kau tuntun tanganku menghitungnya satu per satu,
tetapi aku gagal menyebut jumlah.

setiap hujan seperti ini, aku berkeringat teringat
hangat tubuhmu, dan meski kukatup mata sepenuh tutup
sedikitpun tak ada terlupa, seluruh benar-jelas-selalu.
tahi lalat yang tak pernah aku tahu jumlahnya itu
kini menjelma jutaan belatung yang tak kenal kenyang.
usiaku hanya bangkai-bangkai kucing dan anjing.

jika saja waktu dan kenangan adalah layang-layang,
di saat-saat hujan begini, sudah ada seorang lain perempuan.
pahanya jadi bantal dan tangannya mencabut
uban-uban di ubun-ubunku.

*

dunia yang lengang

sebuah usaha, agar orang-orang
lebih banyak bicara dengan mata,
pemerintah membuat aturan ketat:
setiap orang hanya berhak memakai
seratus tiga puluh kata per hari, pas.

jika telepon berdering, aku meletakkan
gagangnya di telingaku tanpa menyebut halo.
di restoran aku menggunakan jari telunjuk
memesan mi atau coto makassar. aku secermat
mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat.

tengah malam, aku telepon nomor kekasihku
di jakarta, dengan bangga aku bilang padanya:
aku menggunakan delapan puluh sembilan
kata hari ini. sisanya kusimpan untukmu.

jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti
ia telah menghabiskan semua jatahnya,
maka aku pelan-pelan berbisik: aku
mencintaimu.
sebanyak lima belas kali.

setelah itu, kami hanya duduk membiarkan
gagang telepon di telinga kami dan saling
mendengar dengus napas masing-masing.

*

tiga catatan terakhir

1.

di dalam sebuah pejam
aku saksikan sepasang mataku
menghamburkan jutaan
kunang-kunang. kuning
seperti daun lerai dari ranting.

kunang-kunang itu berkerumun di ujung-ujung
jari tanganku menyematkan ciuman terakhir
sebelum terbang berkilau-kilauan di udara.

kunang-kunang itu melanglang mencari sepasang
matamu yang berada dalam sebuah pejam yang lain
pejam yang telah lama direncanakan alam dan malam.

dan engkau menyangka kunang-kunang
yang masuk ke matamu adalah mimpi,
mimpi yang engkau duga-duga maknanya.

namun pada saatnya engkau akan tahu,
kelak kunang-kunang itu terbang
hinggap di kelopak pipimu
setiap kali aku engkau kenang.

2.

tiba-tiba mampu aku pahami
seluruh yang pernah datang
bertandang ke dua mataku
bahkan yang aku duga mimpi.

tiba-tiba aku jatuh cinta
melebihi seluruh jatuh cinta
yang pernah menyakiti dadaku. namun

ketika ingin aku katakan pada telingamu
aku tak lagi memiliki suara,
ketika ingin aku katakan pada matamu
aku tak lagi memiliki cahaya.

3.

melalui lubang pepori kulitku, air resap perlahan
membentuk sungai-sungai kecil di tubuhku.

sungai itu mencari rongga dadaku
mencari lautan yang pernah dipenuhi
ribuan ikan mungil peliharaanmu.

sesaat sebelum mataku dikatup
dan peti matiku ditutup,
sungai-sungai itu meluap,
menguap ke langit lapang,
langit yang selalu engkau pandang
sambil menggigit bibir sendiri
dengan mata bergenang-linang.

sebab engkau tak mau lebih manja
dari langit di bulan-bulan hujan.

tetapi tidak. kelak langit dan dirimu
sendiri akan memaafkan semua
kesedihan yang engkau ciptakan
dari kematianku.

