setengah lusin ciuman pertama


at the first kiss I felt

something melt inside me
that hurt in an exquisite way
all my longings, all my dreams and sweet anguish,
all the secrets that slept deep within me came awake,
everything was transformed and enchanted
and made sense.

~ Herman Hesse

1.

—dengan Cecep

Bukan, Cecep bukan cowok. Dia cewek—cantik. Namanya saja yang terdengar sangat cowok. Rada tomboy memang orangnya. Dia teman satu kelas saya di Tsanawiyah dulu. Dia sudah punya anak. Tiga. Pertama melahirkan, anaknya kembar emas. Dua tahun lalu, dia melahirkan anak ketiganya. Cecep pacar teman saya. Dulu.

Saya tidak ingat betul tanggal-hari-bulannya, waktu itu kami sama terlambat. Guru tidak memperbolehkan kami ikut belajar. Jadinya kami nongkrong di kantin sekolah. Di sebelah kiri kantin itu ada kandang kelinci. Saya sering main ke situ—memberi makan kelinci-kelinci atau sekadar melihat-lihat saja.

Nah, bosan menunggu jam pelajaran pertama kelar, saya iseng main ke kandang kelinci itu. Cecep ikut. Anak pemilik kantin juga, dia digendong Cecep. Namanya Randi. Masih kecil. Kira-kira 2 tahun.

Jika ada yang harus disalahkan kenapa saya dan Cecep tiba-tiba berciuman di dekat kandang kelinci itu, tentu saja, seekor kecoak (yang saya tidak tahu namanya) dan Randi yang akan kami tunjuk. Nyaris bersamaan saya mau mencium Randi, di gendongan Cecep, kecoak itu tiba-tiba hinggap di jilbab Cecep. Aha, kebetulan yang indah! Cecep takut sama kecoak. (Heran, kenapa banyak cewek takut sama kecoak!)

Cecep kaget, tapi saking kagetnya dia malah tidak bisa berteriak. Bibir saya jatuh menimpa pipinya, kira-kira dua jari dari bibirnya. Satu detik, dua detik, tiga detik. Senyap. Saya geser bibir saya menyentuh bibirnya. Kemudian kami tiba-tiba sok kaget dan menarik wajah masing-masing. Cecep menunduk lalu masuk membawa Randi ke kantin.

Kejadian singkat itu terjadi saat teman-teman kelas saya sedang belajar Aqidah Akhlak. Membekas? Tentu saja. Ada ciuman kedua saya dengan Cecep? Ada. Lima hari setelah dia putus dengan pacarnya, di Perkemahan Sabtu-Minggu.

2.

—dengan Riana

Dia adik kelas dan pacar pertama saya. Di rumahnya dia tidak dipanggil dengan nama itu. Teman-temanya juga tidak memanggilnya seperti itu. Itu nama panggilan dari saya. Riana adalah tiga suku kata terakhir dari nama depannya.

Dia lahir 1 Januari. Ciuman pertama saya dengannya terjadi beberapa menit sebelum 31 Desember 1996 berakhir, beberapa menit sebelum ulang tahunnya.

Di rumahnya, dia hanya tinggal bertiga dengan kakek dan neneknya. Ibu dan ayahnya tinggal di rumah lain, di kota lain. Kamar Riana terletak di bagian depan rumahnya. Ada jendela di sisi kiri kamarnya. Di situ, di jendela itu saya menciumnya. Jendela itu tidak tinggi—saya bisa sekalian memeluk Riana saat menciumnya.

Saya mengantar kado ulang tahun untuknya malam itu. Dua buah album berisi koleksi perangko yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun. Kami berdua suka saling berkirim surat.

Setelah menyodorokan hadiah itu, dia balas menyodorkan keningnya. Saya meletakkan bibir saya di keningnya cukup lama. Tidak puas, saya mencium pipinya. Lalu bibirnya. Lalu…

Ciuman kedua saya dengan Riana terjadi di perpustakaan sekolah. Ibu penjaga perpustakaan menangkap basah. Tapi, hehe, dia senyum dan geleng-geleng kepala saja.

3.

—dengan Doyok

Doyok itu nama panggilan saya untuknya. Bagus juga saya memanggilnya begitu, sehingga dalam tulisan ini saya tidak perlu menyebut nama aslinya. Dia teman saya. Iya, cowok!

Suatu malam beberapa malam sebelum perpisahan sekolah, saya dan beberapa teman, termasuk Doyok, ke gunung beberapa puluh kilometer dari sekolah. Kami berkemah. Ceritanya semacam perpisahan kecil-kecilan sebelum perpisahan besar-besaran.

Dingin. Tentu saja, di gunung. Kami berenam tidur dalam tenda yang tidak seberapa besar. Saya pikir wajar jika kami saling memeluk untuk saling menghangatkan. Kemudian menjadi aneh, bagi saya, saat tiba-tiba Doyok yang tidur di sebelah kanan saya, mencium bibir saya. Damn! Saya kaget dan mendorong badannya—dan menimpa badan teman saya di sebelahnya.

Doyok malu dan meminta maaf. Saya marah. Belakangan saya menganggap itu kisah yang lucu saja. Setahun setelah kejadian itu, Doyok menceritakan beberapa hal tentang kecenderungan seksualnya kepada saya.

