surat-surat (dan) cinta pertama


Well, your letter makes up for today’s bad weather; within me the sun is shining from a blue sky, outside there is a fog and drizzle.
~Sigmund Freud

DUA bulan sebelum ujian akhir, aku bertemu Riana di perpustakaan sekolah, di jam istirahat hari Senin yang sibuk. Ia gadis pendiam dan pemalu yang suka baca buku. Ia anak kelas dua, yang menyukai warna oranye dan berambut panjang. Ia gadis yang tak suka hiruk-pikuk kantin sekolah. Ia lebih mencintai debu-debu buku tua di perpustakaan. Ia tidak suka berkumpul dengan teman-temannya pada Sabtu sore. Ia lebih senang memandangi bulan dan bintang dari bingkai segi empat jendela kamarnya. Ia mengagumi para arsitektur yang merancang gedung-gedung cantik. Ia suka membaca buku-buku biologi, geografi, dan biografi. Ia suka memandangi warna-warni bunga. Ia ingin mendatangi tempat-tempat yang indah. Ia juga mengagumi nama-nama besar.

“Apa salahnya buang-buang waktu?”

Helmi, teman sebangkuku, mengganggu lamunanku suatu siang di depan pintu kelas, saat istirahat dari jam Kimia yang menjemukan.

“Maksudmu?”

“Pacaran kan buang-buang waktu menurutmu. Tapi, hei, sebentar lagi kita tak mengenakan seragam putih abu-abu lagi. Kau belum punya pacar. Apa yang akan kau ceritakan kelak kepada anak-cucumu? Ayolah! Aku siap membantu, katakan saja siapa yang kau suka.”

Helmi di SMA terkenal sebagai anak yang suka ganti pacar. Dalam setahun, Helmi bisa berganti pacar dua puluh empat kali—dua kali sebulan. Ya, ia berganti pacar lebih sering daripada memangkas rambutnya.

Kepada Helmi, dengan malu-malu, aku mengatakan tipe gadis yang aku suka: gemar membaca, berambut panjang, cantik, langsing, baik hati, dan…

“…dan suka pakai rok? Riana. Ia tetanggaku. Akan aku kenalkan padamu. Tak usah malu-malu.”

Helmi tahu perempuan yang sering aku perhatikan diam-diam di perpustakaan. Apakah ia pernah melihatku sedang melirik Riana? Aku tiba-tiba menjadi sangat pemalu detik itu.

“Tak perlu,” kataku.

“Kenapa? Kau belum juga mau pacaran? Jangan katakan itu, An! Kau tahu, banyak gadis-gadis cantik di sekolah ini sejak lama memimpikan jadi pacarmu. Percayalah!”

Aku tertawa—sedikit dibuat-buat.

“Bukan, bukan itu maksudku. Biarlah aku coba sendiri,” jawabku.

Helmi menepuk-nepuk bahuku memberi semangat dan mengatakan: semoga sukses!

Tak membutuhkan waktu lama untuk kenal dan kemudian menjadi pacar Riana. Kami sama-sama sering bertemu di perpustakaan. Ia sudah sangat mengenalku, dari Helmi dan tulisan-tulisanku di majalah dinding sekolah tentu saja. Helmi pernah memintanya jadi kekasih, tetapi Riana menolak. Tak ada satupun orang di sekolah yang tak mengenalku bahkan yang paling tak bergaul sekalipun. Aku adalah satu-satunya orang yang namanya sering ada di koran dan majalah. Bahkan tak ada seorang guru pun di sekolah itu yang pernah muncul tulisannya di koran. Mungkin hal itu yang membuat percaya diriku tumbuh jadi menara—menjulang lebih tinggi daripada segala sesuatu di sekitarnya. Masa remajaku dipenuhi keangkuhan yang selalu aku sesali diam-diam—sebab kini aku tak bisa banyak berbuat sesuatu. Dan juga keangkuhan itu seperti musim, selalu datang di masa-masa tertentu. Ia seperti musim yang menjengkelkan.

Aku tak pernah menyatakan secara langsung rasa sukaku pada Riana. Waktu itu kebetulan sekolahku akan ikut Lomba Cepat Tepat yang diadakan TVRI Ujung Pandang. Aku dan Riana berada di antara lima siswa yang masuk dalam tim yang akan mendapatkan bimbingan khusus Bu Umrah, guru paling cerdas dan muda di sekolahku, untuk ikut lomba itu. Ia seorang gadis yang rajin mencatat penjelasan guru, aku tidak. Suatu hari aku meminjam buku catatannya untuk aku baca di rumah. Sebelum mengembalikannya aku menulis pernyataan cinta di salah satu halaman buku itu.

