sebuah buku kecil: puisi 20 bab

Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

–untuk yang kita sebut Indonesia

1. Kunang-Kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh, bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
menjadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang

2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih maha menipu.
samasekali tak ada waspada mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke dalam tebing, seolah mengorbankan diri

dan kita mengapung di permukaan jejak mereka yang mengepung
—di sini

kita berkesedihan, berkesedihan, berkesedihan tidak berkesudahan
terpaksa tersiksa merindukan dan mereka-reka kapan mereka
datang menipu kita sekali dan sekali lagi.

mereka butuh tubuh terjatuh ke dalam tebing sendiri
untuk hidup. berkali-kali. kita betah dan tabah menyadari
kesedihan hanya reda oleh kesedihan yang berulang kali.

sepanjang kala.

3. Airmata Mati

yang berjatuhan dan tak bisa kembali ke langit mereka:
airmata yang tiba-tiba mati dan tinggal dalam ingatan

berwaktu-waktu mengasuh dan mengasah diri
menunggu hingga alir airnya menggelombang
dan busa-busanya menggelembung

lalu kelak dengan mudah bisa menelan habis kita

dan kini apa yang mampu dielakkan
oleh kita kecuali kata-kata?


4. Jalan Melempang dan Melengang

tak ada lekuk liku dan yang menyimpang atau turun
dan mendaki bisa menyembunyikan kita,
pelangkah-pelangkah takut yang mencari suaka

jalan itu terus melebar ke mana-mana,
membawa kita tidak ke mana-mana
selain ke tempat berangkat—selalu ke semula

jalan itu tak menyimpan ujung dan tujuan
kita tersesat di kerataan yang maha lapang
menjadi kecil, lebih kecil dari yang lebih kecil dari debu,
di telapak tangannya

lalu kita telah menjadi yang paling panik dan renik
akan remuk dalam lengan-lengan lengangnya

memang kita belum mati,
hanya lebih tersiksa dari hidup
dan tersiksa mengharap tidak hidup

5. Kitab-Kitab Penyesat

memiliki warna-warni lembut dan sejuk
seperti bayang-bayang yang menghalau kemarau
dan orang terhindar dari mati diminum dahaga

kita memasuki halaman-halaman
dan mengetuk pintu-pintu mereka

bermimpi tidur di pelukan kata-kata
dan kalimat mereka—yang rupanya
muslihat

apa? dengan sakit kita mendatangi apotik
yang menjual rupa-rupa racun

o, kita sendiri yang mengetuk
untuk masuk mengambil kutuk!

6. Rimba Suara

kita dulu memang mencintai tumbuh-tumbuhan
nenek moyang kita paling petani. rahim subur
yang melahirkan kita ialah tanah-tanah gembur

namun tersisa apa ingin kita buat hijau kini?

lalu muncullah mereka, suara-suara itu,
yang mula-mula sembunyi di mulut kita sendiri
yang malu-malu menyebut diri kawan
tapi enggan pula menyebut diri lawan

kita tidak sedang membangun surga dengan rimba
lalu ada buah-buahan menyelamatkan
dan mengirim kita ke bumi yang kosong
dan kita mulai bisa menggarap hidup

rupanya kita menimbun diri sendiri di rimbun
suara-suara yang hutan itu—yang kuat
melampaui daya hantu tuhan-tuhan

7. Bayangan-Bayangan Kita

bukan bayangan hitam tanpa cahaya mata
bukan mahluk mati tanpa kita

mereka sekawanan menyerupai-kita
dengan pikiran yang membolak-balik
pengetahuan kita

kita berpikir telah melahirkan mereka,
mereka berpikir kita anak-anak durhaka
yang meminta hukuman

medan perang adalah cermin
namun mereka lebih gesit bergerak
dan kita mengikutinya—kita menampar
wajah kita ketika mereka menampar wajah kita

kita menangisi diri kita
ketika mereka menertawai kita

8. Gelap Tanpa Jendela

bukan gelap yang mampu menyalakan
mata-mata lampu dan masa-masa lampau

bukan gelap yang sanggup meniupkan
hidup ke bintang-bintang sudah mati
atau sedih mata binatang-binatang

tapi gelap yang tubuhnya lebih tebal
dibanding dinding benteng-benteng,
yang tumbuhnya lebih lebat dari bentang
langit bunting yang runtuh menjadi hujan
dan hutan

