tujuh kisah kecil buat orang yang berkacamata

 

1

suatu malam menjelang tutup, optik terkenal itu
kedatangan pembeli tiga orang: satu anak remaja
bersama dua orang tuanya yang sudah mulai renta.

si anak remaja mau membeli sebuah kacamata
yang mampu membantunya melihat masa depan.

sementara orang tuanya mau membeli kacamata
yang mampu membantu mereka melihat masa lalu.

2

dia amat bahagia akhirnya punya kacamata.

setelah mematut-matut wajahnya di muka kaca,
dia tergesa-gesa berangkat ke tempat tidurnya.

dia merebahkan badan dan memejamkan matanya
yang sedang senang mengenakan kacamata baru.

dengan sangat tenang dia memohonkan doa singkat,

“semoga dengan kacamata ini aku bisa mendapatkan
sebuah mimpi yang setidaknya sedikit berwarna. amin.”

3

pria gagah yang dulu tak mengenakan kacamata,
yang berulang-ulang jatuh kemudian patah hati
kepada orang yang matanya mengenakan kaca itu,
suatu siang memutuskan membeli satu kacamata.

pada malam harinya dia melihat wajahnya di kaca
dan jatuh hati kepada dirinya sendiri sejak saat itu.

4

gadis manis itu bertahun-tahun mati-matian berjuang
dengan segala cara agar bisa terkenal, disebut bintang,
dan sangat digila-gilai oleh sebanyak mungkin orang.

setelah keinginannya tergapai, dia malah menjadi gila
ke mana dan kapanpun pergi, dia menyembunyikan
wajahnya dengan satu kacamata besar berwarna gelap
agar tak ada orang yang mengenalnya sebagai bintang.

5

mendapat firasat tinggal sedikit hari dia hidup,
pada suatu malam perempuan tua itu menulis
surat wasiat sekalimat yang sangat sederhana:

mata mayatku harus tetap mengenakan kaca,
sungguh, sejak masih kecil dulu aku penasaran
apakah malaikat itu cukup tampan atau tidak.

6

matanya lebih sering merasa tidak aman daripada merasa nyaman
ketika mengenakan kacamata bergagang warna langit mau hujan.

gadis bermata amat teduh itu tidak tahu kenapa dia berkacamata
sampai kacamata itu mengaku jatuh cinta pada sepasang matanya.

7

di sebuah toko kacamata, suatu sepi yang pagi, terjadi percakapan
diam-diam antara satu kacamata model lama dengan kaca jendela.

“apa enaknya menjadi kacamata, hehe, dengan badan sekecil kamu?”
tanya kaca jendela yang merasa lebih beruntung karena lebih besar.

kacamata yang rendah hati berkata, “setidaknya kacamata tidak bosan
melihat hal yang itu-itu saja. mata bisa mengikutkan kami berjalan-jalan
ke manapun mereka pergi. kebesaran sering membuat kita terpenjara.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s