empat catatan kecil tentang kota

Mengejar Kaki-Kaki Kota

Presiden mengubah sepuluh angka kalender
yang berwarna hitam menjadi warna merah.
Dia paham orang-orang kelelahan mengejar
kaki-kaki kota yang larinya semakin laju.

“Pulanglah ke desa berehat panjang,” katanya.

Dan kita pulang ke desa membawa semua isi
supermarket sebagai oleh-oleh, seolah-olah
rindu bisa diobati dengan barang-barang itu.

Di desa kita beli sawah, ladang dan gunung.
Kalau pensiun nanti kita rencana membangun
sebuah kota yang jauh lebih ramai di sana.

Setelah kalender kembali hitam, dengan geram
kita kembali ke kantor mengejar kota membawa
tumpukan kerja yang membosankan di punggung.

Tapi, ah, sudah terlalu jauh kota meninggalkan kita!
Maka sebaiknya kita tidak boleh tidur. Kita hanya
boleh bermimpi presiden yang baru punya kalender
yang memiliki lebih banyak angka berwarna merah.

Dalam Sajak Ini Ada Kota Besar Terbakar

Tak usah panik jika dalam sajak ini kau temukan
sebuah kota besar sedang terbakar dilalap api.
Aku sengaja. Aku membutuhkan banyak puing
dan abu untuk membangun sebuah keluarga.

Membakar kota sesungguhnya mengubah
tumpukan sampah jadi pemandangan indah.
Bukankah kau sudah lama ingin bertemu
dengan diri sendiri sambil tenang membaca
sajak-sajak rinduku di bawah rindang pohon?

Pahamilah cintaku dengan menyaksikan kobar
api yang memusnahkan kota besar itu, Kekasih.
Bagaimana mungkin bisa bercinta dan tidur
di rerimbunan mimpi jika kita membiarkan
kota mencakar-cakar dinding kamar kita?

Kota dalam Catatan Seorang Perantau

Aku pulang menjenguk kota kelahiranku, namun
aku merasa merantau ke sebuah kota yang baru,
kota asing yang tak pernah kudatangi sebelumnya.

Kau tahu, dulu kota kelahiranku dibelit sungai dalam.
Matahari berwarna jingga hingga jam sembilan malam.
Matahari bangun lebih awal dengan iringan riang burung,
biasanya ketika doa-doa shalat subuh baru saja rampung.

Kini di kota ini hanya ada siang, tidak ada lagi malam.
Orang-orang tak suka tidur. Tidur sejam akan membuat
mereka tertinggal seratus malam. Dalam sejam kota ini
mampu berganti jadi kota-kota yang lain berulang kali.

Catatan ini tidak aku tuliskan karena kehilangan kota
kelahiranku itu. Tidak. Semata hanya ingin mengatakan
kepada semua orang agar merawat ingatan baik-baik
sebab perantau seperti aku hanya akan pulang ke kenangan.

Kota: Anak Desa yang Kurang Ajar

Kota adalah anak desa yang amat kurang ajar.
Tidak satu pun petuah yang dia mau dengar.
Dia kira bisa dewasa dengan membakar lembar
buku-buku tua dan hanya membaca surat kabar.

Kota menikah dengan orang asing lalu lahir
anak-anak yang setengah mati pandir dan kikir.
Dia mendirikan banyak bangunan tanpa pikir,
mall, hotel, bioskop, restoran dan lahan parkir.

Kota mengajak orangtuanya datang jadi pembantu
dengan mengirimkan hiburan-hiburan ke kampung
televisi tak pakai antena atau sinyal telepon genggam.
Katanya, semua itu sekadar bayaran atas hutangnya.

Kota menyuruh anak-anaknya pergi ke kampung
membangun villa dan membuka usaha tambang.
Orang-orang asing datang berwisata dan pulang
membawa bertruk-truk emas, minyak dan uang.

Kota sedang berpesta pora makan-minum sepuasnya
hingga mabuk di atas perut orangtuanya yang sabar.
Hanya begitu caranya menghibur diri sebab dia sadar
semakin hari semakin besar dan subur rasa sesalnya.

~ Semua catatan kecil di atas ditulis tahun 2007 lalu.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s