mengalimatkan dan mengalamatkan

—kepada Dian Harigelita

Hujan Ujung Tahun

ke dadamu: laut. rumah tempat pamit juga pulang bebutiran garam yang menguap kemudian meluap. membasah demi membasuh langit. bebutiran garam yang menjulur mengulur diri sebagai benang-benang bening melewati hening jalur-jalur udara.

yang mencari kemudian mencair. menceritakan kisah bintang-bintang yang mengecup mereka kepada ikan warna-warni peliharaanku. jutaan ekor ikan mungil yang kaurawat sepenuh air dan mata, sepenuh merah dan jantung, dengan betah dan tabah—meski mungkin kau tak butuh.

laut lapang dadamu sungguh jauh lebih subur dan sabar daripada ladang langit. aku ingin tetap asin di situ. tidak peduli kauhujat aku sebagai pedatang, garam-garam asing, sebab hilang dan pulang sebagai yang nampak lain. hujan.

(aku tulis ini di antara ujung dan pangkal dua tahun, saat aku jatuh ke dadamu. saat kau atau aku memercik berkelopak-cahaya umpama bintang-bintang. saat kita yang air menjelma jadi kembang, api atau apa…)

Ikan Kunang-Kunang

suatu kali satu ekor ikan jatuh dari langit. kala itu sore dan hujan sudah lama redup. hidup tetapi terperangkap di segenang danau maha kecil dan dangkal di pipi jalan. jalan yang meninggalkan kampung-kampung. bercahaya umpama ditimpa pecahan-pecahan kaca dan lampu.

tertunduk seorang pulang sendiri dari pasar malam, usai menemukan kekasihnya melepas tawa ke udara bersama seseorang lain. matanya kehilangan cahaya. dia menuduh diri sendiri telah teledor menjatuhkannya entah di mana.

dia berlutut. menangkap (tepatnya menangkup) ikan itu dengan dua tangan bergetar menahan sesuatu dari dada. dia memindahkan juga danau ke telapak tangan—danau yang alangkah mudah kering.

sepanjang pulang dia menangis, mengisi kedua tangannya dengan kesedihan. kesedihan adalah benih, bukan buah. dia tidak ingin melihat sepasang sayap ikan itu berhenti mengepakkan cahaya.

di kamarnya menunggu akuarium yang semata berisi air tak beriak dan masa lampau seekor ikan berwarna jingga. ke situ dia masukkan ikan yang dia yakin cahaya matanya yang hilang, kemudian ia tidur dan bermimpi.

(semalam, di dalam mimpi, aku tulis dongeng ini untukmu. lalu lebih cepat dan cahaya dari matahari, aku terbangun menemukan tubuhku telah ikan di akuarium. di balik kaca kau tersenyum menyambut dan menyebut-nyebut namaku: ikan kunang-kunang.)

Laut Kecil

yang warna dan cahaya di tubuhku, yang bening dan asin di tubuhnya yaitu masa lampau. yang berkepak di tubuhku, yang beriak di tubuhnya yaitu masa depan.

dunia bening dan terpisah dari yang harusnya menangkap maksud dan kecupku. di tubuhnya diperangkap dan senang berenang-renang. aku terbang dalam air dengan sayap-sayap berkilau-kilau. kau di luar sedang tersenyum seperti mimpi menerangi tidur yang semula hampa cahaya.

kecupku mampu menjangkau jari yang kaucelup ke tubuhnya, jika kau mau. aku mencintai kuku-kukumu yang tumbuh putih, meski sesekali patah kaugigit, yang mampu jadi cermin bagiku dan bagi siapapun.

ini laut kecil milikmu. sudah terlalu luas bagi tubuhku.

(sambil menyantap sarapan, atau harapan, aku menulis ini. kau mungkin sedang memainkan alat-alat dapur sembari lirih membisikkan lirik-lirik lagu kesukaanmu. di luar kaca jendela,hanya ada januari dan langit lembab.)

Langit yang Memburu Inti Laut

yang membiru di bulan tertentu lalu membaru setiap tahun bertukar. yang memburu inti laut paling palung di dadamu. yang barangkali runtuh atau meledak dan menyembunyikan bintang-bintang. yang nyata namun burung menganggapnya seolah-olah.

yang menampung aku sebelum menemukan satu jatah hari baik buat jatuh, saat tahu seorang menjauh darimu. yang menumpang di matamu saat kaubuka jendela. yang pernah kautangkup di dua tanganmu sebagai danau. yang mencintai harapan dan rindu akuarium kecil di kamarmu meluap.

yang sabar menunggu kau terbang menunggang aku. kau hendakkah?

(aku tulis ini di tepi jendela sambil menyaksikan seorang lelaki tua berjalan bersama istrinya yang siap memekarkan payung merah—sewarna ikan kunang-kunang yang kaurawat di dalam akuarium di kamarmu.)

