Deo Volente, 3

RALAWA lupa memasang jam weker sebelum tidur. Jam weker berbentuk setengah lingkaran yang sengaja dia bawa dari Makassar masih tidur di tas punggungnya. Ke mana-mana, dia selalu membawa jam weker. Dia lebih sering melupakan telepon genggamnya  ketimbang benda itu. Barangkali Ngkapaba juga lupa menelpon untuk membangunkannya atau dia tidur terlalu lelap sehingga tidak mendengar ketika Ngkapaba membangunkannya.

Dia terbangun ketika mendengar ketukan keras biji-biji hujan di jendela kamar. Dia merasa tidak tega menelpon Ngkapaba untuk meminta segelas kopi. Beberapa jam tidur pertamanya di Penginapan Kaganga tidak berisi mimpi apa-apa. Tidak biasanya dia mengalami tidur hampa semacam itu. Seringkali dia menyebut dirinya sebagai orang yang bangun setiap hari untuk tidur dan bermimpi lagi.

Ini hari ulang tahun Mampatada, mendiang ayahnya. Ralawa lupa. Dia duduk menghadap jendela dan bulan sudah tidak terlihat di langit. Dia dan ayahnya tidak ubahnya hujan dan bulan, jarang sekali bertemu. Dia membuka dan menyalakan laptop dan mulai menulis puisi pertamanya di penginapan itu. Sebuah puisi, yang entah kenapa, begitu sedih. Puisi yang terlalu sedih untuk hari ulang tahun seorang ayah.

Dari balik jendela dia ingin sekali melihat bulan dan hujan membuat hamparan pekuburan berkilau-kilauan. Tetapi hujan hanya mampu membuat bebunyian aneh di jendela dan atap penginapan—juga cuaca basah yang justru membuat Ralawa merasa hangat. Sensasi yang tidak mudah dipahami.

Ralawa membaca sekali lagi puisi enam baris yang baru selesai dia tulis. Dia merasa puisi itu butuh diedit di beberapa bagian. Dia merasa puisi itu menggunakan metafora yang berlebihan. Bagi Ralawa metafora mengandung kebenaran dan kebohongan sekaligus. Jika sebuah puisi menggunakan metafora sedemikian janggalnya, maka puisi itu lebih banyak mengandung kebohongan ketimbang kebenaran. Itulah yang Ralawa yakini sebagai penyair. Dia selama ini memang lebih dikenal sebagai penyair yang lebih senang mengenakan metafora sederhana di puisi-puisinya.

Ralawa mengamati puisinya selama beberapa menit, membacanya berkali-kali dengan suara yang cukup lantang, tetapi belum menemukan cara membuat enam baris kalimat itu menjadi lebih puisi. Dia menoleh ke koper dan dengan acak mengambil sebuah amplop berisi surat entah dari atau buat siapa.

Di koper itu, Ralawa selama bertahun-tahun menyimpan surat-surat dari orang-orang dekatnya. Di sana tersimpan surat-surat dari ibunya dan mantan-mantan kekasihnya—juga  surat-suratnya sendiri untuk ayahnya yang tidak pernah terkirim sebab tidak tahu harus mengirimnya ke alamat mana. Koper tua milik ibunya yang sengaja dia minta sewaktu ibunya pindah ke Balikpapan itu, bagi Ralawa adalah museum. Sebuah museum kecil berisi cinta. Di sana rahasia-rahasia hidup keluarganya tersimpan—juga tentu saja kesedihan-kesedihan dan kegembiraan-kegembiraan hidupnya sendiri.

Dia jarang sekali memasuki museum itu. Sudah dua tahun terakhir dia juga tidak menambah koleksi baru ke dalam museumnya itu. Terakhir kali dia memasuki museum itu pada sebuah pagi saat menerima kabar kematian ayahnya. Tiga tahun lalu. Surat terakhir yang menjadi koleksi museum itu adalah surat dari ibunya, surat terakhir ibunya ketika bertanya betulkah Ralawa tidak hendak menikah, sehari setelah dia menulis surat terakhir kepada ayahnya.

Ini hari ulang tahunmu, Ayah. Selamat ulang tahun. Kamu sehat? 