Aku suka memperhatikanmu diam-diam! Beranikah kau mencoba jadi pacarku?

Besoknya, setelah ia membaca pernyataan itu, ia tak berkomentar apa-apa selain tersenyum yang maknanya sungguh aku tak mengerti. Sebelum pulang ia meminjam satu buku padaku. Apakah ia juga akan menuliskan pernyataan cintanya?

Selembar surat balasan aku temukan di sela buku yang ia serahkan pagi hari saat sama-sama ingin mengembalikan buku di perpustakaan. Ia meminta aku tak membaca surat itu di depannya, aku mengiyakan. Setelah tubuhnya ditelan pintu kelas, aku membaca surat itu:

Sudah lama aku ingin mengenal Kakak. Aku pemalu pada lelaki, namun dekat dengan Kakak tak ada salahnya dicoba. Aku banyak membaca cerpen-cerpen Kakak di majalah, ajari aku menulis ya! Sekali lagi, aku terima tantangan Kakak!

Hah, ia menerima tantanganku? Gadis pemalu dan suka memakai ikat rambut dan tas berwarna oranye itu siap jadi kekasihku? Semudah itukah melumpuhkan hati perempuan?

Bagaimana rasanya pacaran ya? Begitu kalimat pertama yang aku tulis di catatan harianku malam hari setelah hari itu. Dan setelah menuliskannya, aku susah menuliskan kalimat lain—seperti juga susahnya memejamkan mata untuk tidur.

Kini aku hanya bisa mengenang perasaan itu. Saya seperti gelas-gelas dengan sisa ampas kopi sedang mengenang kejayaannya dalam genggaman seorang pembual yang bertamu semalam menceritakan kebohongan tentang ia memperkosa guru agamanya suatu hari di toilet sekolah.

¤

BERAWAL dengan surat, dibalas dengan surat, dan terus dengan surat-surat. Kisah cinta kami selanjutnya hanya terjalin lewat titian surat-surat. Sangat berbeda dengan pasangan-pasangan lain di sekolahku yang lebih suka berdua-duaan di bawah pohonan dekat sekolah atau bercengkerama di kantin saat jam istirahat. Aku ternyata bukanlah orang yang bisa mengungkapkan perasaan dengan lugas melalui lisan, dan untungnya ia juga. Aku sangat jarang jalan atau duduk berdua dengan Riana. Kalau toh itu kami lakukan pastilah yang kami percakapkan adalah hal-hal lain, bukan perihal hubungan cinta kami. Kami sama-sama lebih senang berkomunikasi melalui lembar-lembar surat. Saling bercerita tentang hobi masing-masing, hal-hal yang tidak disenangi sampai saling bertukar kata-kata indah dan saling merayu di dalam surat berlembar-lembar. Surat, bagi kami, lebih indah dari ciuman sebab dalam surat-surat jiwa kami telanjang-utuh dibagi.

Secara tidak sadar, kegiatan menulis dan membalas surat itu semakin mengasah kemampuanku merangkai kata-kata—aku semakin dikagumi dan mengagumi diri sendiri. Ternyata pacaran itu tidak buang-buang waktu, kataku berbisik di telinga kiri Helmi suatu hari di sela-sela suara guru Fisika di depan kelas. Riana suka membaca puisi, aku suka menulis puisi. Riana sering meminta dibuatkan puisi, aku senang melakukannya. Kata Riana suatu waktu: Kau tahu apa yang aku suka dari seorang penyair? Sesungguhnya bukanlah pada apa yang dituliskan tetapi apa yang dibisikkannya. Kau menuliskan sesuatu dalam surat-surat dan cerita-cerita, dan kau membisikkan banyak hal ke telingaku melalui puisi-puisi. Riana ternyata seorang gadis yang sangat puitis. Sungguh sangat puitis. Aku kadang-kadang heran, dari mana ia menemukan kata-kata indah seperti itu. Dalam surat-suratnya, ia menuliskan begitu banyak kalimat yeng membuatku sirik padanya, pada keindahan kata-katanya.

Setiap pagi, sebelum lonceng jam pertama menggiring kami ke ruang-ruang kelas yang pengap kemudian didikte oleh guru yang gagap, kami bertemu di depan perpustakaan, acara menyerahkan atau menerima surat. Jika pagi ini ia yang memberiku surat, besoknya aku yang akan memberinya surat. Kadang-kadang juga kami saling bertukar surat di pagi yang sama, jika ada hal-hal yang sangat perlu untuk disampaikan. Aku paling sering melakukannya; pada saat ia memberi surat balasan, aku memberi sehelai kertas kecil bertuliskan: Kau cantik sekali hari ini! Atau aku memimpikanmu semalam!