*

meriang

setiap malam
pintu tak kututup
jendela tak kukatup
kuundang angin yang ingin
merasuk jadi meriang di tubuhku
dan merusak suaraku.

aku jatuh cinta
pada suaraku yang berubah
keruh dan basah
sebab di situ, meski samar,
ada suaramu kudengar.

aku jatuh cinta
pada badanku yang gigil
dan keningku yang panas
sebab di situ, berulang kuingat,
rengkuhmu ketat
dan kecupmu hangat

*

surat cinta yang ganjil

1. cintaku yang besar, cintaku yang tulus,
2. telah hilang, menguap, dan kini rasa benciku
3. berkembang setiap hari. ketika melihatmu,
4. aku tak ingin lagi melihat wajahmu sedikitpun;
5. satu hal yang sungguh ingin aku lakukan adalah
6. mengalihkan mata ke gadis lain. aku tak lagi ingin
7. menikahkan aku dan kau. percakapan terakhir kita
8. sungguh, sungguh sangat membosankan dan tak
9. membuat aku ingin bertemu kau sekali lagi.
10. selama ini, kau selalu memikirkan dirimu sendiri.
11. jika kita menikah, aku tahu aku akan menemukan
12. hidupku menjadi sulit, dan aku tak akan menemukan
13. kebahagiaan hidup bersamamu. aku punya satu hati
14. untuk kuberikan, tetapi, sungguh, itu bukan sesuatu
15. yang ingin aku berikan untukmu. tak ada yang lebih
16. bodoh dan egois daripada kau, dan kau tak pernah
17. memperhatikan, merawat dan mau mengerti aku.
18. aku sungguh sangat berharap kau mau mengerti
19. aku berkata jujur. kau akan baik sekali jika
20. kau anggap inilah akhirnya. tidak perlulah
21. membalas surat ini. surat-suratmu dipenuhi
22. hal-hal yang tak menarik bagiku. kau tak punya
23. cinta yang tulus. sampai jumpa! percayalah,
24. aku tak peduli lagi padamu. jangan pernah berpikir
25. aku masih dan akan terus menjadi kekasihmu.

catatan:
surat ini sengaja diberi angka tiap barisnya, agar kau
bisa membedakan mana baris ganjil, mana baris genap.
baca baris-baris ganjil saja dan hapus baris selebihnya.
sesungguhnya ini memang sebuah surat cinta yang ganjil.

*

kepada hawa

aku merelakanmu menjauh,
merelakanmu terjatuh
ke tempat sampah
bagai sepotong apel merah
yang di geligimu pernah
berdarah

adakah cinta yang jatuh
kepadamu melebihi cintaku?

lelaki yang engkau cintai itu mati
dan tak membawamu ke makamnya
sementara aku bertahan hidup,
bertahun-tahun sanggup tak mati
oleh rindu–dan menanti di surga

hawa, aku masih ular yang setia
mencintaimu sepanjang usia tuhan.

*

pelukan

1

sudahkah kau memeluk dirimu hari ini?

masih aku ingat pertanyaanmu itu
dulu aku tak bisa menjawabnya
tetapi begitulah kau, selalu begitu,
jika ada pertanyaan kau lontarkan
sudah kau siapkan juga jawaban

lenganmu memang terlalu pendek buat tubuhmu
tetapi tentu saja cukup panjang buat tubuhku

lalu kau merasuk ke dalam pelukanku
dan berdiam di sana

masih kau simpan pelukan itu?

kita bertanya serempak
lalu sama-sama terbahak

pelukanlah satu-satunya
jawaban atas pertanyaan itu

lalu benam kita ke dalam kenangan

2

istriku lebih suka memeluk dari pada berkata-kata:

aku mencintaimu, nak!
aku mencintaimu, pak!

seolah-olah dua lengannya
bisa menyampaikan semua rahasia

anak-anak kami tumbuh
lebih mencintai lengan dari pada kata-kata

itulah sebabnya istriku setiap malam
berdoa agar ia bisa jadi seekor gurita
dan semua kami bisa masuk ke dalam
pelukan tangan-tangannya

3

satu per satu tubuh
akan lepas dari pelukan

lalu lengan-lengan kita
mulai mengenal sengketa
mulai mengenal senjata

tubuh memang ditakdirkan
awalnya jadi milik pelukan
lalu kemudian milik peluru

*

aku membayangkan rumah tangga
dan sejumlah percakapan di dalamnya

ini malam alangkah raya. segala hal sudah pulas
tertidur, kecuali namamu dan pikiranku.

pikiranku sungai. namamu kaki-kaki hujan.
kuku-kukunya runcing mencakar lembut daging
bening airku.

aku ingin tidur. namun malam ini kantuk mencintai
pelupuk mata orang lain, barangkali juga matamu.

beruntung beruntun sejumlah percakapan
dalam sebuah rumah tangga menetes dan
menetas di kepalaku.