Ralawa melihat tanggal di sudut bawah surat itu kemudian melirik kalender bergambar masjid di atas meja. Sama. Ralawa tiba-tiba merasa bersalah telah menuliskan sebuah puisi yang demikian sedih di hari ulang tahun mendiang ayahnya. Dia memejamkan mata beberapa menit. Dia menangis, ini air mata pertamanya bulan ini.

Nyancaya berada di dapur saat Ralawa menulis surat  itu. Dia sedang mengiris-iris wortel, buncis, dan tomat. Dia ingin membuat sayur-sop. Dia juga hendak membuat sambal kegemaran Ralawa: irisan tomat dan cabai mentah ditambah bawang merah yang digoreng setengah matang juga sedikit garam dan perasan jeruk nipis.

Pagi-pagi sekali, hari itu, Nyancaya sudah berangkat ke pasar. Dia keluar dari rumah sambil menyanyi-nyanyi kecil, Shalawat Nabi. Ralawa yakin, ibunya ingat bahwa hari itu suaminya berulang tahun. Dia membeli bahan-bahan makanan seperti hendak membuat perjamuan, pesta perayaan kecil.

Seperti biasa, pada siang hari, di rumah itu hanya ada Nyancaya dan Saaha. Suami Saaha masih berada di rig, tempat kerjanya di lepas pantai. Dia akan berada di sana selama dua minggu sebelum kembali ke rumah istirahat selama satu minggu. Selalu seperti itu. Tak ada orang lain selain Ralawa, Nyancaya, dan Saaha yang akan makan siang di rumah hari itu.

Saaha dengan janin berusia 7 bulan di kandungannya ikut membantu Nyancaya di dapur. Adik Ralawa itu tidak lama lagi akan melahirkan cucu ketiga Nyancaya. Dia betul-betul sudah menjadi perempuan. Saaha dulunya seorang gadis tomboy. Malam sebelumnya Ralawa menggoda adiknya. Dia, meskipun sudah menjadi istri seorang lelaki penyabar, tetaplah si-tomboi-manja-yang-suka-ngambek. Ralawa dan Nyancaya tertawa melihat tingkah Saaha.

Nyancaya terlihat sehat. Sehari sebelumnya, beberapa jam setelah Ralawa tiba, dia sempat mengeluhkan sakit di sekitar perut bagian bawahnya, barangkali ginjal atau rahimnya. Dia tidak begitu yakin. Dia juga mengeluhkan matanya yang sering tiba-tiba perih dan berair. Ralawa menyarankan mengganti kacamata. Mata mereka nyaris sama parahnya. Saaha sempat bercanda mengatakan bahwa Ralawa seperti seorang lelaki tua yang sangat serius kerena mengenakan kacamata. Pantas tidak menikah juga, kata Nyancaya ikut bercanda. Mereka tertawa.

Sejak pindah ke Balikpapan, Nyancaya mengisi waktu—dan mencari duit tentu saja—dengan melanjutkan kegemarannya menjahit. Dia membawa serta Singer tua warisan Nanracaja. Lumayan buat makan sehari-hari, kata Nyancaya. Dia lebih banyak menjahit pakaian untuk ibu-ibu pengajian. Dia banyak mengenal ibu-ibu pengajian sejak pindah. Mertua Saaha adalah seorang pengurus satu kelompok pengajian.

Nyancaya mengenakan jilbab sedikit lebih besar dibanding sebelum dia pindah ke Balikpapan. Tidak sebesar dan setertutup Saaha. Adik Ralawa mengenakan cadar, menutup hampir seluruh wajahnya dengan kain berwarna gelap, kecuali sepasang matanya yang berwarna coklat bening warisan ayahnya. Waktu pertama kali melihatnya, Ralawa sempat shock. Dia bertanya-tanya mengapa adiknya mengalami perubahan begitu drastisnya. Tetapi dia tidak ingin merusak suasana hati adiknya dengan bertanya mengenai perubahan itu.

Selalu ada perubahan yang sebaiknya dibiarkan saja dan tak perlu dipertanyakan, katanya menghibur diri. Sejak tinggal di Makassar, Ralawa memang tidak banyak mengikuiti perkembangan keluarganya. Nyancaya tidak putus berkirim kabar kepada anaknya, tetapi ada banyak hal yang tetap tidak dia umbar dalam surat-suratnya.