(sungguh, itu gambaran yang masih kurang)

gelap panjang akal yang senang menyerang
nyala yang bersarang di kepala dan dada kita

gelap tanpa jendela yang tenang mengurung,
yang membuat kita kalap atau kalah
dan berpaling dari perang

pulang ke palung paling jurang

9. Yang Menyerupai Ayah dan Ibu

alat kelamin bertakdir menciptakan lelaki
menjadi ayah dan perempuan menjadi ibu

kita buah-buahan:
anak-anak yang jatah,
anak-anak yang patuh

“alat kelamin juga yang meletakkan
petuah di lidah ayah dan surga di kaki ibu?”

pertanyaan dari kita itu menumpulkan
semua duri dalam diri kita sendiri

dan yang menyerupai ayah memindahkan
petuah dari lidahnya ke ludahnya

dan yang menyerupai ibu memindahkan
surga dari kaki kanan ke kaki kirinya

kita buah-buahan:
anak-anak yang jatuh
anak-anak yang patah

10. Pemutus Pemitos dan Saksi Tukang Siksa

kita tak pernah putus diringkus kasus:
masalah salah memenggal kata,
masalah salah memanggil nama,
masalah salah memanggul masa.

sementara harapan untuk menang memang
tidak pernah bisa menjadi milik kita

kita dimasukkan ke ruangan dengan bangku-bangku
yang sudah dibungkam sejak masih pohon dan meja
yang hanya hijau saat masih ditumbuhi daun-daun

dan pemutus kasus mencari uang dengan menciptakan
mitos: kalian bisa menang jika benar!

tapi kita selalu salah dan kalah sebab pemitos
dan para saksi tukang siksa adalah satu keluarga.
mereka tak suka saling mengkhianati.

11. Suku Saku Lapar

gedung-gedung dan gudang-gudang itu
tak bisa kita elakkan tumbuh dari sawah
yang tidak pernah kita relakan mati

di tengah-tengahnya kita terengah-engah
hidup diburu kawanan dari suku saku lapar

(kata mereka: jangan khawatir, kami lahir
tanpa gigi-gigi taring dan kuku-kuku runcing!)

sekolah dan rumah-rumah ibadah lebih dulu
telah mengajari kita menjadi orang lemah
yang lengah selengah-lengahnya.

kita tidak boleh marah, kita harus ramah,
kita harus punya senyum paling murah
(meskipun tuhan menciptakan darah
kita lebih merah dari api atau apapun)

mereka tamu yang wajib kita jamu.
begitu aturan yang membuat kita tidak sadar
tiba-tiba menjadi kurus telah mereka kuras

(kata mereka: jangan khawatir, kami mahir
mengucapkan terima kasih!)

12. Pohon Pemohon dari Masa Depan

akar-akarnya minum air paling bening
belum dikotori airmata siapapun

batang-batangnya bisa jadi jembatan
untuk menyeberangi laut dan kalut
paling luas dan paling buas

daun-daunnya lebih hijau dari janin
di rahim para perawan suci

bunga-bunganya tersenyum seperti gadis-gadis
di dalam mimpi para pelukis

buah-buahnya akan mengembalikan kita ke surga

pohon yang datang dari masa depan
yang memohon-mohon: panjat kami! panjat kami!

