begini rasanya ketinggalan pesawat

—suatu siang di bandara sultan hasanuddin

pukul siang. jalan-jalan dibersihkan dari kendaraan. taksi bernomor 65 (mengingatkan aku pada tahun lahir ibuku dan pembantaian jutaan manusia) yang membawa aku ke bandara dihentitepipaksakan beberapa polisi lalulintas. presiden sedang datang bertandang.

kata lembar tiket yang aku beli mahal di sebuah usaha travel murahan, aku harus check-in paling telat pukul 12.30. kata sopir taksi, sudah pukul 12.10. tetapi ia tidak yakin pada ketepatan jam duduk di depan setir taksinya. aku juga tidak yakin pada ketepatan angka merah berkedip-kedip yang tertera pada argometer.

tiba di bandara beberapa menit kemudian. bayar taksi dan menunggu uang kembalian. petugas berseragam memeriksa tiket. barang-barang melewati mesin sensor. ponsel di kantongku membuat pintu mengeluarkan bunyi menyebalkan. beberapa orang menangkap wajahku tetapi aku buru-buru. sialan! aku ketinggalan pesawat, kata seorang gadis yang seharusnya lebih cantik jika ia lebih murah senyum. aku juga. telat tidak lebih dari lima menit.

aku kutuk kepelitanku pada sopir taksi, tidak merelakan uang kembalian. aku kutuk petugas yang memeriksa tiketku sambil berbincang di telepon. aku kutuk mesin sensor yang penuh kecurigaan. aku kutuk ponsel di kantong celanaku dan pintu yang berbunyi membuat langkahku terhenti beberapa saat. aku kutuk jam sopir taksi yang tidak tepat. aku kutuk polisi yang menghentikan taksi. aku kutuk presiden yang gemar prihatin itu karena datang bertandang saat aku mau pergi.

aku bersandar di depan toilet, di bawah tanda larangan merokok. aku lesu dan lusuh membayangkan tubuhku duduk mengunyah permen di kursi pesawat atau suara dan gerak pramugari bicara tentang cara menyelamatkan diri dari kejatuhan.

*

tiketku hangus di tangan yang basah oleh peluh. aku harus membeli tiket baru. harganya 3 kali lebih mahal. pesawat berangkat 3 setengah jam kemudian. aku tunggu saja di sini, di ruang tempat para penumpang berpisah dengan keluarga atau kekasihnya. aku tak mau pulang dan malu pada orang-orang yang baru saja melambai. aku tak mau lagi mengutuk polisi dan sopir taksi. aku tak mau uangku habis membeli tiket mahal yang kemudian hangus di tanganku yang selalu berpeluh.

tak ada orang yang bisa diajak berbincang. sebagian sedang terburu-buru, sebagian sedang bersedih minta dipeluk sebelum ditinggalkan. aku sedang tidak ingin mengutuk siapa-siapa lagi termasuk diri sendiri. di bandara 3 setengah jam lama sekali. bisa habis satu novel atau setengah selusin majalah.

aku pergi ke toko buku. mencari-cari satu buku pembunuh waktu. uang kembalian sopir taksi tadi mungkin bisa ditukar dengan selembar novel tipis. di rak buku aku cari nama pengarang yang tak aku kenal dan tak mengenalku. aku tak mau bertemu orang yang aku kenal, termasuk penulis novel.

akhirnya, aku bertemu novel yang menginginkan uangku pindah. sampulnya sedih sekali. biru langit, seperti warna menjelang hujan (mengingatkan aku pada warna logo pesawat yang meninggalkan aku). novel cinta. kata penjualnya baru saja masuk dua minggu lalu.

aku mulai membaca halaman pertama. halaman tempat pengarang berbasa-basi. berterima kasih dan tak mengutuk siapa-siapa. dia berterima kasih kepada tuhan dan orang tuanya yang sudah meninggal. dia berterima kasih kepada editornya yang bekerja keras dan rewel membetulkan seluruh kesalahannya. dia juga berterima kasih kepada nama-nama yang disebutnya sebagai sahabat—yang kemungkinan bisa membantunya menjual novel itu.

setelah berterima kasih kepada pembaca yang mau membuat waktu membaca novelnya, ia mengucapkan terima kasih yang istimewa kepada kekasihnya. aku mengenal nama kekasihnya. sangat mengenalnya. ternyata, perempuan yang dua bulan lalu meninggalkan aku tanpa kata-kata itu jadi kekasih penulis yang baru menerbitkan novel pertama.

Iklan

7 thoughts on “begini rasanya ketinggalan pesawat

    • haha. terima kasih. seringkali kesialan datang berentetan dan membuat kita tertawa saking menyedihkannya. hidup.

  1. aku kemarin juga ketinggalan pesawat,lebih bodoh lagi karena ketiduran. Aku yang harusnya pulang pake tiket gratis dari kantor terpaksa keluar duit sendiri buat beli tiket yang dua kali lipat harganya. Ha ha ha…

    • haha. kisah ketinggalan pesawat selalu menyenangkan ketika diceritakan ulang. selalu ada peristiwa yang bisa kita gunakan untuk menertawai diri sendiri. terima kasih telah membaca tulisan saya.

  2. Kakak, perkenankan aku mengeluarkan sisi kekanak-kanakanku yang semoga tidak lancang: boleh aku request cerita yang happy ending, kakak? Masalahnya aku selalu hanyut dalam tulisan-tulisan kakak. :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s