dua kisah cinta jarak jauh

/1/ Surat tentang Ronald McDonald

Di Makassar, seorang gadis menulis surat singkat kepada kekasihnya yang sedang kuliah di Den Haag, karena mujur lulus beasiswa dari pemerintah Belanda. Gadis itu sungguh ingin menyenangkan hati kekasihnya. Ia tahu kekasihnya kuliah di sebuah universitas kiri-akut, marxist, sangat benci pada kapitalis dan teman-temannya.

Maka ia mengirim surat berisi kisah seorang lelaki yang mati bunuh diri sambil menggenggam selembar gambar —foto kekasihnya sedang duduk di depan warung cepat saji, di pangkuan patung Ronald McDonald yang tersenyum ramah.

Sayang, alangkah menyedihkan nasib orang yang mencintai McDonald.

Begitu kalimat terakhir gadis itu di ujung suratnya yang pendek.

*

Di Den Haag, seorang lelaki sungguh sedih membaca surat yang dikirim kekasihnya dari Makassar, yang ia rindu siang malam. Ia berpikir jangan-jangan kekasihnya sudah tidak lagi mencintainya. Padahal ia ingin menikahi gadis itu segera setelah ia kembali ke Makassar.

Maka terburu-buru ia menulis sebuah surat elektronik singkat dan mengatakan kepada kekasihnya itu:

Sayang, percayalah, aku sangat mencintaimu. Sungguh. Aku selalu merindukanmu—dan jika tidak lagi mampu menahan rindu, aku pergi ke McDonald, berlama-lama memandangi patung Ronald sambil menjilat es krim. Ketahuilah, patung Ronald McDonald saja yang selalu mengingatkan dan mengikatkan aku pada Makassar, dan tentu saja padamu. Sungguh, aku mencintaimu, Sayang!

/2/  Surat Singkat buat Istrinya yang Belum Terkirim

Maaf, Sayang, aku tak sempat pamit sebelum berangkat. Aku tahu kau selalu mengkhawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Di amplop surat aku terakan alamat. Kirimlah rindumu ke sana. Lagi, aku lupa membawa telepon. Kau tahu aku lelaki ceroboh dan pelupa.

Aku lampirkan surat wasiat. Kenapa aku tak pernah ingat untuk menyiapkan hal sepenting itu? Aku memang ceroboh dan pelupa. Kau tak perlu bersedih dan khawatir. Aku tak akan jatuh cinta dan menikah lagi di sini. Aku pasti setia menunggu kau. Beberapa hari sebelum datang, tolong, kau kirim kabar. Aku mau membuat penyambutan sederhana untukmu.

Begitulah surat dengan tulisan tangan paling indah itu. Amplopnya mengenakan warna kesukaan istrinya, seperti warna dinding kamar tidur mereka.

Ketika ia bertanya di mana alamat kantor pos, Malaikat Penjaga Kubur berkata, “Berkirim surat adalah sebuah pelanggaran berat!”

Lelaki itu masih menyimpan suratnya hingga kini. Suatu saat jika ada seseorang yang pulang, dipulangkan, ia akan diam-diam menitipkannya. Sungguh mati, katanya, ia sangat merindukan istrinya.

Iklan

2 thoughts on “dua kisah cinta jarak jauh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s