kepada tuan sapardi djoko damono

Yth. Tuan Sapardi Djoko Damono,

Januari tahun ini hujan rajin sekali mengunjungi Makassar. Kemarin pagi dia tidak datang dan saya tiba-tiba mengingatmu—dan salah satu puisimu, Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari. Saya sungguh menyukai puisi itu. Setiap kali melihat bayangan sendiri, saya mengingat dan mengucapkan puisi itu dalam hati.


Saya nyaris tidak menghafal satu pun puisi yang pernah saya tulis, tetapi puisi Tuan itu saya hafal di luar kepala. Jika mengabaikan bentuk asli dan menjadikannya paragraf, maka beginilah puisi itu:

Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang. Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan. Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang. Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan. 

Puisi yang nampak sederhana dan singkat. Tetapi, sejak pertama kali membacanya, saya jatuh cinta. Saya masih kecil waktu itu, Tuan. Puisi itu membuat saya ingin sekali bertemu Tuan. Anehnya, setiap kali kita bertemu, saya selalu lupa mengatakan perihal puisi itu.

Saya ingat pertemuan pertama kita, di depan toko buku di sebuah mall yang amat mewah di Jakarta. Saya lihat pengumuman di internet. Ada sebuah peluncuran buku. Tuan menjadi pembicara di acara itu. Saya buta dan membenci Jakarta, Tuan. Sore itu, saya memberanikan diri datang sendiri. Saya ingin bertemu dengan Tuan.

Sesaat setelah acara selesai, saya membeli buku kumpulan puisi Tuan yang baru terbit. Kolam. Bukan cuma karena saya sangat mendambakannya, tapi saya berharap buku itu bisa jadi alasan agar bisa berbicara dengan Tuan. Sungguh, saya gugup waktu itu.

Saya berdiri di sudut, melihat Tuan melayani orang-orang yang meminta tanda tangan dan foto bareng. Saya tidak membawa kamera. Saya tidak punya, tepatnya. Saya menunggu hingga tersisa satu orang yang meminta tanda tangan, kemudian saya mendekat. Saya ingat, tangan saya gemetar ketika menyodorkan buku Kolam untuk ditandatangani. Tuan bertanya sambil mendekatkan kuping ke wajah saya. Kepada siapa?

Ketika saya menyebut nama saya, Tuan seperti kaget dan berbalik memeluk saya. Saya lebih kaget dan bertambah gugup. Tuan bilang pernah membaca sejumlah puisi saya di koran dan menyukainya. Sore itu Tuan membuat waktu dan mengajak saya bicara tentang puisi, juga mengajak saya menginap di rumah Tuan. Pertemuan pertama dan sore yang indah, Tuan.

Pertemuan kedua kita terjadi di Kebun Raya Bogor. Saya dan Tuan sama-sama diundang membacakan puisi di acara Utan Kayu International Literary Biennalle 2009. Pembukaan acara sastra itu diadakan di Kebun Raya Bogor. Saya dan Tuan, juga seorang penyair dari Korea, masuk kelompok yang sama. Kita membaca puisi masing-masing direkam dengan dua kamera video. Saya dapat giliran terakhir. Tuan yang pertama.

Malam-malam berikutnya, bersama beberapa penyair dari sejumlah negara lain, kita sering bertemu di Salihara. Saya dapat giliran membaca puisi pada malam ketiga, Tuan pada malam terakhir. Saya gugup membaca puisi di depan Tuan.

Oh, iya, saya ingat salah satu puisi yang Tuan baca adalah yang saya ceritakan di awal surat ini. Saya membawa kamera saat itu. Saya pinjam kamera teman saya. Saya punya beberapa gambar Tuan.

Setelah peristiwa itu, kita beberapa kali bertemu. Terakhir kali, kita bertemu Juni tahun lalu di acara Makassar International Writers Festival 2011. Saya senang bisa berbincang lebih banyak hal kala itu. Saya jatuh cinta pada kesederhanaan dan keakraban Tuan bahkan kepada orang-orang yang baru menulis puisi seperti saya. Terima kasih, Tuan.

Saya pernah menulis kwatrin yang terinspirasi dari puisi Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari milik Tuan. Sebagai penutup, saya ingin menuliskannya di sini:

kwatrin tentang bayang-bayang
seorang pria tua pada suatu petang

dia berjalan bersama bayang-bayang
di suatu petang sambil bertanya ragu:
aku yang membuat bayangan panjang
atau bayangan yang memendekkan aku?

Itu satu puisi-empat-baris yang buruk. Maafkan saya, Tuan.

Terima kasih telah dan terus menulis banyak puisi untuk dunia dan kehidupan. Saya banyak belajar dari puisi-puisi Tuan. Jaga kesehatan, Tuan.

Hormat saya,

Aan

Iklan

6 thoughts on “kepada tuan sapardi djoko damono

  1. Hati saya menangis membaca in kanda-kalau boleh sy memamggil km demikian,sbab kanda trdgr manis dan sedrhana- membayangkan suatu waktu,sy ada d antara pesrta yg akan mbca puisi,kalau pun tdk, sy ingin mnjdi bagian dr nada kata itu kalo itu mustahil maka sy hnya ingin mnjadi pendgr.. Tp yg sy lakukan saat in,adalah bersembunyi dsni.. Merasa trlalu kecil untk melangkah… :’) salam..

    • saya tidak bisa mengatur cara orang lain memanggil saya, tapi kalau boleh bersaran, panggil saja saya aan. tidak perlu ada embel-embel di depannya. terima kasih.

  2. terimah ksih juga, karena acara festifal penulis internasional di makassar, saya bisa foto bersama dengan sapardi djoko damono, krisna pabbicara, dan anda…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s