ayah, luther vandross, dan kesetiaan ibu

Suatu pagi di bulan April 2010 lalu, tiba-tiba ibu saya menelpon. Tidak pernah sebelumnya ibu saya menelpon dengan suara sesedih itu. Setelah dia mengucapkan, “Bapakmu sudah meninggal, Nak” ada lengang yang panjang di telepon. Saya menangis. Dia menangis. Tetapi dalam hati.

Bapak saya pergi dari rumah, hampir 24 tahun sebelum pagi itu. Kami tidak pernah bertemu dengan dia lagi sejak pergi. Ibu saya dapat kabar dari seseorang, yang juga dapat kabar dari teman ayah saya di Malaysia, bahwa bapak saya sudah meninggal.

(Beberapa bulan lalu saya baru tahu bahwa bapak saya sebenarnya meninggal 2 tahun sebelum ibu saya menelpon sambil menangis itu.)

Hari itu, hari saat ibu saya menelpon itu, saya mendengar lagu berikut ini entah berapa puluh kali. Kalian boleh ikut mendengarkannya. Ini lagu favorit saya.

Hari itu juga saya menulis sebuah puisi panjang. Puisinya bisa kalian baca di akhir postingan ini. Saya mengumpulkan begitu banyak kenangan saya tentang ibu saya lalu menuliskannya.

 

Dance with My Father – Luther Vandross

Back when I was a child
Before life removed all the innocence
My father would lift me high
And dance with my mother and me and then

Spin me around till I fell asleep
Then up the stairs he would carry me
And I knew for sure
I was loved

If I could get another chance
Another walk, another dance with him
I’d play a song that would never, ever end
How I’d love, love, love to dance with my father again

Ooh, ooh

When I and my mother would disagree
To get my way I would run from her to him
He’d make me laugh just to comfort me, yeah, yeah
Then finally make me do just what my mama said

Later that night when I was asleep
He left a dollar under my sheet
Never dreamed that he
Would be gone from me

If I could steal one final glance
One final step, one final dance with him
I’d play a song that would never, ever end
‘Cause I’d love, love, love to dance with my father
again

Sometimes I’d listen outside her door
And I’d hear her, mama cryin’ for him
I pray for her even more than me
I pray for her even more than me

I know I’m prayin’ for much too much
But could You send back the only man she loved
I know You don’t do it usually
But Lord, she’s dyin’ to dance with my father again
Every night I fall asleep
And this is all I ever dream

Berikut ini puisi saya beserta terjemahannya yang dikerjakan oleh @fatimaalkaff.

Mencatat Ibu buat Ayah

1.

jika dia dengar buah-buah mangga
di belakang rumah berjatuhan.
dia selalu bertanya kepada engkau

“apakah mereka sudah matang
atau tak betah bertahan di dahan?”

tapi tubuhmu sudah bertahun-tahun
memilih diam dalam selembar foto,
tubuhmu yang tak punya bayangan.
sebab tubuhmu yang hidup pergi
menjelajah tempat-tempat tanpa alamat.

tetapi dia tetap tersenyum dan yakin
engkau semakin jauh masuk ke dalam
jiwanya yang dipenuhi mata air.

dia tabah seperti perigi.

2.

dia akhirnya membeli telepon genggam
meskipun tidak tahu berapa nomormu

dari balik kamar selalu aku dengar
dia meminta kepadamu dengan
bibir gemetar

“suamiku, dekatkan sedikit bibirmu
ke telepon. lebih dekat. lebih dekat…”

3.

aku pikir di bulan-bulan ini hujan
semata air yang bergerak vertikal
ke bawah dan ke atas bergantian

mengubah halaman dan jalan-jalan
menjadi laut yang compang-camping
tidak ada pelayaran mampu sampai

tetapi dia tidak pernah berpaling
dari keyakinannya tentang hujan:
cahaya basah, matanya dan matamu
yang berair. matamu yang di hulu
matanya yang di hilir.

4.

setiap pagi dia selalu membangunkan aku
dan menceritakan mimpinya yang sama

lautan ditumbuhi bintang-bintang
dan engkau datang mengajaknya memancing
ikan berdua di langit yang baru dan lapang.

5.

sebelum berangkat tidur aku selalu menatap
matanya, bertanya tanpa berucap.

dan dia tahu jawaban untuk pertanyaan
yang berulang-ulang aku lontarkan itu

“setia adalah pekerjaan yang baik, nak!
berangkatlah…”

6.

aku menemaninya ke pantai
dia berbaring di pasir seperti kerang
yang terdampar. tubuhnya terbuka
dan angin mencium sebiji mutiara
dari dadanya yang berkilau-kilau.

katanya engkau seorang penyelam
mampu bertahan di palung-palung dalam

itulah kenapa dia selalu datang ke pantai
menunggu kapan engkau datang menghirup
bekal menyelami hidup dari jantungnya

7.

dia memasak selalu dengan rambut
wangi yang tersisir dan terikat rapi
dia selalu ingat suatu malam sebulan
sebelum aku lahir, engkau tumpahkan
sayur dan kemarahan karena menemukan
sehelai rambut terselip di daun kemangi.

dia menyajikan makanan mengenakan
senyum dan pakaian berbunga-bunga.
setiap hari. seolah engkau akan datang
membawa dirimu yang kelaparan.

dia berdoa lalu makan pelan sambil bicara
soal cuaca dan sesekali melirik ke televisi.
dia selalu mengkhawatirkan kesehatan
dan keselamatanmu.