Hal itu—memberi atau menerima surat di pagi hari—kami lakukan sampai selesai ujian dan aku harus melanjutkan kuliah di Ujung Pandang. Namun tradisi surat-suratan itu tak juga berhenti. Tiga hari sekali aku harus ke terminal, bukan ke kantor pos, mengirim atau menerima surat. Aku memiliki sopir langganan yang berfungsi sebagai merpati pengantar surat. Aku tak perlu membayar sopir itu dengan mahal, sebagai pengganti perangko aku beli untuknya sebungkus rokok. Menerima surat sama membahagiakannya dengan mendapatkan kunjungan dari orang yang sangat kita rindukan. Siapa yang tak senang dikunjungi orang yang dirindu setiap tiga hari? Sementara, Riana selalu aku rindukan setiap saat.

Sejak pertama pacaran, Riana juga menjadi pembaca pertama dari setiap cerita pendek yang aku tulis sebelum aku kirim ke majalah. Ia gadis jujur. Kalau ia mengatakan tidak baik—ia tak pernah segan mengatakannya—itu artinya buruk dan aku harus memperbaikinya atau melupakannya dan menulis cerita baru yang lebih bagus. Jika ia mengatakan sudah bagus—ia selalu mengatakannya dengan tersenyum—aku akan memintanya menemaniku ke kantor pos untuk mengirimnya. Sungguh sebuah kisah cinta yang unik dan indah—tak akan bisa aku lupakan. Dan seperti surat-surat, cerpen-cerpen yang baru aku tulis selalu aku kirim kepada Riana lewat sopir itu saat aku sudah kuliah.

Sayang sekali, kisah cinta kami harus berhenti. Dari seorang kakak kelas yang kuliah di universitas sama denganku, aku mendengar cerita lain tentang Riana. Ia ternyata juga sering menerima surat-surat dari lelaki lain. Sepupuku. Cerita itu seperti bunyi dua batang bambu kering yang saling digesekkan. Sangat mengganggu telinga dan seluruh organ tubuhku. Pula, aku merasakan sesuatu yang lain, cemburu barangkali namanya. Kalau benar itu perasaan cemburu, itulah kali pertama aku merasa cemburu. Tapi bukan sekadar cemburu sebenarnya, di sana ada juga terselip perasaan dikhianati dan mengkhianati sekaligus. Aku merasa dikhianati Riana dan merasa mengkhianati sepupuku.

Menurut kakak kelasku itu, sepupuku sudah pacaran dengan Riana setahun sebelum aku pacaran dengan Riana. Aku mengirim surat panjang, meminta penjelasan Riana. Jawabannya: hubungannya dengan sepupuku tak dianggapnya sebagai pacaran, memang pernah tetapi hanya beberapa minggu. Ia hanya mencintaiku, kata Riana di akhir surat.

Dalam surat balasannya, Riana menceritakan dari awal hingga akhir hubungannya dengan sepupuku. Sejak SMP, katanya, ia memang ditaksir sepupuku tetapi Riana terus menolak menjadi pacarnya. Suatu hari, ia meminta sepupuku—yang lihai menggambar itu—untuk menggambar sebuah peta tugas geografinya. Waktu itu Riana kelas satu SMA, aku kelas dua, dan sepupuku itu kelas tiga. Setelah gambar peta itu selesai dan dipuji oleh guru, teman-teman Riana meledeknya telah pacaran dengan sepupuku. Karena ia tak senang dengan perlakuan teman-temannya, di depan sepupuku, Riana merobek-robek gambar itu sampai sekecil-kecilnya. Melihat gambarnya dirobek sedemikian rupa, sepupuku marah—mungkin sepupuku merasa Riana merobek-robek hatinya. Hehe. Dan Riana menyodorkan penawaran menggembirakan sebagai solusi konflik: kalau sepupuku berhenti marah ia siap jadi pacarnya. Maka pacaranlah mereka.

Keriangan hati sepupuku hanya dua minggu, kata Riana. Setelahnya Riana memutuskan hubungan itu dengan terburu-buru di gerbang sekolah suatu pagi saat lonceng sekolah sedang dibunyikan. Namun sepupuku tidak pernah menerima keputusan itu hingga saat aku bertemu dengan kakak kelas yang menceritakan hubungan mereka padaku. Surat-surat sepupuku tetap datang meski Riana tak pernah membalasnya. Salahnya, Riana tak pernah menceritakan itu padaku—mungkin takut atau tidak menemukan cara yang tepat untuk mengatakannya. Tetapi aku orang yang jarang dikecewakan, maka jika dikecewakan, sesepele apapun itu, akan sakit rasanya. Dadaku dada perempuan—kadang sangat sentimentil dan sensitif.

