kepada cucu seorang yang menolak aku menjadi menantu

aku menulis puisi sebab waktu kanak-kanak aku ingin menjadi seorang astronot—dan tidak mau guru dan teman-temanku tertawa sekali lagi karena ibuku janda penjual tomat. aku menulis puisi agar mereka tahu anak penjual tomat juga boleh menyimpan cita-citanya di bulan, di langit, atau di tempat yang jauh lebih tinggi.

aku menulis puisi sebab aku tidak mau menyakiti hati ibuku dengan kata-kata saat aku tidak mampu menjadi anak lelaki yang kuat mengangkat cangkul karena penyakit yang lahir bersama jantungku. aku menulis puisi agar ibuku mau tersenyum ketika lelah pulang dari pasar dan tidak ada tomatnya yang laku.

aku menulis puisi sebab aku ingin mengungkapkan kepada teman-temanku aku tak mampu beli sepatu dan baju model terbaru. aku tak mampu mengajak gadis-gadis yang aku suka ketawa bersama di kantin sekolah atau kafe bagus. aku menulis puisi agar mereka tahu kata-kata telah membuat aku tak bunuh diri karena setiap hari mendengar mereka menertawai aku di sekolah.

aku menulis puisi sebab aku berharap bisa jadi suami yang tak mampu meneriakkan kalimat kasar kepada istri dan anak-anaknya. waktu kecil, aku menangis saat ayah membentak aku dan ibuku. aku senang mendengar musik tapi bahkan main gitar aku tak tahu. aku menulis puisi agar orang-orang tahu kata-kata adalah pedang yang bisa dilipat menjadi perahu dan pesawat mainan juga bunga untuk ruang keluarga.

aku menulis puisi sejak masih kecil seperti kamu, bukan untuk menjadi penyair. aku ingin jadi astronot, seorang yang mampu ke tempat tertinggi di mana pernah dia menyimpan mimpinya. aku menulis puisi ini untukmu di jendela, sambil berpandangan dengan bulan, agar kamu tahu aku gagal dalam banyak hal di hidupku—termasuk menjadi suami ibumu.

aku menulis puisi ini agar kamu tahu bahwa kehidupan, bagaimana pun kejamnya, selalu indah untuk dituliskan menjadi puisi.

16 thoughts on “kepada cucu seorang yang menolak aku menjadi menantu

  1. Aku menulis karena gurat-gurat pena akan membawa kita menuju dunia lain tempat duka tiada dan segala resah gelisah terusaikan🙂
    selamat pagi kakak tomat.

  2. aku menulis puisi sebab kadang ucap itu gagu untuk mengatakan kebenaran bahwa tuhan itu maha indah dan segala apa yang ia cipta, termasuk kamu.
    ohayou~~

  3. aku tak membacanya sebagai canda, terlebih sebagai hal yang kecil. aku membaca hati yang besarnya selapang semesta, tempat bulan, matahari, dan bintang berbagi cahaya. aku baru saja membaca hati sewangi tanah basah. sebasah mataku sesudahnya. tisu, mana, tisu?

  4. bagus,,,ingatan masa lalu yang menguatkan,,saya ingin terus membaca karena blog huruf kecil selalu mendebarkan

  5. aku menulis puisi agar teman-temanku tahu, bahwa segala kata-kata yang tumpah pada timeline bukan hanya nada cengeng belaka atau bukan pula kalimat-kalimat mengeluh yang biasa dituliskan orang lain…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s