puisi yang ditulis ibuku

 

jawaban akan menggapaimu nanti
mengapa waktu begitu lihai menyakiti
dan mengapa tak kutemukan titik kembali
untuk membayar semua hidupku yang pergi

mengapa aku terlalu mengangankan
keluar dari sini, terlalu menginginkan
keluar dari diriku?

aku memanggil,
aku berteriak kepadamu.
namun tak ada yang menimpal.
kini aku memanggul
kata-kataku sendiri

setiap orang bisa menuduhku
sebagai si-yang-paling-gila
sehabis engkau dikuburkan
dan cuma namamu tersisa
bagi ingatan sejumlah orang.

tapi aku memiliki kenangan.
aku tidak pernah gila.
aku tahu apa yang masih kupunya lengkap
pula apa yang telah lenyap.

aku menarikmu ke lenganku
ke dalam lengangku.
namun kau tak paham
bahwa sepenuhnya aku tahu itu,
kau tak bersamaku dan selalu bersamaku.

karena selama kita hidup
seperti sungguh hidup
membawa cinta kita
ke dalam parah perih terbakar api
untuk mencairkan darah kita
saat tiba-tiba dingin-beku
atau mengeras seperti batu
agar tersusun tulang-tulang kita
lagi di tempatnya.

untuk melupakan bahwa aku menangis
meskipun kau betul-betul tak tahu.

akan kusampaikan padamu nanti
bagaimana kabar cucu-cucumu.
mengapa aku menggerutu sepanjang hari,
menyiapkan untukmu secangkir kopi,
memandangi kursimu
dan sama sekali tak mengerti
mengapa kursi itu kosong.

satu pagi aku bersedih
dan tak tahu mengapa.
di lain pagi aku bahagia
menyadari aku masih cantik.
memiliki pinggang ramping,
sepasang lengan, bunga-bunga,
botol-botol parfum, kehangatan,
kegesitan dan janji-janji

lengan lengang akhirnya
lebih panjang dari suara tawa,
dan itu biaya bagi harapan-harapanku—
kini aku pemilik dan pemeluk tubuh
juga keyakinanku sendiri

aku masih menemukan matahari
menghangatkan airmatamu di mataku.
kau lihat, kita berbagi perih.
aku mendesakmu mendengarku,
meskipun dari kejauhan,
aku berandai-andai kau mengenali
suaraku. berandai-andai kau tahu
siapa aku, siapa diriku.

aku tak menyesali keputusan tuhan
aku telah mencuri anak kunci
untuk milikku yang telah pergi.
bahwa aku mengasuh cinta ini

dan sesosok malaikat palsu,
di samping kematianmu,
terus saja menguatkan aku.
seperti fotomu yang hidup.
meskipun dia tahu
waktu adalah penipu.

dan aku bermimpi seperti kemarin
tentang siapa aku hari ini.
itulah mengapa sungguh susah
bagimu untuk menjawabku.
terhadap diri sendiri aku tak yakin.

suaraku akan menyentuh kupingmu, suamiku.
kau akan mendengarku, aku ada di kokleamu.
kini aku sedang menuju
dan akan sampai pada kau.


a poem that my mother wrote

the answer, would reach you someday
of why times are so good in hurting
and why i never find the turning point
to pay back my departed life

why i wonder too much about how to get out of here,
and want too much to leave my self

i called you and i shouted at you,
but no one replied
no i have to bear
my own words

everyone could accuse me
as the maddest one
after your funeral
and only your name remained
in the memory of some people

but i have memories,
i have never been mad
i know what i have is still intact
and know what has gone

i drag you to my arms
to my silence
but you never understand
that i am fully aware of this:
you are not with me and always with me

for as long as we live, truly live
we bring our love
to the painful burning fire
to melt our blood as it is cooled and frozen
or hardened as rocks
for our bones to be aligned

to forget that i cried
though you never know, never really know

i will tell you later,
the news about your grandchildren
why i keep on mumbling all day long
preparing a cup of coffee for you
staring at your chair
and can not understand why it is empty

one morning i would be sad
and i wouldn’t know why
the other morning i would be happy
knowing that i am still pretty, with a slim waist
arms, flowers, bottles of perfume, warmth, frolic, and promises

but the arms of silence are much longer
than the sound of laughter,
and that is the price of my hopes
now i own and embrace my body
and my faith, alone

i can still find the sun
warming your tears in my eyes
you see, we share the pain
i demand you to listen to me,
even from a distance.
i wish you could recognize my voices,
i wish you knew me, the whole me

i never regret god’s decision
i have stolen a key
for my gone belonging
and now i have to nurture this love

and a fake angel,
beside your deathbed,
keeps on strengthening me,
like your living picture
even though he knows,
that time is a great cheater

and i keep on dreaming, just like yesterday
about who i am today,
and that is why it is so difficult
for you to answer me,
for i am never sure
about anything, even about my self

my voice will touch your ears, my husband
now you will always hear me, i am in your cochlea
and now i am going to and will arrive
at your side.

april 2010

~diterjemahkan oleh rahmat hidayat.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s