empat soneta lama buat @adimasimmanuel

soneta tentang kau yang cabai merah

jika bisa biji-biji saja aku di dalam tubuh kau yang cabai
cabai merah lebih api yang darah aku tak mampu capai
lebih merah yang merah lidah aku tidak sanggup gapai
lebih merah dari hati aku yang kepada kau tak sampai

atau merah-nyalakanlah hidup aku yang selalu redup
atau merah-semukanlah malu aku yang tak mau cukup
tancapkan lancip ujung kau agar dada aku bisa kuncup
dan luka-luka aku cuma kepada bibir kau akan mengecup

dan kecup jua bibir aku yang tak seberapa tahu mengecap
agar sedikit merah dan kepada nama kau aku fasih mengucap

cuma kau cabai merah, o, cabai yang teramat rindu aku lumat
maka merah-pedaskan nasi aku yang hanya punya buah tomat
atau merah-sambalkan nasib celaka aku yang tidak mau tamat
agar utuh tubuh kisah aku mengalur di kalimat kau hingga kiamat

soneta tentang dada kau yang kubis

aku ingin tidur di dada kau yang tangkup
puas tidur pulas dengan dua mata tingkap
lapis demi lapis dada kau lepas aku singkap
atau kupas demi kupas aku habis kau santap

di luar kau, hidup membuat aku tak sanggup
pada seluruh perihal aku sudah tak tanggap
wahai, tangkaplah semua doa aku! tangkap!
atau mimpi aku yang tidak mampu terungkap

aku butuh cahaya, di luar kau seluruhnya gelap
biarkan aku masuk menyelinap dan terperangkap
semalam cuma di dada kau izinkan aku menginap

sebelum senyap malam lenyap dan pagi terkesiap
sebelum dapur, pisau dan sendok-garpu bersiap
memenukan kau sebagai makanan pelengkap

sebuah soneta yang tidak mampu kelar

sebab kesenyapan besar bunyi yang cuma desir
lewat bisikan orang dari jauh lagu itu aku dengar

syair lagu itu memang amat mencintai banyak bibir
sehingga tak ada yang tahu dari bibir siapa ia lahir
namun aku tak mungkin salah: bibir kau paling mahir
menyanyikannya sebagai mantra-mantra penyihir

petikan gitar yang mengiringinya cacat bergetar
namun justru itu membuat aku semakin berdebar
menerima semua kenangan yang semula samar-samar
yang bertambah hingar saat lagu itu habis terdengar

kau tiba-tiba mekar menjadi belukar tidak berpinggir
di tengah-tengahnya aku kesasar tak tahu jalan keluar

soneta tentang seorang pembajak di langit

langit luas hamparan lautan buas yang amat berbahaya
di sana berkuasa seorang pembajak: malam namanya
sekarang ia hanya punya satu mata yang masih menyala
satu mata yang lain mati kena tombak entah milik siapa

karena marah kau sendiri di kamar, di balkon aku duduk
mendongak ke langit menatap sebelah mata pembajak itu
satu-satunya mata itu putih penuh bercak-bercak katarak
tetapi tetap menatap tajam bercahaya tidak hendak mati

pepohonan dan rumah semata bayangan yang janggal
awan helaian kafan telah jutaan kali membungkus mayat
dua mata aku masih lengkap namun bebilah pisau majal

berhenti menatap mata pembajak aku masuk menutup pintu
hendak membujuk kau tapi menemukan pecah jendela kaca
pecah mata aku menangis, o, seorang telah membajak kau


catatan buat @adimasimmanuel:

Dimas, saya sering berkunjung ke http://www.kawahluka.blogspot.com – Saya menyukai kelihaian kamu memainkan kata dan bebunyian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s