Entah perasaan mana yang lebih menguasai; cemburu, dikhianati atau mengkhianati. Mungkin ketiga-tiganya. Setelah kejadian itu aku jadi malas mengirim dan membalas surat-surat Riana. Kalau sebelumnya tiga hari sekali, setelah kejadian itu aku hanya mengirim surat sekali seminggu kemudian sekali dua minggu lalu berubah sekali sebulan lalu kemudian tak pernah. Tak ada pernyataan putus sebenarnya, namun aku pikir tak ada gunanya melanjutkan hubungan. Aku kemudian mengalihkan perhatian ke kegiatan-kegiatan kampus dan ia mungkin sibuk menghadapi ujian akhir. Sepi episode baru telah tiba, sepi yang coba aku lawan dengan tetap menulis dan aktif di berbagai lembaga mahasiswa.

¤

DUA tahun setelah putus, waktu itu sehari setelah Hari Raya Idul Fitri, Riana mengundangku ke rumahnya. Ia sudah kuliah waktu itu, di sebuah universitas yang berbeda denganku. Ia mengambil salah satu jurusan di fakultas teknik. Ia sudah punya pacar baru, aku juga sudah punya. Sebelum berangkat ke rumahnya, aku bertanya pada diri sendiri: pertemuan macam apa yang akan terjadi?

Ia mengajakku masuk ke kamarnya dan bersama-sama membuka sebuah kardus mi instan yang dibungkus kertas berwarna merah. Aku membayangkannya sebagai dua orang arkeolog yang sedang membuka dua peti tua yang mereka temukan telah tertimbun tanah beribu-ribu tahun. Kardus itu ternyata berisi ratusan amplop berisi surat-suratku, hanya surat-suratku. Surat-surat sepupuku ia bakar setiap ia menerimanya sebelum membuka amplopnya. Katanya, takut aku menemukannya. Aku saling bertatap lalu tertawa riuh bersama.

Di kamarnya itu kemudian kami membuat kesepakatan baru: kami adalah dua orang saudara—keputusan aneh yang dipenuhi keraguan. Setelahnya kami saling membagi cerita tentang kejelekan pacar masing-masing. Pacarnya posesif, pacarku juga. Pacarnya suka dunia glamor, pacarku juga. Pacarnya suka marah, pacarku suka ngambek. Pacarnya terlalu dewasa dan tak punya jiwa muda, pacarku terlalu kekanak-kanakan. Kami lalu tertawa lepas lagi sampai air mata kami sesekali rinai. Ibunya bersandar di pintu kamar sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat kami. Di manapun di dunia ini, Ibu selalu baik hati.

Sebelum keluar dari kamarnya, ia membisikkan satu kalimat di telinga kananku.

“Kalau punya uang banyak nanti, aku ingin membuat museum untuk surat-suratmu!”

Aku bertanya kenapa. Ia menjawab: Sebab dalam surat-surat itu aku tahu berbaring abadi hatimu. Aku memeluknya dengan rasa haru, mencubit pipinya dengan rasa gemas, lalu mencium bekas cubitan itu dengan rasa yang lain lagi—ibunya sudah tidak ada di pintu waktu itu, barangkali ia berada di dapur atau di kamarnya sedang mengenang masa mudanya. Riana tidak menolak aku menciumnya—sesudahnya pipinya yang putih berubah merah jambu. Itulah kali pertama aku memeluk dan mencium Riana. Setelah lama berlalu, di usiaku yang 43 tahun sekarang ini aku masih bisa merasakan ciuman itu. Aku masih bisa merasakan bagaimana degup jantungku dan getaran bibirku saat menyentuh pipinya. Aku bisa merasakannya. Aku juga masih bisa membedakan warna pipinya dengan warna merah jambu yang lain.

Sebutir waktu di masa lampau bisa membuat kepala kita menjadi perekam yang tiada tandingannya. Sebutir waktu yang berisi kejadian sederhana, kejadian yang tak mau dan tak mampu kau lupakan. Sebutir waktu yang bisa membuat kita geli tertawa, haru menangis, atau tertegun berdoa. Sebutir waktu yang akan menghentikan butir-butir waktu lain di masa kini. Sebutir waktu, sebulir kenangan.

 

~ Tulisan di atas adalah satu bagian dari novel saya Perempuan, Rumah Kenangan (InsistPress, 2007). 

Iklan

One thought on “surat-surat (dan) cinta pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s