seusai membaca neruda, tiga melankolia

1

warung kecil depan rumah menjual deterjen. aku beli selusin untuk mencuci baju, celana, aroma tubuhmu, dan air mataku sendiri, sebelum kenangan kekal sebagai noda yang harus aku bawa ke mana-mana.

matahari yang berlari-lari di atas jemuran temali telah pula menguapkannya ke langit untuk kemudian turun sebagai biji-biji hujan dan kembali membasahimu. menyamarkan air matamu di sebuah jalan entah di mana, saat engkau berjalan sendiri tanpa siapa menuntun lenganmu.

tetapi gendang telingaku tak pernah mampu dibersihkan dari pengeras suara yang memanggil namamu di bandara malam itu, sesaat setelah kita bersepakat pasrah dikalahkan oleh waktu lalu berpisah tanpa ada yang berani menjanjikan pertemuan sekali lagi.

2

sepatu dan kaos kaki yang membuat geli, baju penghangat, minuman dingin, dan nasi dalam kemasan warna-warni, juga dokter lulusan luar negeri, bahkan bait-bait puisi, manisku, tak bisa mencegah usiaku dipanen paksa. dan masa kecilku, waktu itu, masa remajaku, matangku, jalan-jalan tanah, udara pagi, dan kaki-kaki telanjang, juga sepasang mataku, cerminmu, telah pula hilang dan, sialan, pencurinya tak pernah tertangkap.

lalu seluruh kau, nasibku, siapakah yang menyembunyikan aroma parfum, suara, dan jari-jarimu dariku? kenangan kini, telah bertahun-tahun jadi pertanyaan tanpa seorang pun mampu menemukan jawabnya untukku.

di ruang tengah rumah ini, koran-koran dan televisi sibuk menawarkan aneka jenis kepedihan untuk menu sarapan dan makan malam. dan halaman di depan kursi beranda membawa rangkaian bunga-bunga. setiap hari, setiap waktu, sebagai perayaan kematianku. dan di belakang rumah ada sumur tua sejak lama berulang menimbun belulangku.

di atap rumah, masih ada satu matahari, warna kuning dan kadang jingga atau emas. kadang pucat bagai mayat, bagai wajahku. dan, sungguh, ia masih hangat seperti dulu. hangat seperti air mataku yang jatuh di bukit pipimu malam itu, saat itu, saat terakhir, sebelum waktu tak mampu melakukan apa-apa selain menyiksaku

dan sempurna merahasiakanmu

3

nomormu di memori ponselku menyimpan jutaan percakapan untuk kuputar dan kudengar ulang berkali-kali setiap saat, setiap menginginkan namaku dipanggil bagai kanak-kanak. kemarin aku menghubunginya. ia tak lagi aktif, kata seseorang, yang dibayar khusus untuk itu.

lalu ke mana aku mengirimkan selembar obituari diriku ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s