tiga surat pendek

1.

saya tersenyum untuk menghangatkan airmata ketika membaca puisi yang kamu kirim hari ini. kamu memasak makanan kesukaan saya untuk sarapan dan makan siangmu. kamu membuat segelas jus tomat untuk menemanimu menjahit baju buat cucu-cucumu. kamu membaca surat saya, seolah meninabobokan rindumu yang selalu kumat. kamu menyiram bunga dan memberi makan kucing-kucingmu sambil mendoakan saya.

ibu, saya merasa sebagai orang paling beruntung di dunia ini. saya pernah mendekam di rahimmu, surga itu, lebih duabelas bulan, bukan sembilan bulan. kehidupan di luar rahim, seperti ibu tahu, tidak lebih sebagai mimpi buruk yang indah, atau mungkin sebaliknya. sungguh, andai memungkinkan, saya ingin sekali merayakan ulang tahun di rahimmu, mata air seluruh puisi, sekali lagi.

terima kasih, doa, dan segala yang mampu saya beli tidak pernah memadai untuk semua itu, ibu. maaf.

2.

satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh…

kenapa kita harus merayakan hari ulang tahun mengikuti deret hitung? kenapa kita tidak merayakannya secara acak? hari ini, saya ingin sekali merayakan ulang tahun saya yang ketujuh, usia ketika saya masih mampu memeluk kamu dan kamu mampu mencium saya. saya berjanji, tidak akan mengulangi kesalahan saya. saya tidak akan menolak dicium seperti dulu ketika kamu hendak meninggalkan rumah—untuk terakhir kali.

saya percaya, kamu mencintai saya meskipun selama ini kamu cuma berada di surat-surat saya yang tidak pernah terkirim, surat-surat yang ingin sekali tahu alamatmu. tetapi, alangkah saya ragu apakah kamu tahu saya juga mencintai kamu.

hari ini saya ingin sekali merayakan hari ulang tahun saya yang ketujuh, usia ketika kamu masih mungkin mendengar saya mengecupkan kalimat ‘saya mencintai kamu’ sehangat mungkin.

satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh…

kenapa kita harus merayakan hari ulang tahun mengikuti deret hitung, ayah?

3.

saya mencintai kamu dan kehidupan. umur adalah sumur. semoga orang lain bisa minum, mencuci, dan mandi dari mata airmu. selama berulang tahun, diri sendiri.

makassar, 14 januari 2012

10 thoughts on “tiga surat pendek

  1. Happy bday Mr.Tomato :’D
    semoga kehidupan semakin menggelora (seperti merah tomat) dan semakin penuh kejutan (seperti rasa tomat)
    salam dari Bali

  2. saya tidak tahu, apakah ini sudah lama diposting atau tidak. yang saya ingin tahu kalau surat pendek ini tak bisa didefinisikan dengan seluruh kata yang sempat disebut. ia besar dengan seluruh huruf kecil yang membangunnya. ia enggan menggunakan huruf kapital meski titik sudah di gambar. sekali lagi. surat pendek ini mewakili rasa, samsa, dasta, serta karsa bagi siapa saja yang singgah membacanya. terimah kasih. surat pendek ini akan hidup panjang di memoriku. menjadi referensi sekaligus semangat dalam menanam bunga matahari. terimah kasih, terimah kasih…sungguh hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s