tentang satu puisi

Hari ini, seorang kawan mengirim e-mail setelah mendengar puisi yang saya baca dengan iringan gitar teman saya, @rezanmuhammad, berikut ini. Dia bilang dia senang mendengar puisi itu. Saya bilang saya senang mendengar dia senang mendengar puisi itu.

Sesungguhnya itu puisi lama. Saya menulis Dunia yang Lengang tahun 2007 lalu. Puisi itu pernah dimuat di Koran Tempo sebelum saya muat di kumpulan puisi kedua saya, Aku Hendak Pindah Rumah, yang sempat masuk sepuluh besar Khatulistiwa Literary Award 2008.


Dalam sebuah kesempatan, Zen Hae pernah mengulas buku itu dengan cukup panjang di Koran Tempo. Saya katakan cukup panjang karena ulasan berjudul Sajak Sahaya Bersahaja Saja itu dimuat bersambung selama dua pekan berturut-turut. Ulasan itu bisa dibaca di sini dan di sini.

Zen Hae menyebut puisi Dunia yang Lengang sebagai salah satu puisi yang paling berhasil dalam kumpulan puisi itu. Saya senang dipuji Zen Hae, yang waktu itu menjabat sebagai ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Dia kritikus sastra yang menurut saya keren.

*

Seorang mahasiswa Bandung juga pernah menghubungi saya, meminta izin menjadikan puisi itu sebagai film. Dia dan teman-temannya ikut LA Indiefest waktu itu. Tulisan saya tentang itu bisa dibaca di sini.

Saya pernah menonton film itu di Youtube. Saya sempat kecewa karena mereka tidak mencantumkan bahwa film itu diangkat dari puisi saya. Hahaha. Sepertinya film itu masih ada di Youtube. Kalau tidak salah judulnya 100 Kata.

*

Karena diminta oleh panitia Pertemuan Penyair Korea-Asean II untuk dimasukkan dalam antologi bersama sejumlah penyair lain dari Korea dan Asean, beberapa waktu lalu, puisi itu diterjemahkan. Saya meminta bantuan @harigelita menerjemahkannya. Berikut terjemahannya:

a world filled with space

in order to make people
talk more with their eyes,
the government came up with a strict rule:
each person is only entitled to use
one hundred and thirty words a day. no more, no less.

if the phone rings, i put the receiver to my ear without saying ‘hello’.
at the restaurant, i point my finger to ‘noodles’ or ‘coto makassar’.
i train myself carefully to abide this rule and not to waste.

at midnight, i’ll call my lover in jakarta.
with pride i’ll tell her:
i have only used eighty-eight words today.
i’ve kept the rest for you.

when she fails to answer, i’d know for certain
that she has used up all her words.
so, very slowly i’ll whisper
“i love you” to her fourteen times.

afterwards, she and i will just sit there
holding a receiver to our ears,
quietly listening to each other’s breaths.

*

Puisi itu sesungguhnya sangat sederhana. Saya menulisnya pada suatu malam sepulang dari kampus. Di depan kampus ada demonstrasi mahasiswa yang memprotes kebijakan pemerintahan Megawati. Pada bulan-bulan itu, di Makassar ada begitu banyak demonstrasi. Semuanya nyaris menentang kebijakan presiden kala itu.

Pada saat yang sama, bulan itu kekasih saya pindah ke Jakarta mengikuti orang tuanya. Kami hanya bisa berhubungan melalui telepon dan sesekali lewat surat.   Malam itu, saya menelpon kekasih saya, tetapi telepon genggamnya tidak aktif.

Di tempat makan, ketika makan malam, saya tiba-tiba membayangkan Megawati mengeluarkan satu kebijakan tentang pembatasan kata. Sepulang dari warung, saya menulis puisi itu. Sesederhana itu.

Berikut versi Bahasa Indonesia puisi itu.

dunia yang lengang

sebuah usaha, agar orang-orang
lebih banyak bicara dengan mata,
pemerintah membuat aturan ketat:
setiap orang hanya berhak memakai
seratus tiga puluh kata per hari, pas.

jika telepon berdering, aku meletakkan
gagangnya di telingaku tanpa menyebut halo.
di restoran, aku menggunakan jari telunjuk
memesan mi atau coto makassar. aku secermat
mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat.

tengah malam, aku telepon nomor kekasihku
di jakarta. dengan bangga aku bilang padanya:
aku menggunakan delapan puluh sembilan
kata hari ini. sisanya kusimpan untukmu.

jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti
ia telah menghabiskan semua jatahnya.
maka aku pelan-pelan berbisik: aku
mencintaimu. sebanyak lima belas kali.

setelah itu, kami hanya duduk membiarkan
gagang telepon di telinga kami dan saling
mendengar dengus napas masing-masing.

*

Di berbagai kesempatan, saya senang membaca puisi sederhana ini. Barangkali ini puisi yang paling sering saya baca di depan umum. Saya bukan pembaca puisi yang bagus, tetapi saya merasa membaca puisi ini mampu membuat orang-orang yang menyimaknya terlibat. Saya suka mendengar para pendengar tertawa ketika saya sampai di bagian tertentu puisi ini. Saya juga senang ketika mereka senyap sejenak kemudian bertepuk tangan. Halah!

Iklan

7 thoughts on “tentang satu puisi

  1. Dan saya suka kamu.. Saya suka melihat kamu [α̲̅d̲̅α̲̅] di beranda twit saya(branda twit? Spertinya istlh it slh,krna sy lbh serg bergaul dgn twit) sy suka kamu.. Dengan nama km yg hurufkecil yg mympn suatu kesan sederhana..dan smoga mmg demikian.. Saya suka kamu, km yg selalu ingin sy jumpai saat sy mbuka hlmn twit..sy suka kamu..km alasn sy menerskan untk memiliki twit..stlh sy d blokir seseorg yg tk ingn d liht.. Sy suka km.. Tabik 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s