mengenal huruf kecil

Catatan berikut ini saya ambil dari http://www.panyingkul.com yang dua tahun lalu meminta saya menuliskan pengalaman masa kecil dan kegemaran saya menulis. 

Karena Dunia Membutuhkan Catatan Kita!

Perayaan ulangtahun ke-3 Panyingkul! baru saja berlangsung 20-21 Juli 2009 di Hotel Clarion, Makassar, yang ditandai dengan “Workshop dan Seminar Internasional Hubungan Jepang-Indonesia di Mata Orang Biasa dan Pengarsipan Pribadi sebagai Gaya Hidup di Era Digital”. Dalam kegiatan yang didukung oleh Japan Foundation dan atas kerjasama dengan Pusat Kajian Kebudayaan Jepang Unhas ini, sejumlah citizen reporter dan pembicara memaparkan aktivitas pencatatan, pengarsipan dan penulisan sejarah orang biasa. Ada peran sejarawan, peneliti dan juga jurnalis yang diemban oleh orang-orang yang tekun melakukan pencatatan sehari-hari. Di edisi keenam ini, kami hadirkan profil M. Aan Mansyur salah seorang citizen reporter Panyingkul! yang tekun melakukan pencatatan a la orang biasa.(p!)

Pengantar

M.Aan Mansyur yang lebih dikenal luas sebagai penyair adalah salah seorang penggiat dokumentasi warga yang tekun. Saat ini, di sela kesibukannya mengembangkan kegiatan literasi di Makassar dengan aktif mendatangi komunitas-komunitas baca tulis serta mengelola rumah produksi bernama Proyektor, setidaknya, ada lima proyek pribadi yang menghantui hari-harinya.

Pertama, pencatatan sederhana dalam bentuk tulisan dan film dokumenter tentang Daeng Abu dan istrinya, Daeng Te’ne. Pasangan suami istri ini tinggal berdua di Pulau Cangke, sebuah pulau kecil, sekitar dua jam dari Paotere. Mereka tinggal di sana sejak awal 1970-an. Daeng Abu yang menderita kusta diusir ke sana. Karena cinta pada suaminya, Daeng Tenne ikut menemani suaminya ke sana. Selama 30 tahun lebih mereka mempertahankan cinta mereka. Sekarang Daeng Abu menderita kebutaan dan Daeng Tenne tuli. Mereka melakukan aktifitas keseharian mereka yang sederhana selalu berdua. Misalnya menangkap cumi atau ikan untuk mereka makan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Daeng Abu setiap bulan mendapat beras dan kebutuhan lain dari orang-orang yang mengapresiasi kerjanya menjaga Pulau Cangke. Daeng Abu memang menjaga terumbu karang di sekitar pulau kecil itu.

Kedua, dokumentasi dalam bentuk catatan harian sejumlah keluarga (mantan) penderita di Jongaya, Tamalanrea dan RS Kusta regional Daya, Makassar Pencatatan ini awalnya dimaksudkan Aan untuk belajar kesabaran dari para penderita kusta yang setiap hari mendapatkan perlakuan diskriminatif dari lingkungannya.

Ketiga, riset pembuatan film dokumenter tentang komunitas pandai besi perempuan di Bulu Salaka, Sinjai.

Keempat, bersama dengan teman-teman di lembaga Payo-Payo, Aan mengajak puluhan anak-anak di Desa Kompang, Sinjai, untuk melakukan pendokumentasian desa mereka melalui Video Komunitas. Mereka merekam kehidupan sehari-hari mereka dalam bentuk film yang sederhana. Desa ini 3 tahun lalu dihantam bencana longsor. Proyek semacam ini pernah dikerjakan CNN yang membekali anak-anak korban badai Katrina di New Orleans dengan handycamera untuk menceritakan kembali kehidupan seusai bencana.

Kelima, pencatatan sederhana tentang biografi kampung kelahiran Aan di Kabupaten Bone, melalui wawancara dengan sejumlah keluarga, baik yang masih tinggal di sana maupun yang merantau–dan tentu saja dari sejumlah catatan harian. Aan bermimpi membuat sebuah novel-verse (novel-puisi) tentang kampung halamannya, ia terinspirasi dari sejumlah karya sastra semisal Pengakuan Pariyem dan potongan-potongan karya sastra klasik seperti Lagaligo.