Dari teman-teman pengajiannya, dan teman-teman pengajian Saaha, Nayancaya mendapat banyak langganan. Ketika Ralawa tiba, Nyancaya sedang menjahit baju seragam satu kelompok pengajian. Dia nampak senang dalam kelelahannya menjahit siang dan malam.

Dari teman-teman pengajiannya jugalah Nyancaya mendapatkan kesempatan kembali melanjutkan pekerjaannya di Kampiri dulu, mengajari anak-anak mengaji. Setiap hari, sore hari antara pukul 3 hingga pukul 5, rumah itu, yang luasnya hanya setengah rumah yang di Kampiri dulu, dipenuhi anak-anak seusia Ralawa ketika ayahnya pergi. Mereka mengaji dan Nyancaya menjahit sambil mengajari mereka mengaji.

*

PADA hari ketika Ralawa menulis surat itu, kepergian Mampatada yang entah ke mana sudah berusia 22 tahun. Tidak ada yang tahu di mana lelaki itu berada kecuali Mampatada sendiri.

Berapa usia adik sulung Saaha sekarang, Ayah?

Adik sulung Saaha? Ralawa tertawa membaca pertanyaan dalam suratnya itu. Kadangkala dia lupa bahwa dia punya adik selain Saaha, adik dari istri kedua Mampatada. Menurut ibunya, dia memiliki tiga adik dari istri muda ayahnya. Dia tidak pernah bertemu dengan mereka.

Ralawa berhenti sejenak membaca lembar-lembar surat di tangannya. Dia tidak sadar hujan yang tadi membuat keributan aneh di luar penginapan sudah pulang ke langit. Dia melihat keluar jendela dan udara pagi nampak amat bening. Udara selalu seperti kaca mobil yang habis dibersihkan wiper setiap kali usai hujan. Mata juga begitu, pikirnya, seusai menangis.

Nisan-nisan basah dan berkilau diterpa cahaya matahari pagi nampak dari kaca jendela yang sejak kedatangannya dia biarkan tidak tertutup tirai. Di antara nisan-nisan itu, ada nisan Kaganga dan Nanracaja, kakek dan neneknya. Ralawa berpikir untuk mengunjungi makam mereka sebelum kembali ke Makassar.

Pagi yang indah, pikir Ralawa. Dia yakin ibunya di Balikpapan sana baru saja selesai membaca Al-Qur’an. Nyancaya selalu melakukan itu. Sehabis shalat subuh dan berdoa, dia selalu mengaji sampai pagi betul-betul terang dan cucu-cucunya bangun untuk berangkat ke sekolah.

Ketika mengingat satu kebiasaan ibunya, Ralawa selalu terkenang kembali saat ayahnya pergi dari rumah, dari rumah yang sekarang menjadi penginapan itu. Dia ingat dengan amat detail semua hal yang dia lihat hari itu. Dia memutar ingatan itu seperti seorang penggila film yang memutar film kesukaannya berkali-kali.

Ralawa selalu ingat hari di mana Mampatada pergi—dan hari saat Nyancaya mengatakan bahwa suaminya sudah menikah lagi. Nyancaya pernah menunjukkan foto pengantin Mampatada dengan perempuan yang Ralawa tidak tahu siapa—dan di mana Mampatada bertemu dengannya. Ralawa tidak bertanya kepada ibunya dari mana dia mendapatkan foto itu. Ralawa hanya diam tanpa berani menatap wajah ibunya. Dia pura-pura tenggelam membaca novel di tangannya.

*

RALAWA meletakkan lembar-lembar surat yang terkulai di tangannya ke atas meja. Dia berdiri dan menuju ke kamar mandi. Kamar mandi itu tidak cukup bersih untuk sebuah penginapan, pikirnya. Ketika dia mengambil gayung untuk menyiram air seninya di kloset, dia melihat bahwa gayung itu berbentuk hati dan berwarna jingga.

Dia merasa peristiwa pagi itu sungguh lucu. Dia tiba-tiba teringat mantan kekasihnya, perempuan terakhir yang gagal dia nikahi, ketika dia masih menggenggam kelaminnya. Gayung jingga itu melemparkannya ke kamar mantan kekasihnya itu. Jingga adalah warna kesukaan perempuan yang sudah punya dua anak itu.

