surat kepada seorang yang pergi saat pagi masih buta

Sebuah Sajak Sederhana yang Barangkali Lebih Baik Jika Aku Sebut Saja Sebagai Surat Kemudian Merelakannya Pergi Agar Suatu Petang Kau Menemukannya di Depan Pintu Sedang Menunggu Kau Pulang Kerja, Saat Kau Sangat Membutuhkan Sesuatu untuk Dibaca Sesaat Sebelum Cepat Istirahat untuk Segera Segar Bangun Pagi Lagi dan Kembali ke Kantor yang Dipenuhi Orang-Orang yang Tak Mau Memahami Kau, Orang-Orang yang Cuma Mampu Membuat Kau Semakin Tersiksa Merindukan Aku

sebelum jam membangunkan azan yang tidur di kubah masjid kau dengan sangat hati-hati membuka lalu menutup pintu kamar dan meninggalkan aku yang kau duga lelap dipeluk lengan-lengan mimpi atau tidur yang hampa

kau pikir itulah saat paling tepat buat berangkat, saat pagi belum bisa melihat siapa yang lewat apalagi melihat apa itu yang tiba-tiba jatuh dari mata kau, sesuatu yang hangat yang segera menjadi embun di ujung-ujung daun rumput di halaman

jika harus aku menuliskan semua jejak-jejak kegelisahan kau yang tak rela meninggalkan aku, tentu saja sajak ini akan sangat panjang, barangkali lebih panjang dari perjalanan yang kau tempuh sebelum tiba di sana, di tempat sekarang kau dikepung kegelisahan lain yang tak mampu kau tampung, kegelisahan yang melahirkan kegelisahan baru yang lebih banyak dan lebih kuat

maka aku tuliskan saja dua perihal sederhana yang barangkali paling segera akan aku dan kau lupakan:

—piyama yang kau kenakan malam itu yang kau biarkan teronggok lesu di kaki tempat tidur. ketahuilah, piyama yang belum aku bawa ke tempat cuci dan masih berada di tempat itu, selalu bicara tentang kau yang amat berat menanggalkan tubuh kau dari pelukannya yang berpeluh malam itu

—lampu tidur yang tetap bangun tetapi bermata rabun, yang cahayanya kau biarkan separuh hidup separuh redup. ketahuilah, mata lampu yang hingga kini masih bertahan hidup itu, melulu bicara kepada aku tentang alangkah baik kau tak mau meninggalkan bayangan tubuh lebih jelas di dingin tubuh dinding kamar

sementara perihal-perihal lain, aku yakin akan ada dan tak ingin mati, tambah tumbuh, di kepala aku atau di dada kau atau sebaliknya bahkan setelah kau pulang lalu pergi lagi berkali- kali buat membunuh mereka

(sebenarnya aku tak suka menggunakan kata ‘kegelisahan’ dalam sajak ini sebab kau terdengar sangat tersiksa oleh kata itu sementara aku tak menghendaki kau tersiksa sedikitpun. namun entah kenapa aku hanya mampu menemukan kata itu buat menggambarkan pikiran aku tentang perasaan kau saat hendak melepaskan diri dari kamar dan saat kau dipenjara kamar lain di sana dan merindukan kamar ini di mana kau dan aku biasa berbincang sebelum tidur saling memunggungi)

6 thoughts on “surat kepada seorang yang pergi saat pagi masih buta

  1. Kok kayaknya nulis buat aku ya yg slalu bangun pagi2 sekali untuk berangkat kerja ke kota sebelah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s