tiga catatan terakhir

 

1.

di dalam sebuah pejam
aku saksikan sepasang mataku
menghamburkan jutaan
kunang-kunang. Kuning
seperti daun lerai dari ranting.

kunang-kunang itu berkerumun di ujung-ujung
jari tanganku menyematkan ciuman terakhir
sebelum terbang berkilau-kilauan di udara.

kunang-kunang itu melanglang mencari sepasang
matamu yang berada dalam sebuah pejam yang lain
pejam yang telah lama direncanakan alam dan malam.

dan engkau menyangka kunang-kunang
yang masuk ke matamu adalah mimpi,
mimpi yang engkau duga-duga maknanya.

namun pada saatnya engkau akan tahu,
kelak kunang-kunang itu terbang
hinggap di kelopak pipimu
setiap kali aku engkau kenang.

2.

tiba-tiba mampu aku pahami
seluruh yang pernah datang
bertandang ke dua mataku
bahkan yang aku duga mimpi.

tiba-tiba aku jatuh cinta
melebihi seluruh jatuh cinta
yang pernah menyakiti dadaku. namun

ketika ingin aku katakan pada telingamu
aku tak lagi memiliki suara,
ketika ingin aku katakan pada matamu
aku tak lagi memiliki cahaya.

3.

melalui lubang pepori kulitku, air resap perlahan
membentuk sungai-sungai kecil di tubuhku.

sungai itu mencari rongga dadaku
mencari lautan yang pernah dipenuhi
ribuan ikan mungil peliharaanmu.

sesaat sebelum mataku dikatup
dan peti matiku ditutup,
sungai-sungai itu meluap,
menguap ke langit lapang,
langit yang selalu engkau pandang
sambil menggigit bibir sendiri
dengan mata bergenang-linang.
sebab engkau tak mau lebih manja
dari langit di bulan-bulan hujan.

tetapi tidak. kelak langit dan dirimu
sendiri akan memaafkan semua
kesedihan yang engkau ciptakan
dari kematianku.

 

three final notes

1.

with eyes closed,
i witnessed my own pair of eyes
setting free millions of fireflies,
like leaves bidding farewell to it’s trees.

the fireflies gathered at the tips
of my fingers and planted their last kiss
before taking flight, glittering the night sky

the fireflies fled far and wide
in search for your eyes.
eyes closed for another pair of closed eyes.
conspired by nature and night.

and you thought the fireflies
that flew into your eyes formed a dream,
the one you kept guessing the meaning of.

but in time you will know,
whenever a firefly lands on petals of your cheeks
that very moment it is i whom you think of.

2.

suddenly i was able to understand
everything that visited my eyes
even the ones that i thought were dreams

suddenly i was in love
exceeded all the fallen loves
that have hurt my chest. yet

when i want to say this to your ears
i no longer have a voice,
when i want to say this to your eyes
i no longer have the light.

3.

slowly water seeps within the pores of my skin
forming small rivers in my body

a river in search of caves in my chest
looking for the sea that was once occupied by
thousands of your tiny fish

right before my eyes were shut
and the coffin was closed,
the rivers overflowed,
evaporated into the vast sky,
the one you always gaze up to
while biting your own lip
to stop the tears from falling,
because you don’t want to seen weaker
than the sky in the months of rain

don’t worry. you and the sky
will get by the grief
you cried from my death.

 

~ diterjemahkan oleh @harigelita

3 thoughts on “tiga catatan terakhir

  1. Ping-balik: tentang ; Tiga Catatan Terakhir (Bag. 2) | Sebuah tanda tanpa makna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s