Sejumlah Puisi Hasan Aspahani dengan Nama Saya di Bawah Judulnya

Hasan Aspahani adalah penyair yang paling banyak mempersembahkan puisinya buat saya. Kami memang sering belajar berpuisi bersama–lewat dunia maya tentu saja. Berikut beberapa di antara sejumlah puisi yang dia tulis buat saya.

Di Matamu, Pejamku Berlabuh
: M Aan Mansyur

PADA secawan coto itu,
kita dengar lidah bersabda:
Tuntutlah rasa sampai ke
negeri Mangkasara.

Lalu, kita saling suap,
dengan satu sendok yang
sama, dan saling memejam,
menebak apa yang akan
terjadi di lidah kita, oleh
panas, pedas, kental, dan
keruh kuah.

“Ini sendok yang keberapa?”
kita saling tanya. Aku
berkali-kali menyayangi
sebilah sendok, lalu patah
atau hilang begitu saja.

Sendok itu, di suatu hati
yang membentang laut sendiri,
menjadi pengayuh di tangan
seorang pelayar yang asing.

*

Pada secawan soto itu,
kita tebak yang tertakung,
di sendok cekung: babat,
usus, paru, hati, dan limpa,
atau jantung? Segalanya
serba sepotong, dan api
di dapur belum padam,
telah menyala berjam-jam.

Engkau sejak semula telah
bilang, “nanti aku akan
menangis,” dengan air
mata pedis yang membuat
mataku memar, sememar serai,
hijau seperti taburan daun
seledri, yang semalaman kau
iris tipis-tipis, sangat tipis.

Kita bisa saja lupa pada
kecap, atau perasan jeruk
nipis, pada ayat di kitab,
atau petikan riwayat hadis,
atau pura-pura tak tahu
pada ruap uap lengkuas,
tapi pada saat-saat manis,
setelah bergundah seperti
ini, bisakah kita saling
meniadakan? Menghapus yang
begitu saja ada di sana?

Nama yang membaca kita?

*

Rawan, bimbang, mengapung
bagai iris-irisan dari
sebatang: panjang daun bawang,
sendok kita, mengaduk,
seperti dayung perlahan
mengelak rumpun kiambang

Genangan yang mendanaukan
gerimis, sepasang airmata kita.

Di mulutmu, mulutku menepi
Di lidahmu, lidahku bertambat
Di matamu, pejamku berlabuh.


Aku Coba Mengerti Galaumu, Galau Kita Itu

: Aan M Mansyur

KALAU engkau galau, aku akan engkaukan aku. Galau kita itu, ia datang dari segala kala, ia singgah dari seluruh walau.

Ya, galau itu adalah walau, bukan kalau. Walau yang mudah dihalau. Kalau kelak menawarkan atau, bagi aku dan bagi engkau.


Penyair, Buah Apel, dan Dokter yang Cantik

: M Aan Mansyur

PADA suatu pagi, dia menjelma jadi burung kecil
Lalu ia terbang dan hinggap di dahan pohon apel

Di situ dia berkicau: tentang cinta yang kacau,

Dia tahu Si Dokter Cantik itu menyimak lagunya, risau,
dari tingkap kamar, hati yang baru saja menguak mata

Ada sebuah apel jatuh, berbekas pagutan kelelawar!

Kelelawar itu terkapar, kematian menjadi sangkar
Seringai taringnya berkata: aku mati tak sia-sia!

*

PADA lain pagi, dia menjelma jadi burung biru,
Dan terbang lalu hinggap ragu di jendela itu…

“Aku mau jadi pasienmu. Beri aku nasihat medis,
untuk derita-hati dan kelainan-jantungku,” kata
si burung biru, Si Dokter Cantik tak mendengar

Ia terkurung hingar, pengering rambut menari, di
rambutnya basah, mimpi lebat hujan malam tadi…

Ada lagi buah apel jatuh, menimpa kodok hijau!
Keduanya: apel dan kodok itu, membusuk bersama

*

PADA suatu waktu, ia tak peduli apakah itu pagi
Ia menjadi burung kecil, dengan ekstemporanea,
140 lambang bunyi, menyambung galau jadi medley,
lalu hinggap dari ranting ke ranting pohon apel

Ia mendengar Si Dokter Cantik itu beriang beria

Menyanyikan: biar cinta, biar cinta… Dia lupa,
itu lagu Kahitna atau lirik Katon Bagaskara?

Ketika itu tak ada buah apel yang jatuh lagi…


Apa Kabar Jantungmu?

: M Aan Mansyur

AKHIRNYA kita bertemu
di kota bernama Jakarta.

