pagi ini

Saya ketika membacakan puisi 'Pagi Ini' pada acara Utan Kayu Interanational Literary Biennale 2009 di Salihara, Jakarta.

pagi ini aku terbangun persis di tempat aku tertidur semalam tapi langit-langit dan dinding kamarku sudah hilang dari tempatnya. kepalaku besar dan berat sekali dipenuhi segala macam peristiwa bahkan yang sama sekali tak pernah aku alami sebelumnya. mereka didatangkan dari negeri-negeri yang asing, dari ingatan orang lain. peristiwa-peristiwa itu dimasukkan oleh seorang pengantar mimpi yang menemukan kepala orang lain tak satu pun terbuka. apakah dia berpikir kepalaku adalah kotak surat atau mengira aku seorang yang bisa mengubah peristiwa menjadi berita untuk koran harian?

pagi ini jalanan dipenuhi pejalan kaki yang datang entah dari mana. ramai sekali. tidak aku temukan seorang pun yang namanya pernah aku catat di buku teleponku. semua orang adalah orang lain. mereka berjalan dengan sangat ringan seperti topi diterbangkan angin pantai. tetapi kakiku selalu menemukan paku di setiap langkah yang mampu diciptakannya. dan kepalaku alangkah susah dipalingkan ke sebelah kiri atau ke kanan. aku dengar peristiwa-peristiwa itu ribut berkelahi persis penonton sepakbola dari kubu-kubu yang saling mendendam. tapi peristiwa-peristiwa itu tak menyadari diri mereka sebenarnya kumpulan ingatan yang salah alamat sampai, ingatan yang tersesat.

pagi ini susah payah aku mencari satu rumah makan yang pintunya tak dipalang buat sarapan dua irisan roti mentega dan secangkir kopi. tapi akhirnya aku menemukan sebuah tempat lengang yang di daftar menunya menyebut banyak nama makanan tradisional tetapi hanya menyediakan mi instan buatan pabrik luar negeri.tak apalah, kataku kepada pelayan yang belepotan memakai bahasa daerahnya sendiri. sepuluh menit menunggu sarapan bagai berabad diasingkan penjajah. sialan! peristiwa-peristiwa di kepalaku terus berteriak-teriak bercacian. aku habiskan mi instan rebus yang mengingatkanku pada rambut api seorang pahlawan dari film kartun dengan berkali-kali bersin di selanya.

pagi ini aku mencari sebuah kamar mandi buat buang air dan melepas kepala yang semakin kembung. tetapi di sisi-sisi jalan melulu cuma mall yang tak menyiapkan toilet. aku amat kelelahan. aku berhenti di halte yang dipenuhi penunggu. tetapi tak ada satu pun kendaraan melintas. aku kelelahan membawa ginjal dan lambung yang mau buang air. aku kelelahan membawa kepala yang ribut. aku mulai kelelahan menunggu.

pagi ini aku memutuskan pura-pura jadi orang gila dan tidur di trotoar. aku biarkan kepalaku diinjak-injak pejalan kaki yang ringan bagai topi. aku biarkan kepalaku pecah bagai telur yang hendak dibuat jadi omlet. aku biarkan peristiwa-persitiwa meleleh ke jalan dan melengket pada sol sepatu orang-orang. aku terpingkal-pingkal agar sekalian bisa buang air.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s