8.

dia suka duduk di muka cermin membunuh
wajah sendiri dengan nafas yang basah
kemudian menghapusnya dengan tangan,
menggantinya dengan wajah yang lebih cantik.

aku sering berdiri di belakangnya
sehingga dia menemukan wajahku
di hadapannya sedih dan berair

dia akan berbalik, tersenyum dan berkata:
menangis adalah upaya untuk tertawa lebih lepas.
sudah, menangislah!

9.

dia melingkari setiap angka di kalender
seperti mengikat mereka agar tak tanggal
dan di akhir tahun dia menghitungnya
sebagai kekayaan. begitu caranya dia
mengajari aku menabung.

tunggulah, katanya, akan tiba waktunya
buat dicairkan dan kita berpesta sekeluarga.

10.

dia terus bernyanyi untuk menidurkan
mata dan nadinya—dan di dalam mimpi
aku menyaksikan malaikat-malaikat riang
terbang dan hinggap dari nada ke nada.

aku selalu tidur mengenakan senyum
karena mengetahui dia selalu jatuh cinta
kepada engkau.

11.

di senja saat mendengar kabar engkau mati
sepasang matanya tak berkobar bagai neraka
sebab mata, katanya, surga bagi kesedihan

sementara kesedihan adalah kebahagiaan
yang lembut dan lembab

ibu selalu meletakkan engkau
di surga itu, ayah!

April 2010

 

On Mom for Dad

1.

when she heard the mangoes
on the backyard are falling
she always asked you

“are they ripe
or they no longer wish to keep
hanging?”

but your body has been, for many years,
remained silent in a photograph,
a body with no blood.
for your living body has gone,
walked to unknown towns.

but she kept smiling and was convinced
the further you go the deeper you get into
her soul’s filled with spring.

she is patient as a well.

2.

she finally bought a cell phone
though she doesn’t have your number

behind the wall i always heard
she asked you to talk
with trembling lips

“my husband, bring your lips
to the phone. closer. closer … ”

3.

i think in these months the rain
only grains of water that move up
and down.

turn the yard and streets
to a ragged sea.
no voyage is able to arrive.

but she never turned
her belief about the rain:
wet light, her watery eyes and yours.
your eyes at upstream,
hers at downstream.

4.

every morning she always woke me up
and told her same old dream

the stars grow in the sea
and you come take her fishing
at the bright wide sky.

5.

before going to bed i always looked
at her eyes, asking without words.

and she knows the answer to the question
i keep on repeating

“waiting is a noble job, son.
so, now leave…“

6.

we went to the beach.
she lied on the sand like a stranded clam
and the wind kissed a grain of pearl
from her sparkling chest.

she said you are a diver
who survived the abyss

that’s why she always came to the beach
waiting for you to breathe in
life from her heart.

7.

she always cooks with her fragrant hair,
neatly combed and tied.
she always remembers one night, a month
before i was born, you spill the
cook and anger for finding
a string of hair got lost in a bowl of basil leaves.

she serves food wearing
smile and flowery clothes.
every day. as if you’ll come
and hungry.

she prays and eat quietly as she spoke
about the weather and glanced at the television.
she always worries about your health
and whereabout.

8.

she likes to sit in front of the mirror
killing her own face with a wet breath
then remove it by her own hand,
replace it with a prettier face.

i often stand behind her
so that she found my face
in front of her, sad and watery.

she will turn around, smiled and said:
crying is an effort to laugh harder.
go on, cry!

9.

she circled each number on the calendar,
bind them so as not to loose
and by the end of the year she counted
as treasure. that’s how she
taught me to save.

be patient, she says, there would be a time
to withdrawn and have a party for the whole family.

10.

she kept singing lullabies to her
eyes and pulse, and in my dream
i saw angels cheerfully
flew and perched from tone to tone.

i always sleep wearing smile
knowing that she was always in love
to thee.

11.

at dusk when she heard the news of your death,
pair of her eyes weren’t burning like hell.
eyes, she said, is a heaven for grief

while the grief is a soft and moist joy

mother always put you
in her heaven, dear father.

2 thoughts on “ayah, luther vandross, dan kesetiaan ibu

    • rumah lama sebenarnya, bang, cuma baru dihidupkan lagi. lebih mudah dan nyaman rasanya main di wordpress daripada di blogspot.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s