dan kita jatuh bahkan sebelum sempat memanjat

13. Mereka yang Bermukim di Makam

yang telah berjanji pensiun sebagai penjajah
lalu menjajakan kepada kita gelar pahlawan
agar kita dipuja-puji dengan bunga-bunga layu,
juga lagu-lagu dan mata sayu

yang berteriak dan mengajak: dunia yang hidup di atas rumput
sesak penduduk. tidakkah kalian ingin mengungsi ke mari?
cuma kaum kami yang merdeka dari perang,
kami yang bermukim di makam

di sana sepanjang waktu mereka hanya duduk
bersenang-senang, menang menikmati masa-masa
tenang dan sesekali tertawa mengenang pertikaian
sambil menyusu di ujung-ujung akar rumput
yang mungil dan dingin—menghisap darah kita
yang pucat

kita selalu penasaran lalu melulu tersesat
ke peta buta kata-kata mereka atau ke peti-peti mati
yang telah mereka siapkan

mereka yang bermukin di makam
menuntun kita ke arah yang lebih sesat
dan kita tak pernah belajar menolak

14. Rambut yang Merambat dari Masa Lalu

ada yang mula-mula meminta kita menggunduli kepala
agar pancar sinar lebih pencar dari kelam diri—
mereka, nabi-nabi, yang kita lupa karena luput
mencatat nama-namanya, yang menanam rambut
di masa lalu

setiap pagi setelah matahari memecahkan telur-telur
tidur, di kepala kita telah merambat rambut-rambut itu
semakin panjang, semakin panjang, menghambat
tumbuhnya anak-anak pengetahuan kita

shampoo! shampoo! shampoo!

tapi kita tak lagi mampu membersihkan kepala
sebab rambut-rambut itu merambat jua jauh
ke dalam kepala dan kolam yang dulu
bening di dalam tubuh kita

sementara airmata telah beralih kerja menyiram
hanya tumbuhan yang akan merasuk dan merusak kita
dan semakin kuatlah akar-akar rambut itu mencengkeram

selebihnya: tinggal hidup kita yang mencekam!

15. Gunung Terbalik

hanya yang berjuang kelak menerima decak
kagum. hanya yang mendaki kelak tiba di puncak
dan tersenyum

sejak mendengar itu kita mulai mendorong batu
nisan. sejejak demi sejejak, sejarak demi sejarak.

peluh atau keluh seringkali menggoda
kita untuk pasrah menyerahkan diri
kembali ke tempat berangkat

tetapi puncak, puncak, puncak,
decak kagum dan senyum
menyeru-nyeru dari dalam diri

di tengah perjalanan kita diombang-ambing
bimbang apakah kita yang mendorong batu nisan
atau batu nisan yang menarik kita

tetapi puncak, puncak, puncak,
decak kagum dan senyum
menyuruh-nyuruh dari dalam darah

dan tiba-tiba saja kita telah tiba

di puncak paling dalam sebuah lembah.
ah, kita rupanya mendaki gunung terbalik

sementara tempat berangkat tinggal di ketinggian
tersenyum menatap kita yang tertindis batu nisan
sendiri

16. Penyembah dan Penyembuh Kesedihan

tak ada yang lebih bening dari matamu yang sembab
tak ada yang lebih hening dari tangismu tanpa sebab
kami hamba yang menyembah kesedihan kalian

karena itu kita mengubah tubuh sebagai lahan tambang
mengira airmata bisa menjadi kristal yang mengangkat
derajat, mengira airmata bisa mengurus masa depan
anak-anak cucu kita kelak

begitulah cara kita menguras diri sendiri:
bersedih terus-menerus sampai tubuh kita
sisa lahan yang tak bisa ditumbuhi apa-apa lagi

tetapi mereka selalu punya janji: biji-biji obat.

tiba-tiba kita tersenyum karena menemukan
senyum kembali kembang dari dasar kesedihan kita

mereka adalah penyembah dan penyembuh
kesedihan

dan kita menangis lagi
menyadari ketololan sendiri

17. Kamar Mandi

bagai mereka yang hidup sebagai rumah ibadah,
kamar mandi mengepung kita dari mana-mana
mengalir lebih banyak dari air di musim hujan,
lebih banjir dari yang menghanyutkan kampung
nenek moyang ke sejauh-jauhnya kenangan.

mereka yang ingin membersihkan kita,
mengangkat kita ke langit atau ke tempat
yang hanya menerima bukan pendosa,
yang tidak memiliki nista dan kusta

tapi semakin sering ditelan kamar mandi
semakin kita ditekan kesalahan—
kita hanya kotoran yang membenci
diri sendiri

mereka lahir semata-mata
agar kita tak bisa memenangkan
laga apapun lagi

dan siapa itu masih tabah menyanyikan
lagu-lagu sedih di dalam tubuh
kamar mandi?

