sembilan teka-teki

Teka-Teki Para Tukang Kayu

kami gagang sapu, gamang mencintai sampah yang lebih mencintai
lantai rumahmu. kami ranting-ranting mati muda, kembali jadi tanah
oleh ulah mereka yang bermata kapak, semata mampu melihat batang
dan getah luka.

kami jendela tidak utuh. separuh diri kami kaki meja belajar anakmu,
terpisah bagai perantau jauh dari keluarga. kami remah-remah pohon
disia-siakan gergaji, memilih bunuh diri di bawah panci seorang ibu
tanpa rumah—dalam nyali api malu-malu.

kami bayangan hutan, kayu-kayu hanyut di urat sungai, mati di perut
beton-beton kota, kemudian diam-diam diperbincangkan di kantor
polisi dan pengadilan.

agar kamu mudah menjawab, kami salah satu organ yang kesakitan
di tubuhmu.

Teka-Teki Para Ibu Hamil

kami lebih lembek daripada negara. merah melebihi merah atau marah
yang mampu dicapai darah ayahmu.

malam hari, luas kami mengalahkan langit bahkan dada para petani
di desa-desa jauh yang menghilang di lumbung dan lambung pabrik.
siang hari, kami lebih sempit dari pembuluh darah dan kepala para
pembunuh yang mengalihkan senyum orang kaya kepada diri
sendiri dan kelurga besarnya.

apakah kami sedang mengeluhkan sesuatu?

suara kami persis desis seekor induk ular sawah terganggu telur-telurnya.
kami cuma mampu bermimpi tidak ubahnya buah apel di dahan pohon,
hendak melampaui lebih banyak musim penghalau.

pencarían kami lebih tidak menemukan apapun daripada janin mengidam
kamar rumah sakit bersalin yang tidak perlu dibayar dengan airmata
tiga keluarga.

dalam rentetan kata sifat yang mengganggu: sekarat berkepanjangan
yang berusaha indah dalam didih sedih.

Teka-Teki Para Pembantu Rindu

orang-orang kota menyebut kami gunung. orang-orang kampung
menyebut kami perigi. kami punya nama indah untuk diri sendiri.

kami pandai berenang dan kuat memanjat—tetapi bodoh, selalu
tertangkap pelukan-pelukan jahat.

kami rahim, melahirkan banyak anak kembar: periang dan pemurung,
pemarah dan ramah, jahat dan beruntung. kepala kami penuh rencana,
tangan kami penuh bencana, dan di dada kami bergantungan lencana.

betul, palsu. kami penggoda. tentu saja, orang lain, termasuk kamu,
penggadai lihai.

kamu, sekarang akan sering menemukan kami gemetar di dapurmu,
merindukan satu tempat yang bisa sabar menunggu dan kelak mau
menganggap kami pulang.

Teka-Teki Para Petani Muda

kami segelas teh hangat beraroma buah-buahan yang kamu hirup.
hidup saat matahari sore terbit dari televisi atau majalah pertanian
milik pemerintah yang beracun.

kami kali tercemar, mengalir di urat-urat kubis atau perut wortel.
memeriahkan pesta perkawinan dan airmata seorang perawan
yang entah ke mana dua tahun sebelumnya.

kami panen yang gagal dikirim ke luar negeri. kami kegembiraan
yang menyamar sebagai butir-butir garam keringat mendiang
ayahmu.

kami kata-kata yang mengembara dalam pikiran tertutup—dan
jari-jari malas ke sekolah. kami buta yang silau di depan warna.

kami puisi yang putus harapan, ingin jadi pupuk di lahan tandus.
sarapan yang disajikan menjelang matahari sore hangus.