Sejak di bandara bernama
Soekarno-Hatta, padamu aku
sudah ingin bertanya:
masihkah Jantungmu itu mau
membunuhmu dengan indah?

Ataukah telah dia lepaskan
badik (yang tak pernah kau
sebut dalam sajak-sajakmu)
yang hendak ia tikamkan
itu, yang sudah sejak lama
ia tajamkan di dalih lidah,
di keras batuasah?

“Oh,” katamu, “Badik itu kini
jadi pembatas buku.”

Jantungmu itu, kini menjadi
kutubuku.

Ia suka sekali membaca
sajak-sajakmu. Walau harus
menduga-duga banyak hal,
menebak nama-nama yang sering
kau sebut di sana, dan
sesekali tergoda, ingat pada
keinginan lamanya.

*

Di kota bernama Jakarta kau
membeli banyak sekali buku.
Aku kira itu oleh-oleh untuk
Jantungmu.

“Di perpustakaan kami,” katamu,
(aku menduga siapa dia yang
jadi kami dengan kau di kata
ganti orang pertama jamak itu)
banyak sekali pembaca seperti
Jantungku itu. Mereka datang
mencari buku yang pas untuk
dicumbui saat hati sepoi sepi,
setelah atau menjelang kekasih
pergi.”

Aku bayangkan, akan banyak
sekali badik, yang harus kau
persiapkan untuk menjadi
pembatas buku-buku baru itu.

*

Dan kau bercerita tentang
bukumu sendiri yang tak perlu
badik sebagai pembatasnya,
yang tak pernah bisa selesai
kau tulis dan kau baca.

“Buku itu, seperti badik,
tertancap abadi di Jantungku!”
katamu. Buku itu, bercerita
tentang perempuan yang memeluk
kekasihnya, di sebuah diskusi
buku puisi, di sebuah tempat
bernama Taman Ismail Marzuki.

“Pelukan yang lama tapi tak
cukup lama baginya untuk
memastikan bahwa badik lain yang
bernama Cinta (atau tentah apa)
itu masih tertanam dan tumbuh
subur di dalam tubuhku,” katamu.

Akhirnya, aku mendengar cerita
itu langsung darimu, di kota
bernama Jakarta, kota yang kini
menyembunyikan si Pemeluk itu.

Apa yang Kamu Tak Tahu Tentang Balikpapan
: Aan M Mansyur

1. Kantor Redaksi Surat Kabar

KANTOR itu ia capai dengan dua kali berganti
angkutan kota. Tentu tak sempat ia singgah
di tempat kos untuk menukar seragam sekolah.

Pelajaran tambahan di situ ia dapatkan, banyak
guru, satu mata pelajaran: Ilmu Pengetahuan
Kehidupan (langsung praktek, dan langsung ujian,
sejak hari pertama ia mendaftar dengan 40
lembar kartun yang ia gambar sendiri semalaman)

2. Sekretaris Redaksi yang Cantik

IA membuat kantor itu seperti miniatur surga
yang dijaga malaikat-manis, berbibir bak segelas
sirup di kantin sekolah sehabis upacara bendera,
mereka rela berebut demi mengecup merah dan
mengecap manisnya, langsung dari bibir-(gelas)-nya.

3. Dia Ditelepon oleh Seseorang

ITU percakapan lewat telepon pertama dalam hidupnya.
Si malaikat-manis menerima, dan senyum manis di
bibirnya itu menular ke matanya, menular ke pipinya,
menular ke gigi-giginya, “Telepon buatmu (ia
sebut nama adik kelas yang memenuhi otaknya). Ayo,
dia siapa? Cewekmu, ya?” Sebuah pelajaran penting
ia terima: Cinta membuat kemanisan menular ke mana-mana.

“Halo..”
“Ya..” (dia tak tahu arti kata Halo, dan tak tahu
apakah harus menjawab dengan kata itu juga)
“Aku cuma mau tahu apakah kamu sudah sampai
di kantormu…”
“Ya…”
“Sudah, ya…”

Ia serahkan lagi gagang telepon, ke si malaikat-manis,
dengan gemetar yang makin ada. “Kamu grogi, ya?
(katanya, dan senyumnya makin menular ke mana-mana)…

4. Malam Harinya Dia Menulis Sajak

IA menulis sajak tentang seorang lelaki SMA bermimpi
menjadi cupid, menghabiskan semua anak panah, menikam
dadanya sendiri. Sajak itu, esok malam, ia bacakan
bagi si adik kelas yang kemarin meneleponnya.

Orang-orang yang antre heran, kenapa dinding-dinding kaca
telepon umum itu seperti bergetar dan bercahaya.

Iklan

3 thoughts on “Sejumlah Puisi Hasan Aspahani dengan Nama Saya di Bawah Judulnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s