sepasang puisi yang ditulis di pantai

1. pohon-pohon tak berdaun

pohon-pohon tak berdaun
rerantingnya seperti tangan-tangan
berdoa meminta hujan.

di tengah-tengah begini tahun
langit adalah tuhan bagi hutan.

bila malam dinyalakan,
bulan sebiji jadi buah yang diperebutkan.
sementara bintang-bintang adalah bebungaan.
seperti mata gadis dikerjap-kerjapkan.

dan aku adalah daun-daun kering
di kaki-kaki kokoh pepohonan.
menunggu hujan dikirimkan
agar bisa kembali ke pelukan
tangan-tangan dahan.

2. teluk puntondo, suatu senja

menjelang petang, langit belang-belang.
seperti ingatan. seperti kenangan.
ungu-biru-ungu-biru-ungu.

dedaun bakau yang hijau dan payau
aku dengar seperti kau berceracau.

pergilah kau!
pergilah kau!
lupakan aku!

namun dingin angin
mengantar lagi iring-iring
segala angan, segala ingin.

jangan! jangan itu kau katakan!

menjelang petang, langit belang-belang.
seperti kenangan. seperti harapan.
ungu-biru-ungu-biru-ungu-hitam.
membentang, memanjang, memanjang,
lalu menjelma bayang-bayang.

Iklan

4 thoughts on “sepasang puisi yang ditulis di pantai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s