hantu penyanyi

Ia menekan-nekan tuts keyboard mengetik
kata ‘piano’ lagi dan lagi, juga titik dan koma,
sambil dalam hati menyanyikan lagu ciptaan
sendiri—yang ia hafal sisa beberapa bagian:

1. Berdering-dering ‘halo’ yang aku kirim
sejak bertahun-tahun lalu belum kau
jawab hingga sekarang. Aku tahu kau
dengar.

2. Kepalaku kampung, dipenuhi anak kecil
yang berlarian mengejar bayang-bayang
mereka sendiri. Aku melihat diriku.

Di layar komputer ia melihat ‘piano-piano’
seolah dikerubungi sekawanan semut. Jika ia
pemabuk, pikirnya, tanda-tanda baca itu akan
menyerupai kunang-kunang.

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu
ia akan menjadi penyebab.

*

Meski tidak mabuk, ia masuk kamar mandi.
Ia menyiram kepalanya. Ia mengosongkan bak.
Ia tetap tak mampu menghafal lagu ciptaan
sendiri.

Sisa-sisa air yang tertinggal di telinganya
seperti bisikan kekasihnya yang pergi.

Setelah melepaskan handuk ia tiba-tiba tidak
bisa membedakan kantuk dengan angin. Ia
berjalan ke tempat tidur tanpa mengenakan
apapun kecuali rambut yang tergerai basah
dan bekas luka.

Ia memejamkan semua mata lampu kemudian
memejamkan matanya. Ia melihat di halaman
bunga satu demi satu mekar bersama masa
lampau.

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu
ia akan menjadi penyebab.

*

Ia tidur seperti tanda kutip dan semua
yang ia lihat dalam mimpi adalah pahlawan.
Baginya yang pahlawan hanya bunga-bunga
dan anak-anak. Tetapi bukan itu maksudnya,
katanya ketika ia terjaga tiba-tiba oleh suara
sirine yang semakin mendekat.

Ia bertanya-tanya apakah ia harus terjaga hingga
pagi agar mampu kehilangan mimpi. Ia tidak
mau dikejar-kejar mimpi masa kecilnya
terus-menerus.

Sebab masa kecil amat rakus cuma menyisakan
orang-orang yang berjalan mundur.

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu
ia akan menjadi penyebab.

*

Ia lapar. Sangat lapar. Ia seolah ingin memakan
malam dan seluruh isinya—seperti yang ia lihat
di jendela. Bulan sudah habis ditelan pelan-pelan
oleh bayangan bumi.

Di tengah laparnya, ia lihat mobil jenazah berhenti
dan menunggu di depan rumah tetangga. Ia takut
dan beberapa bagian lagunya yang hilang
tiba-tiba pulang.

1. Jika aku menyukainya ia bernama
kesunyian. Jika aku membencinya
ia bernama kesepian.

2. Aku akan pergi, aku akan segera pergi.
Begitu juga denganmu. Begitu juga
mereka.

Ia bernyanyi dan bernyanyi sendiri hingga
ia raib ditelan suaranya sendiri.

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu
ia akan menjadi penyebab.

*

Malam-malam berikutnya, penyanyi itu
menghantui rumahnya sendiri–dengan
lagu ciptaan sendiri.

April 2011

One thought on “hantu penyanyi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s