Semua hal terasa lucu dan menyedihkan sekaligus di penginapan ini, pikirnya. Terlalu pagi untuk berpikir seperti ini, jawabnya dalam hati lagi. Dia sekali lagi tertawa.

Ralawa tersadar sudah berada di kamar mandi cukup lama pagi itu memikirkan mantan kekasih terakhirnya—dan mantan kekasihnya yang lain—ketika tiba-tiba dia mendengar ada ketukan di pintu. Dia cepat-cepat menyiram kloset dan memasukkan kembali kelaminnya ke dalam celananya.

Ngkapaba berdiri di depan pintu kamar dengan senyumnya yang masih secerah sore kemarin.

“Istriku yang cantik dan tuli sudah menyiapkan beberapa penganan dan segelas kopi di lantai bawah. Mari, sarapan dulu, Tuan!”

“Terima kasih, Puang. Saya akan segera menyusul.”

Ralawa tanpa sadar telah menyebut panggilan kehormatan untuk orang-orang Bugis itu. Puang. Barangkali karena perasaan tidak enak terus-menerus dipanggil Tuan oleh pamannya sendiri yang cukup memiliki selera humor itu.

“Panggil saja saya Awa, Puang. Saya tidak enak dipanggil Tuan.”

“Baiklah, Nak. Saya tunggu di bawah, nanti kopinya dingin.”

Ketika Ngkapaba berbalik dan menuruni tangga, Ralawa masuk kamar dan melepaskan piyama dan menggantinya dengan oblong dan celana pendek. Dia merasa perlu berjalan-jalan di sekitar penginapan setelah sarapan. Dia ingin melihat-lihat kampung masa kecilnya itu. Dia tidak lupa mengenakan topi, dia tidak mau mengambil risiko ada teman masa kecilnya yang melihatnya di jalan dan mengenalinya.

Di tengah-tengah ruang tamu, ada sebuah meja yang baru dilihatnya pagi itu. Di atas meja bertaplak kain bermotif bunga-bunga matahari kecil itu ada segelas kopi dan sepiring penganan tradisional yang dia lupa namanya. Terbuat dari parutan singkong yang dikukus dan di dalamnya ada pisang. Bagian luarnya bertaburkan parutan kelapa muda, tidak terlalu muda. Dia ingat neneknya dulu sering membuat penganan serupa.

Kalimbu atau Janda kata orang-orang di sini.”

Ngkapaba menunjuk penganan yang sedang digigit Ralawa. Lelaki  itu seperti bisa membaca pertanyaan yang ada di kepalanya.

“Saya tidak tahu kenapa disebut Kue Janda. Barangkali begitu Orang Bugis melucu. Mereka menggunakan nama-nama makanan,” kata Ngkapaba sambil tertawa memperlihatkan gigi-gigi depannya yang sudah tidak lengkap.

Ralawa tidak menimpali. Dia sibuk mengamati penganan tersebut sambil mengenang masa kecilnya. Nama penganan yang membuat Ngkapaba tertawa itu mengganggu pikirannya. Dia sekali lagi mengingat ibunya yang dulu sering mendapat olok-olokan di pasar sebagai ‘janda taggantung’, janda yang tidak jelas statusnya. Sebutan itu biasanya ditujukan untuk perempuan yang ditinggal suaminya tetapi tidak ada kejelasan apakah dia sudah diceraikan atau belum.

Hal-hal lucu selalu hal-hal menyedihkan juga. Kenapa seperti itu? Dia kembali diusik pikiran yang sebelumnya muncul di kamar mandi. Dia meneguk kopinya yang nyaris dingin lekas-lekas. Dia tidak menikmati kopi pertamanya di Kampiri. Ralawa sering menganggap segelas kopi di pagi hari sebagai tuhan kecil yang hangat. Tetapi tidak pagi itu. Dia merasa kopi itu tidak lebih dari sekadar minuman biasa yang kebetulan berwarna hitam.

“Tidak ada rencana pergi jalan-jalan pagi ini, Nak? Barangkali mau keliling-keliling melihat suasana Kampiri.”