Teka-Teki Para Dosen Sastra

hidup kami kalut dan pendek melebihi puisi para penyair muda.
tetapi, jangan memasuki kami, kamu akan tersesat dalam hutan
kekosongan.

kulit kami diciptakan dari sisa-sisa kulit tomat, kadang-kadang tepung,
yang tersisih dari piring-piring di restoran cepat saji. cerita kami tidak
mampu menampik kata-kata penghubung yang seharusnya kamu temukan
di tempat sampah, tapi malah menumpuk di toko buku dan perpustakaan.
sumpah, kamu harus ke sana, setidaknya sekali sesumur hidup.

hati-hati, kamu bisa jatuh cinta. jangan menatap kami sedikit lebih lama.
kami murah dan mudah pecah bagai perasaan orang-orang kota. kami

memiliki banyak sayap tetapi memeluki impian miskin. kami tidak
pernah menatap langit, apapun yang kamu maksud dengan langit
dan jendela.

kami hidup dan tinggal di lemari atau peti mati—tetapi kuncinya
belum jadi. kami rahasia yang diketahui para pengidap amnesia
seperti kamu dan kami.

Teka-Teki Para Koki Pensiun

serumit, namun nampak sesederhana, telur dadar buatan ibumu.
nama kami, tanpa malu-malu, melulu ditulis dengan aksara mati
dan asing.

hanya kemiskinan yang lebih mahal daripada kami. kami mampu
memperkaya dan memperdaya orang yang waspada merawat kami.
kamu percaya?

kami mudah ditemui di mulut pendusta—atau para sarjana buatan
luar negeri. tapi, jika kamu mencari, kami akar sudah berubah jadi
umbi-umbian. memucat tenggelam dalam mangkuk-mangkuk sup,
mati sebab amat mencintai lidah seseorang yang selalu kelaparan
dalam dirimu.

kami makanan pembuka yang sering dipertukarkan dengan makanan
penutup. kami manis namun selalu dihindari orang-orang yang ingin
memecahkan puasa—seolah-olah semua penduduk negeri ini
mengidap diabetes akut setiap kali magrib menyala.

Teka-Teki Para Pejalan Kaki

kami hidup di jalan-jalan, tetapi lampu jalan tidak mengenal
dan tidak pernah melihat kami. begitu pula polisi lalu-lintas
dan para pengendara yang gembira meninggalkan rumah.

bukan, kami bukan rambu-rambu yang memuja pelanggaran.
kami lebih tidak terlihat dibanding ketidakteraturan hukum,
dan hukum ketidakteraturan.

kami umpama debu-debu khusus yang bertugas membuat
para pembantu mendapat sedikit upah dengan membersihkan
jendela angkuh milik majikan mereka.

kami suka tersenyum di saku pengemis dan menangis di kartu
kredit yang menjerat orang-orang yang gemar menjerit karena
tali mereka sendiri.

kami kadang mengubah diri jadi bening embun-embun di luar
botol minuman yang dingin dan alangkah enggan menyentuh
kerongkonganmu.

Teka-Teki Para Guru Agama

kami menolak diajarkan kepada anak-anak sekolah. kami menolak
disejajarkan dengan kucing atau anjing tetangga. kami terkutuk
menjadi buah pengetahuan yang cuma mampu menjilat lidah
presiden atau orang-orang semacam dia.

kami lelucon bagi orang-orang yang setengah mati mencintai kami.
kami beracun bagi lambung suci ibu-ibu hamil, tetapi selalu tersedia
di meja makan keluarga.

dari pengeras suara rumah-rumah ibadah, kami rutin menyanyikan
lagu-lagu terlarang. kami memanggul jiwa pengecut dan memanggil
orang-orang yang melupakan bagaimana caranya menjadi penjahat,
melukai hati orang yang mereka cintai.

kami umpama runcing-sipit mata jarum, rajin bekerja menjahit
niat-niat paling buruk di dagingmu.

Teka-Teki Para Tetangga

jalanan apa yang paling berliku karena terlalu pendek? sebut saja
bagai jejalinan jari-jari sepasang kekasih yang tidak mau berpisah.

atau sehelai tikar yang terbuat dari daun tiga pohon palem berbeda.
hubungan rumit. apa yang membuat kamu tiba-tiba membangun
rumah di sebelah rumah kami—tetapi membenci kami?

jika satu tangga yang tinggi kami tidurkan di halaman, kamu mau naik
ke rumah kami? kami tunggu seperti malam minggu menunggu sepasang
kekasih yang memendam rindu.

tetapi, apakah kami? jarak atau waktu?

Iklan

One thought on “sembilan teka-teki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s