*

“para pelancong punya lebih banyak barang
di kedua tangan daripada di kepala mereka.”

—kau memasukkan beberapa lembar pakaian
ke dalam tas sedang buat kita berdua. sepasang
tiket pesawat di tempat tidur. hotel kecil di kaki
gunung. bulan madu dan pertengkaran kecil
yang lucu di pematang sawah.

*

“saking rindunya kepada musim kemarau, langit
menangis sepanjang malam, sepanjang siang.”

—kau memikirkan musim hujan yang tak kunjung
berujung. bunga-bunga di halaman tak menghasilkan
madu. barangkali serangga juga tidak lagi rindu.

*

“aku beli payung kuning untukmu. aku ingin melihat
bunga matahari mekar di musim hujan.”

—aku berdiri di beranda, mencoba bercanda. kau,
pagi, dan hujan hendak berangkat ke pasar. sudah dua
hari kulkas tak berisi apapun kecuali dingin yang sia-sia.

*

“angin selalu sama namun membisikkan kata berbeda
kepada setiap helai daun.”

—ada debu di jendela, sisa-sisa jalan di depan rumah
sebelum beraspal. hijau daun pohon terlihat lebih tua
seperti warna minuman di gelas yang menemanimu
duduk memandang langit abu-abu.

*

“semalam aku mengumpulkan bintang, agar kau
bisa menatap kampung yang dikepung cahaya
di mataku.”

—aku pulang pagi. tak ada hujan atau kecelakaan
yang bisa jadi alasan. kau tidur di kursi ruang tamu
memeluk tubuh sendiri dengan kunci di tangan. aku
berjalan ke dapur menyeduh teh dua gelas. suara
kendaraan di depan rumah semakin lama semakin
tak ramah.

*

“di pagi hari bunga-bunga bangun dan menjilat
embun di tubuhnya seperti seekor kucing.”

—kau tertawa mendengar kata ‘menjilat’ meloncat
dari lidah suamimu yang matanya tidak lagi sanggup
membaca buku apapun tanpa menggunakan kacamata.

*

“seni itu hadir sebab hidup tidak pernah cukup.”

—kau menggenggam kertas di hari ulang tahunmu.
aku duduk cemas bertanya dalam hati: apakah puisiku
masih mampu membuat kedua matamu berkilau-kilau
saat menangis seperti dulu? lilin sudah memakan
tubuhnya separuh. aku mendoakanmu.

*

“doa adalah lagu pengantar tidur buat harapan.”

—tawa geli juga tangis cucu, jembatan panjang
ke masa lampau sebelum aku entah kenapa bisa
menemukanmu di suatu sore, tersenyum kepadaku.
kau bertanya kepada anak bungsumu siapa nama
pacarnya sambil membayangkan sepasang cucu lagi.

*

ini malam alangkah raya. segala hal sudah pulas
tertidur, kecuali namamu dan pikiranku.

namamu kaki-kaki hujan. pikiranku sungai.
rumah tangga dan percakapan-percakapan itu
masih akan mengalir dan mengalir andai masjid
belum bangun.

*

catatan: hampir semua sajak di atas ada di dalam buku kumpulan sajak kedua saya, aku hendak pindah rumah.

12 thoughts on “dari arsip lama: sejumlah sajak cinta

  1. bisakah memberi perbedaan antara sajak aan dengan jokpin, akh,,kedua penyair ini telah membuatku betah membaca puisi

  2. Selalu menyenangkan membaca postingan bang aan (eh benarkan ini namanya? maaf kalo salah :D)
    saya minta ijin share ke tumblr yaa, maturnuwun..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s