Tahun 2005, delapan tahun setelah kejadian di gunung itu, Doyok meninggal karena kecelakaan.

4.

—dengan Kukila

Dia juga mantan pacar saya. Itu bukan nama aslinya. Dulu kami punya sepasang tokoh hayalan. Kedua tokoh itu saling berkirim surat di sebuah buku tebal. Kukila dan Pilang.

Jika malam ini buku itu ada di kamar saya, maka saya sebagai Pilang akan mengirim surat dan menyerahkan buku itu kepadanya besok harinya. Dia akan membalas surat itu sebagai Kukila. Begitu terus-menerus hingga buku itu penuh dengan surat antara Kukila dan Pilang.

Menjelang kami putus, karena dia dijodohkan orang tuanya dengan lelaki lain, dia sepakat saya mengenangnya sebagai Kukila, dan sebaliknya. Begitu.

Ciuman pertama saya dengan Kukila terjadi di ruang tamu rumahnya. Saya mengenang ciuman itu dalam sebuah puisi berjudul Hujan Rintih-Rintih yang kemudian menjadi judul kumpulan puisi pertama saya. Iya, waktu itu hujan. Di rumahnya cuma ada saya, kakaknya, dan dia. Kedua adiknya dan orang tuanya sedang di Jakarta.

Saya mengantarnya pulang dari kampus, seperti biasa. Di perjalanan, kami basah. Dia meminjamkan salah satu t-shirt miliknya dan membuat segelas teh untuk saya. Kakaknya sedang menonton di ruang tengah. Dia duduk di dekat saya. Saya memegang tangannya, cukup lama, saling menghangatkan telapak tangan.

Dia menunduk saja. Saya menarik dan mengecup keningnya, setelah sebelumnya mengecup punggung tangannya. Dia mendongak dan saya mengecup bibirnya. Saya tidak mau menceritakannya lebih detil lagi. Hehe.

Oh, iya, Kukila itu berarti burung dan Pilang berarti pohon. Keduanya bahasa Melayu klasik. Kami menemukannya di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

5.

—dengan Sebut-Saja-Dia

Saya berciuman dengan tunangan orang! Begitu ekspresi kesal saya waktu itu, beberapa saat setelah dengan senang hati menciumnya. Dia yang memulai. Sumpah, sebelum dia mengatakannya, beberapa menit setelah berciuman, saya tidak tahu dia punya tunangan.

Seminggu setelah berciuman itu, ibunya membatalkan pertunangan mereka. Sebulan setelah itu, kami pacaran. Saya dan dia menelpon ibunya. Kami sama merasa bersalah. Setahun setelah itu kami putus. Sebulan setelah putus, dia menikah dengan lelaki lain. Seminggu lalu dia melahirkan anak pertamanya.

Ciuman itu terjadi di balkon tempat saya tinggal waktu itu. Ini ciuman pertama paling ‘panas’ yang pernah saya lakukan. Tapi, saya tidak ingin menceritakan lebih detil.

Lucu juga, semua mantan pacar saya sudah menikah, yang sebelum dan termasuk Sebut-Saja-Dia. Tiba-tiba saya berpikir kayaknya bibir saya ini cukup ampuh buat jadi pembuka jodoh orang lain—tapi tidak buat diri saya sendiri.

6.

—dengan Mansyur

Iya, dia laki-laki. Ciuman saya dengannya terjadi saat saya masih berusia kira-kira 9 tahun. Dia berkumis dan saya tidak suka dicium lelaki berkumis.

Ciuman itu terjadi suatu sore di belakang bus berwarna putih. Dia mencium saya setelah memberi saya selembar uang seribu rupiah. Saya meronta. Saya tidak suka dicium pria dewasa.

Ciuman sore itu adalah satu-satunya ciumannya yang saya ingat. Bagi saya, itulah ciuman pertama dan terakhirnya. Ciuman itu terjadi saat dia mau berangkat dari rumah. Dia tidak pernah pulang sejak saat itu.

Tahun 2010 lalu saya tahu dia sudah meninggal di sana, entah di mana tepatnya, dua tahun sebelum kabar itu sampai di telinga saya.

Mansyur adalah ayah saya.

Iklan

22 thoughts on “setengah lusin ciuman pertama

  1. Dada saya sembab membaca fragmen “_dengan Mansyur”. Saya juga sudah lama tidak melihat Ayah saya, Kaka. Sejak saya kelas 5 SD. Sampai saya tulis komen ini, keluarga dan orang-orang yang mengenal Ayah saya tak ada yang mengetahu keberadaannya atau kubur beliau.

  2. Dada saya sembab membaca fragmen “_dengan Mansyur”. Saya juga sudah lama tidak melihat Ayah saya, Kaka. Sejak saya kelas 5 SD. Sampai saya tulis komen ini, keluarga dan orang-orang yang mengenal Ayah saya tak ada yang mengetahui keberadaannya atau kuburnya.

  3. apakah orang kelima itu adalah pegawai satusatunya yang kerja di ‘kantor paling sibuk di dunia’?
    hehe.. tebaktebak saja :p

    ini cara main #15harimenulisdiblog gimana ya? Mau k’ ikut 😦

  4. Ping-balik: Setengah Lusin Ciuman Pertama | dialektikatoilet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s