dunia yang lengang

 

sebuah usaha, agar orang-orang
lebih banyak bicara dengan mata,
pemerintah membuat aturan ketat:
setiap orang hanya berhak memakai
seratus tiga puluh kata per hari, pas.

jika telepon berdering, aku meletakkan
gagangnya di telingaku tanpa menyebut halo.
di restoran aku menggunakan jari telunjuk
memesan mi atau coto makassar. aku secermat
mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat.

tengah malam, aku telepon nomor kekasihku
di jakarta, dengan bangga aku bilang padanya:
aku menggunakan delapan puluh sembilan
kata hari ini. sisanya kusimpan untukmu.

jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti
ia telah menghabiskan semua jatahnya,
maka aku pelan-pelan berbisik: aku
mencintaimu
. sebanyak lima belas kali.

setelah itu, kami hanya duduk membiarkan
gagang telepon di telinga kami dan saling
mendengar dengus napas masing-masing.

 

a world filled with space

in order to make people
talk more with their eyes,
the government came up with a strict rule:
each person is only entitled to use
one hundred and thirty words a day. no more, no less.

if the phone rings, i put the receiver to my ear without saying ‘hello’.
at the restaurant, i point my finger to ‘noodles’ or ‘coto makassar’.
i train myself carefully to abide this rule and not to waste.

at midnight, i’ll call my lover in jakarta.
with pride i’ll tell her:
i have only used eighty-eight words today.
i’ve kept the rest for you.

when she fails to answer, i’d know for certain
that she has used up all her words.
so, very slowly i’ll whisper
“i love you” to her fourteen times.

afterwards, she and i will just sit there
holding a receiver to our ears,
quietly listening to each other’s breaths.

 

~ diterjemahkan oleh @harigelita

Iklan

One thought on “dunia yang lengang

  1. seandainya manusia bisa dimasukkan ke dalam sebuah mesin untuk kemudian di cetak ulang demi membuat jiplakan, demi t(huruf besar)uhan, pria seperti dalam dunia yang lengang adalah yang ingin kucetak ulang agar ia mencintaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s