Semua proyek pribadi ini didanai Aan dari uang yang diperolehnya sebagai pembuat film dokumenter bagi sejumlah lembaga internasional. Sementara untuk keperluan membeli buku, makan dan transportasi mengunjungi komunitas baca tulis dan kegiatan literasi lainnya, diperoleh dari upah menulisnya.

Dalam rangka ulangtahun ke-3 Panyingkul! kami meminta Aan menuliskan tentang masa kecil dan latar belakang yang mendorongnya tumbuh menjadi pencatat yang tekun.

Semoga menjadi inspirasi.

***

Kisah Si Anak Pikun dan Mimpi-Mimpinya

APAKAH saya pernah mengatakan bahwa digelari Anak Pikun oleh ibu dan ayahku adalah hal yang paling saya benci dan sering membuat saya menangis saat masih kecil? Ya, seingatku, itulah gelar menjengkelkan pertama yang saya terima.

Saya tahu mengapa mereka selalu memanggilku Anak Pikun. Berkali-kali pada hari Minggu atau hari saat angka kalender berwarna merah saya bangun dan mandi terburu-buru lalu mengenakan seragam sekolah. Berkali-kali salah menyebut nama sepupu dan teman-teman. Berkali-kali lupa di mana menyimpan tas sekolah atau mainan. Berkali-kali membawa buku yang salah ke sekolah.

Suatu malam, waktu itu saya masih kelas dua SD, saya diam-diam bertanya kepada kakek, bagaimana cara mengobati sifat pelupa. Saya iri karena kakek tak pernah lupa di mana dia menyimpan kacamata bacanya. Saya iri karena dia tak pernah lupa halaman terakhir dari buku yang dia baca, meskipun tidak menggunakan pembatas buku dan dia tidak suka melipat halaman buku. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Saya pikir senyumnya bukanlah jawaban.

Keesokan harinya, seusai mengajari saya mengaji, dia akhirnya menjawab pertanyaan saya. Dia menghadiahi saya satu buku catatan kosong yang di sampulnya ada gambar Anna Maria Sofyana tersenyum dan satu pulpen Pilot biru.

“Catat, agar kau ingat!” kata kakek sambil memperlihatkan beberapa buku catatan hariannya.

Buku yang di sampulnnya ada gambar model yang kemudian dinikahi Roy Marten itulah buku catatan harian pertamaku. Lembaran-lembaran buku itu dipenuhi kalimat-kalimat yang selalu dimulai dengan ‘Jangan lupa’, misalnya: Jangan lupa mengerjakan PR Matematika. Waktu saya meminta dibelikan buku catatan yang baru, kakekku tertawa melihat buku catatan itu.

Karena tidak mau disebut Anak Pikun lagi saya terus menulis catatan harian, meskipun saya masih sering lupa membubuhkan tanggal saat menulis catatan. Sebelum buku catatan mampu menghilangkan gelar saya sebagai Anak Pikun, sudah timbul masalah lain. Saya dapat gelar baru dari teman-teman kelas saya. Bencong atau banci, gelar menjengkelkan kedua. Bagi mereka, yang menulis catatan harian hanya perempuan atau yang separuh perempuan. Saya laki-laki.

Untungnya saya mendapat sesuatu yang lain dari catatan-catatan harian itu: kenikmatan menulis. Saya menulis, dengan bahasa saya sendiri, dongeng-dongeng yang pernah dikisahkan nenek, yang cuma tahu menulis menggunakan aksara Bugis. Saya menulis tentang apa saja yang baru saya baca. Saya suka menulis apa yang saya lihat di pasar atau di jalan saat pulang sekolah. Saya menulis perasaan-perasaan saya—meskipun suatu waktu saya pernah dipermalukan seorang teman kelas karena hal itu. Dia membaca dengan lantang di depan kelas salah satu catatan tentang perasaan suka saya kepada seorang murid perempuan di kelas itu. Saya menangis—namun beberapa hari kemudian saya tersenyum karena hal itu membuat gelar saya sebagai banci pelan-pelan dilupakan.