Ngkapaba, sekali lagi, seperti mampu membaca pikiran Ralawa. Dia tersenyum dan memandang lelaki tua yang sedang duduk di belakang meja kantornya itu.

“Di mana ada tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi di pagi hari, Puang?”

“Orang kota biasanya punya pilihan sendiri tentang tempat-tempat menarik. Kalau saya sendiri, saya tetap menganggap sungai kecil di sebelah kuburan itu yang menarik, sebab di dekatnya kami punya kebun kecil.”

Ralawa menangkap sesuatu yang satir setiap kali Ngkapaba menyebut ‘orang kota’. Barangkali dia sering merasa terganggu dengan ulah orang kota yang datang ke tempatnya.

Pagi itu Ralawa memutuskan hanya mengitari penginapan hingga ke pemakaman. Dia ingin melihat apa saja dari masa kecilnya yang masih tersisa selain hamparan makam itu.

Dia berjalan ke belakang penginapan, meniti pematang sawah mati di samping kiri penginapan. Di belakang penginapan ini dulu ada pohon mangga yang konon ditanam kakeknya. Pohon mangga itu sudah tidak ada di tempatnya. Dia mungkin ditebang atau roboh karena sudah tidak kuat menahan usia.

Dia menghirup aroma yang asing mencemari udara pagi itu. Mulanya dia menganggap itu sebagai aroma rumput-rumput yang terpotong. Dia mematahkan beberapa daun rumput untuk membuktikannya. Dia kemudian menganggap tebakannya salah. Aroma asing yang diembuskan angin itu seperti datang dari tempat yang cukup jauh, dan dia berpikir bahwa aroma rumput-rumput terpotong tidak cukup bisa menjangkau tempat yang lebih jauh dari seratus meter.

Ketika berpikir lagi, dia menemukan bahwa aroma itu datang dari peternakan di seberang sungai kecil di sebelah pemakaman. Barangkali itu aroma kotoran ternak yang bercampur dengan pakan. Di kejauhan dia melihat rimbunan rumput gajah seperti perkebunan tebu. Itu pasti untuk makanan ternak, pikirnya.

Belum sempat berjalan berapa jauh, Ralawa sudah merasa perlu kembali ke penginapan. Pagi itu kepalanya, dirinya barangkali lebih tepat, bekerja keras menampung kilatan-kilatan kenangan dan pikiran yang memenuhi udara Kampiri. Dia ingin berada di kamarnya, memandang Kampiri dari jendela kamar saja, seperti yang dulu sering dia lakukan waktu masih kecil.

*

RALAWA tiba di kamarnya yang menjadi lebih hangat. Cahaya matahari membuat lantai papan kamar itu seperti belang-belang. Dia menarik kursi sedikit ke sebelah kanan menghindari cahaya matahari. Dia sering mengalami migraine ketika matanya menerima cahaya matahari frontal. Dia sangat tidak suka ketika penyakit menyebalkan itu datang. Dia harus membuang-buang waktu berjam-jam. Dia harus memasukkan dirinya ke tempat gelap, tanpa cahaya sama sekali.

Ralawa tidak ingat sejak kapan migraine mengenal kepalanya. Dia hanya tahu bahwa penyakit itu sangat menyebalkan. Dia harus memuntahkan isi perutnya, memuntahkan semua makanan yang rasanya asam dari perutnya, untuk meringankan sakit kepalanya.

Cahaya matahari yang menjilat kulit lengannya, membuat Ralawa berpikir bahwa sepagi ini cahaya matahari Kampiri sudah sedemikian panasnya. Waktu kecil dulu, kabut masih menyelimuti Kampiri kadang-kadang hingga pukul delapan pagi.

Surat yang belum selesai dia baca masih tergeletak di meja. Kertas-kertas surat itu terasa hangat ketika Ralawa menggenggamnya. Dia menikmati kehangatan kertas-kertas itu. Dia harus memicingkan mata ketika melihat huruf-huruf di atas kertas putih itu diterpa cahaya matahari. Entah kenapa dia merasa tulisan tangannya menjadi lebih indah ketika huruf-huruf itu berkilauan. Dia menganggap ada semacam roh yang dari setiap huruf yang bangkit dan memunculkan diri mereka. Roh-roh hangat itu seperti memperbaharui surat-surat yang sudah lama dia tulis itu. 