Jantung Angin

apakah ini perjalanan kembali atau berangkat ke langit?

kita melebihi burung atau capung yang tidak mampu mengapung di atas sayapnya. kita berada di jantung angin, bergantung seperti angan. sepasang yang melebihi semuanya.

ini kendaraan yang bening umpama balon-balon sabun. ringan umpama kesunyian yang perawan. akan kau bawa ke mana aku? pertanyaan kita kepada kita.

perjalanan akan tiba ke perjalanan. kau dengar itu kutipan yang belum pernah melewati bibir atau alat tulis siapapun?

ini jantung yang bisa mengubah diri jadi seluruh keindahan—kembang atau tembang—yang tak bimbang kepada gelombang. kau pernah hidup sebagai laut dan aku garam yang kau hirup. aku pernah ikan dan kau cahaya sayapku yang kunang-kunang.

kita sedang di jantung angin, sayang. melayang-layang.

(hujan masih terjaga dan aku hanya punya kertas juga pensil. maka aku tulis puisi ini, yang amat gelap seandainya tiada kau di dalamnya. aku membayangkan matamu yang berkilau-kilau oleh air mata yang menolak terpendam sebagai rahasia—mata air yang bahagia.)

Lingkaran Cuaca

sesungguhnya aku dan kau sedang singgah di sebuah perjalanan. karena para peramal, di hari sebelum kita berangkat, mengatakan pengumuman. besok tidak ada cuaca. jangan pergi jauh dari diri!

aku ingin kembali ke dalam diriku tetapi aku merasa lebih diriku di dalam dirimu—yang senang mengajakku ke mana-mana. kau adalah dunia yang memuat dirimu dan siapapun yang kau mau.

aku mengangankan kau menginginkan aku. diriku hendak tinggal di dirimu dan tidak tanggal darimu.

(aku berharap ini bisa lebih panjang, lebih jauh dari yang mampu dijangkau kata-kata, tetapi bahkan puisi adalah takdir melingkar sebagaimana cuaca. aku seperti tak ke mana-mana setelah tiba di sini dan di sini.)

Waktu atau yang Memeluk

setiap petang, menjelang malam menyala, aku merasa selalu sebagai ikan yang sengaja menjatuhkan diri dari langit. lalu setiap kali tidurmu, yang kaca akuarium, pecah dan meluap aku menjadi kunang-kunang. kembali ke langit untuk jatuh.

seekor ikan jatuh cinta kepada akuariumku setiap malam. kau menulis itu di lembar-lembar catatan harianmu sambil tersenyum. aku tidak tahu tentang kau itu nyata di dalam mimpi atau mimpi di alam nyata. tetapi begitu.

mimpi barangkali cuma berjalan dari tidur ke tidur. sementara perjalanan berangkat dari satu mimpi untuk sampai di mimpi yang lain. begitu terus-menerus hingga suara pengumuman yang menggetarkan itu tiba. hendak melepas yang memeluk.

kepada semua yang masih berada di dalam, mohon keluar. lima menit lagi waktu akan dikosongkan!

pelukan pecah meskipun aku belum punya lengan dan tubuhmu.

(kepalaku sedang dipenuhi kekosongan. maka aku tulis puisi melulu tentang kekosongan dalam setiap waktu yang berjalan terburu-buru. seperti puisi ini, yang berharap kau bisa lebih dekat dariku, lebih dekat dari seluruh dekap tubuhku.)

Asin Awan

aku asin yang jatuh dan hilang dalam hujan, yang membasahi jalan-jalan, yang kau temukan telah hilang ketika kau pulang dari pasar malam. seekor ikan, yang bercahaya, adalah isyarat belaka bahwa laut dan bintang tak pernah jauh dari tubuhmu, mungkin di matamu—yang sesekali jatuh.

kesedihan yang kau sebut benih itu, rawatlah! sungguh, aku kelak ingin menemanimu pada pesta panen.

aku dan seluruh doa dalam puisiku tak mengapa menjadi garam lalu menjadi awan untuk kawin dengan kedua telapak tanganmu yang tengadah dan bersabar pada janji-janji.

(kadang-kadang aku berharap jarak antara pulau ini dan kau di pulau sana vertikal—laut menggantung di tengah-tengah. maka tak mampu aku menghindari untuk tak menyebut hujan dalam puisiku, hujan yang selalu aku bayangkan jalan-jalan atau kabel telepon yang menghubungkan kita. dengan begitu, seluruh perihal atau hal perih di antaranya, dengan mudah aku mengalimatkan dan mengalamatkan mereka kepadamu. ke dadamu.)

Makassar, 2010-2011

Catatan: 4 bagian sajak ini, masing-masing 2 bagian awal dan 2 bagian akhir, dimuat Kompas, Minggu, 24 April 2011.

4 thoughts on “mengalimatkan dan mengalamatkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s