18. Pipa-Pipa Gaib

kita dulu memiliki gelas penuh—
atau setengah penuh—tempat
mandi kerbau-kerbau suci,
tempat minum sawah-sawah dan langit,
tempat mencuci baju-baju baja pahlawan
dan memandikan mayat keluarga juga tetangga,
tempat berlayar para pedagang,
kenangan kekasih dan masa kecil,
tempat tenggelam matahari dan ikan-ikan,
tempat menunggu yang pergi dan pulang
membawa segenap hidupnya yang rindu

sebelum kita dibuat mengemis
oleh pipa-pipa gaib yang kata mereka
pangkalnya di ujung jari-jari kita sendiri
yang kotor—jari-jari yang dulu hulu
mata air paling menyembuhkan haus

kita tak bisa membunuh yang gaib
mereka raib bahkan sebelum kita punya
rencana

maka kita setiap pagi ke sekolah
belajar agar lebih pandai menangis

agar kita menggantung gelas-gelas
di kantung mata kita
untuk akhirnya dihisap mereka lagi
sebab hanya mereka yang punya hak
untuk terus-menerus haus

19. Bangkai-Bangkai Pemalas

yang duduk di belakang meja menunggu
kita datang menyerahkan nama, alamat,
tanggal lahir, silsilah keluarga dan kepatuhan

untuk tidak menolak

yang meminta kita sabar duduk menunggu
di bangku-bangku tua dan mudah patah

mereka makan dari anak-anak kita
yang belum lahir, nenek-kakek kita
yang tidak tenang di surga juga
jiwa-jiwa kita yang penakut dan penurut

pekerjaan yang baik adalah pemalas,
kata mereka—dan kita mengangguk
menelan dalam-dalam keinginan
kita untuk memberontak

bangkai-bangkai pemalas itu punya senyum
manis di bingkai-bingkai emas
di ruang kerja mereka

kita ingin sekali menjabat tangan mereka
berharap diangkat menjadi salah seorang
pembantu, ikut menjadi bangkai pemalas—
tetapi mereka tidak mau, mereka butuh
kita yang mampu terus bertahan hidup

20. Hari Pertimbangan

dia, yang menamai diri hari pertimbangan,
mengumpulkan kita dan mengundang
tebing itu, kunang-kunang itu, airmata itu,
jalan-jalan itu, kitab-kitab itu, hutan-hutan itu,
bayangan-bayangan itu, pohon itu, rambut itu,
gunung itu, saksi itu, makam itu, kamar mandi itu

dia menyuguhi kita pertunjukan dan pesta
yang mengandung rasa penasaran

dia membiarkan kita mabuk dan bicara
memperkenalkan diri sebagai tokoh utama—
satu-satunya tokoh yang paling berdaya,

yang paling dianiaya

dia dan tamu-tamunya menertawai dan menghadiahi
kita senjata-senjata dan pilihan untuk bunuh diri
atau meninggalkan cerita ini dengan mengaku
kalah

dan kita melakukan kedua-duanya

Makassar, 2009-2011

Catatan: Sebagian besar puisi ini pernah dimuat di Kompas dan Koran Tempo.

One thought on “sebuah buku kecil: puisi 20 bab

  1. Mantap….antologi puisi yang butuh pengembaraan panjang dan cerdas🙂
    terutama bait2 puisi “Pemutus Pemitos dan Saksi Tukang Siksa”….like this🙂

    ijin cantumkan ke blogroll Puisi a/n hurufkecil
    salam blognoerhikmat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s