Ketika merasa catatan harian tidak lagi cukup, saya mulai menulis surat juga kepada banyak orang. Ketika menginginkan buku baru atau barang lain, saya menulis surat kepada ibu. Ketika malu mengungkapkan sesuatu secara langsung, saya mengirim surat kepada guru-guru dan sahabat. Ketika tidak tahu bagaimana caranya bicara dengan ayahku yang pergi, saya menulis surat—meski tentu saja tak pernah mengirimnya karena tidak tahu alamatnya. Kepada pacar pertama yang satu sekolah pun nyaris setiap hari saya mengirim surat.

Dulu saya berpikir menulis catatan harian dan surat-surat itu hanya kesenangan yang dipandang aneh dan usaha menghilangkan kepikunan dini. Namun, setelah saya kuliah dan membaca lagi catatan-catatan itu, saya terkejut sendiri. Di sana, meskipun dengan ditulis dengan kalimat-kalimat sederhana, ternyata tersimpan banyak hal. Saya menemukan di catatan itu, bagaimana berubahnya kampung saya sejak dibangunnya bendungan besar di desa sebelah. Di sana ada peristiwa seorang membunuh saudaranya sendiri karena persoalan pembagian air irigasi. Saya mencatat siapa orang pertama yang pergi ke Mekkah dan bergelar Haji, juga siapa yang pertama membeli traktor setelah menjual kerbau-kerbaunya. Juga sejumlah hal penting dan menarik lainnya.

Sungguh, di dalam lembar-lembar catatan itu ada banyak sekali hal yang bisa saya temukan kembali. Ternyata buku-buku catatan itu adalah gudang yang menyimpan banyak ‘persediaan hidup’ saya. Tiga buku sajak, sebuah novel, sejumlah cerita pendek dan tulisan lainnya yang telah saya terbitkan terus berhutang pada catatan-catatan harian itu.

Kegemaran saya mencatat telah membuat saya beberapa tahun terakhir ini juga belajar membuat film. Intinya mencatat dengan kata-kata dan mencatat dengan gambar dan suara, bagi saya, tetaplah sama. Beberapa film dokumenter telah saya hasilkan dari pencatatan menggunakan media gambar dan suara itu.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dulu saya tidak digelari Anak Pikun oleh ibu dan ayah.

***

KALAU saya bilang menulis, tentu saja di dalamnya saya maksudkan juga kegiatan membaca. Sejak kecil saya terpaksa harus ikut membaca majalah Panji Masyarakat dan Trubus milik kakek saya. Saya harus ikut membaca buku-buku karya Hamka, dari Tenggelamnya Kapal Van der Wijck hingga Tasawuf Modern. Kakek saya kasihan dan akhirnya jika pergi ke Balangnipa, ibukota Sinjai, dia akan pulang membawa oleh-oleh sejumlah Majalah Bobo bekas. Kelak di Majalah Bobo itulah saya mengirimkan cerita-cerita dan puisi-puisi pertama saya—juga dari sanalah saya menemukan banyak teman untuk saling berkirim surat.

Sejak kecil saya selalu bermimpi punya perpustakaan yang berisi ribuan buku. Seperti Jorge Luis Borges, saya juga selalu membayangkan surga itu seperti perpustakaan. Alangkah menyenangkan jika setiap hari bisa bermain di perpustakaan. Saya tidak suka menunggu berhari-hari saat libur untuk bisa menikmati ruang perpustakaan sekolah lagi. Sewaktu bersekolah di Tsanawiyah, di Bone, saya membangun perpustakaan kecil di rumah berisi ratusan buku-buku cerita—didominasi kisah-kisah pendekar Wiro Sableng. Koleksi perpustakaan itu habis ketika adik saya sering membawa teman-temannya ke rumah. Pula saya mulai tidak senang membaca karya Bastian Tito itu saat RCTI mulai menayangkan film serinya yang mengganggu imajinasiku.

Sewaktu SMA, saya selalu dipanggil kutu perpustakaan oleh teman-temanku karena lebih suka nongkrong di perpustakaan daripada di kantin sekolah. Juga selalu disebut sebagai pacar ibu pegawai perpustakaan karena suka membantunya menata buku-buku atau menggantinya menjaga perpustakaan. Padahal kepada ibu itulah saya nyaris setiap hari menitipkan surat untuk kekasihku yang juga suka main di perpustakaan.

