menghadapi meja makan malam

bukankah lucu sekali
mengapa baru malam ini
aku dan kau menyadari

telah bertahun-tahun meja makan
alangkah lapang memisahkan

dan semua yang menghampar
di atasnya tak menyingkat jarak
atau sekat antara aku dan kau

maka tangkup para mangkuk
hanya berisi daun-daun layu
warnanya semata hijau mati
tak punya cahaya seperti mata
sepasang milik kau yang dulu itu

para piring pura-pura merah
oleh bawang, wortel, tomat, cabai
atau cinta yang sesekali memantul
dari percakapan antara aku dan kau
tentang diri orang-orang lain

nasi sudah pula lupa warna putih
yang harusnya membuat lapar patah
atau jatuh ke dalam entah

air di dalam gelas yang tinggi
seperti sumur selalu menunggu
tenggorokan aku dan kau jadi sungai,
tangga yang akan mengembalikannya
ke langit ke tubuh awan yang gemuk

buah-buahan ingin segera membusuk
berulat dan kembali ke ranting-ranting
atau merindukan pisau pembawa tusuk
agar tak tersiksa berlama-lama terasing
di tengah-tengah basi bisu aku dan kau

batang-batang lilin sudah menghendaki
pensiun dan dimasukkan saja ke laci
atau berharap di dalam rumah ini
tak pernah ada sebatang korek api

warna apa lagi yang belum mencoba
diri jadi kain taplak agar sempit tampak
ini meja makan, agar tak mampu ditampik
percakapan yang malah bertumpuk-tumpuk
seperti lemak di tubuh aku dan kau

bukankah sedih sekali
mengapa baru malam ini
aku dan kau menyadari

suap tangan aku tak mampu
menjangkau siap mulut kau

atau sebaliknya

Iklan

3 thoughts on “menghadapi meja makan malam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s