di simpang empat itu

 
kemarin, sebelum magrib, di simpang empat
itu, aku melihat sepasang kekasih melintas, lewat
tanpa beban. berengkuhan. keduanya masih remaja,
barangkali anak orang kaya, atau anak pejabat.

aku lupa warna pakaian mereka— sebab mereka
mengenakan senyum yang menyamarkan
semua warna.

mereka berhenti, sebelum berbelok ke kanan,
berciuman beberapa menit tanpa peduli kendaraan
yang juga berhenti dihadang lampu merah.

aku berpikir: setiba di rumah, aku akan
menulis satu puisi pendek, tentang sepasang
remaja yang berciuman di simpang
empat itu,

tempat kekasihku tertembak polisi
setahun sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s