catatan lama perihal masa lampau ketika mata lampu mati

empat tembok yang berdiri mengepung seperti ditumpahi tinta atau cat hitam. lampu pijar matahari kecil itu, yang lebih senang kau sebut bintang, tidak lagi aku lihat bergantung di langit kamar.

inilah yang aku mohonkan di setiap doa. kamar gelap dan kau bisa kubayangkan datang dan telentang di sisiku. mengeluhkan haidmu telat seminggu, sedikit perih di sekitar payudaramu, atau sekadar memintaku mengelus rambut atau punggungmu.

inilah yang aku tunggu di setiap malam. alam kelam dan aku bisa menangis sambil mengulang-ulang namamu tanpa seorang melihat mata-basahku.

di saat yang sama, biar kutebak, apa yang sedang kau lakukan. kau menyalakan sebatang lilin dan mengulang-ulang membaca puisi yang aku selipkan di saku jaket biru tuamu, sesaat sebelum tangan kita saling melepas. kamu sesekali menggigit bibir mencari ciuman-ciuman lama dan mendongak menahan tangis.

atau kau sedang khusyu meminta agar lampu segera kembali bercahaya. sebab kau tak mampu menahan kenangan yang melayang-layang ingin membawamu pulang.

2005

One thought on “catatan lama perihal masa lampau ketika mata lampu mati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s