Saya beruntung waktu kuliah di Makassar bisa bergaul dengan sejumlah orang yang sama suka membaca buku dan menulis. Bersama mereka, yang juga punya mimpi membangun perpustakaan, saya membuat kelompok diskusi. Dengan mereka pula saya akhirnya selama beberapa tahun membuat taman baca sederhana buat anak-anak miskin di dekat rumah kontrakan kami. Bersama mereka pula saya melakukan apa yang saya sebut ‘perpustakaan punggung’ di kampus. Bersama mereka pula sebuah penerbit akhirnya didirikan. Mereka jugalah yang membantu saat saya dan kekasih saya waktu itu mulai membangun Kafe Baca Biblioholic, Mei 2004 lalu. Tentu saja, mereka pulalah yang membuat kafe baca itu bisa bertahan hidup hingga kini.

Dalam hidup ini, ada dua jenis keluarga: keluarga yang harus diakui karena ikatan darah dan keluarga yang bisa dipilih sendiri. Mereka, teman-teman saya itu, adalah keluarga yang dengan sadar saya pilih sendiri. Saya selalu merasa tak akan menjadi seperti sekarang ini tanpa mereka. Merekalah keluarga yang membantu mewujudkan banyak impian saya. Keluarga itu kami sebut Ininnawa, sebuah nama yang diambil dari kosa kata bahasa Bugis yang berarti ‘niat baik’.

Saya adalah orang yang punya banyak rencana tapi tak kuat bekerja—dan tak bisa mengatur pekerjaan dengan baik. Saya adalah orang yang punya banyak mimpi dan kemauan tapi tak punya banyak energi untuk mewujudkannya. Teman-teman saya selalu bilang: Aan itu nafsunya besar tapi nafasnya kecil.

Selain bertemu banyak teman yang baik hati, kota juga menyediakan banyak kemudahan kepada saya. Di kota ada lebih banyak perpustakaan yang bisa dikunjungi, meskipun tidak sesuai dengan harapan saya, juga ada banyak toko buku. Di tahun pertama kuliah, saya mengenal internet, dunia yang dari waktu ke waktu membawa saya ke banyak kemungkinan yang menyenangkan.

Internetlah yang telah mempertemukan saya dengan sejumlah keluarga baru lagi. Tiga tahun terakhir ini saya hidup di tengah-tengah keluarga yang hangat bernama Panyingkul! Dari sana saya belajar dan menemukan banyak hal baru.

Di Panyingkul! saya diajak menggerakkan inisiatif independen yang kecil dan mengubahnya menjadi hal yang bermanfaat buat orang lain. Di sinilah pula saya belajar untuk tetap menjadi orang biasa, memandang hal-hal di sekitar saya sebagaimana orang biasa memandangnya. Di sinilah catatan-catatan saya tentang hal-hal sederhana di sekitar saya berterima dan bisa dibaca orang lebih banyak. Sungguh menyenangkan!

***

SAYA memang punya banyak kemauan. Tambah banyak. Sekarang ini saya menyimpan banyak impian di buku catatan harian—banyak di antaranya belum berani saya katakan kepada teman-teman. Ada yang sedang diam-diam saya jalankan sendiri. Saya sedang mencoba mengajari diri sendiri untuk bekerja, tidak sekadar bermimpi.

Saya sedang melakukan riset dan pencatatan kecil-kecilan tentang sejumlah komunitas di sekitar saya. Dua tahun terakhir ini, misalnya, saya melakukan pencatatan mengenai komunitas penderita (dan mantan penderita) kusta di Makassar. Bersama para mantan penderita kusta dan keluarganya melakukan proyek sederhana menuliskan catatan harian mengenai diskriminasi yang mereka terima (dan mereka lakukan kepada sesama penderita kusta atau keluarganya.) Saya juga sedang meriset kecil-kecil beberapa keluarga di antara mereka untuk kemudian bersama-sama memfilmkannya kelak.

Akhir-akhir ini, saya selalu membayangkan bisa mengajak anak-anak desa membangun perpustakaan dan melakukan pencatatan tentang kehidupan mereka sendiri. Sepuluh tahun hidup di keluarga Ininnawa dan tiga tahun di keluarga Panyingkul! membuat saya percaya bahwa orang biasa yang selalu diancam kepikunan seperti saya bisa mengubah bayangan itu menjadi nyata. (p!)

Iklan

2 thoughts on “mengenal huruf kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s