Tidak ada foto saat hari kamu berangkat. Tetapi seperti yang saya tuliskan di surat-suratku sebelumnya, hari itu bisa saya ingat dengan sangat detail. Saya mengenakan baju biru dan Saaha mengenakan baju hijau

Ralawa ingat kedua baju itu hasil jahitan tangan ibunya. Barangkali itu yang membuatnya menyenangi warna biru dan Saaha menyenangi warna hijau. Dia ingat Mampatada, sebelum berangkat, menyelipkan dua lembar uang seribu rupiah di saku bajunya. Ralawa terus menghindar ketika ayahnya hendak mencium pipinya di belakang bus yang akan membawa Mampatada pergi.

Dia tertawa geli membayangkan peristiwa itu. Ralawa berontak melepaskan diri ketika ayahnya menangkapnya. Tapi, kegeliannya serta-merta berubah kesedihan dan sedikit penyesalan. Ah, andai saja saya menyerah atau ayahku berusaha lebih keras, kata Ralawa dalam hati. Ralawa pasti akan punya satu ciuman ayahnya yang bisa dia kenang.

Rawala selalu merasa bersalah ketika mengingat hari itu, hari saat dia tak merelakan pipinya disentuh Mampatada. Dia betul-betul merasa bersalah. Dia pernah menangis karena Kaganga mencium pipinya. Dia membayangkan Mampatada yang menciumnya.

*

RALAWA melirik koper-museumnya yang nampak tidak mampu menahan bebannya, tergeletak diam di dekat salah satu kaki tempat tidur. Ralawa tersenyum. Sesungging senyum yang sia-sia. Jika setiap kalimat membuat saya mengingat serentetan peristiwa, pikir Rawala, saya tidak akan mampu menyelesaikan membaca semua surat di koper itu. Dia mulai sedikit menyesal kenapa harus membawa semua isi koper itu koper itu ke Kampiri.

Ralawa membalik-balik lembaran kertas di tangannya. Masih ada dua lembar yang belum dia baca. Tujuannya ke tempat ini hendak menyelesaikan sebuah buku puisi untuk ibunya. Di penginapan dia malah terseret kenangan hingga ke hulu masa lalu. Dia tidak membayangkan akan memasuki kenangan sejauh itu. Sebulan nampaknya tidak akan cukup untuk menelusuri seluruh jalan-jalan kenangan itu, pikirnya. 

Teman-teman sekolah saya di Kampiri nyaris semuanya sudah memiliki anak. Saya selalu merasa sedih ketika Ibu bertanya, biasanya lewat pesan pendek, kapan saya melamar Dahasa. Saya belum menceritakan kepada Ibu bahwa saya ada masalah dengan Dahasa, dengan orang tua Dahasa tepatnya. Setelah pacaran selama hampir 6 tahun nampaknya kami tak akan bisa menikah. Saya belum punya keberanian membuat Ibu bersedih karena kabar semacam itu. Saya mencintai Dahasa, seperti yang selalu saya katakan kepadamu, tetapi ayahnya ternyata berharap anaknya tidak menikah dengan seorang penyair. Haha! Ini kali pertama saya menyebut diri saya sebagai penyair kepadamu. 

Dahasa akrab dengan Ibu dan Saaha. Sampai sekarang mereka masih sering telepon-teleponan. Dia bahkan pernah menginap di rumah ini selama 5 hari. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, dia beribur ke sini bersama saya. Dia tidur bersama Ibu. Mereka sepertinya sangat akrab, bisa tertawa membicarakan banyak hal. Mereka berulang-ulang menertawai kebiasaan ngompol saya yang baru sembuh waktu masuk tsanawiyah.

Apa yang saya pikirkan ketika menulis surat semacam ini, tanya Ralawa dalam hati. Dia heran kenapa bisa menceritakan kepada ayahnya begitu gamblang tentang banyak hal yang tidak pernah berani dia katakan kepada ibu atau neneknya. Ralawa rutin menulis surat kepada Mampatada. Surat-surat itu bisa menjadi begitu panjang dan cerewet ketika dia menuliskannya saat menghadapi masalah yang dia tidak tahu harus dia katakan kepada siapa.

Surat yang sedang dia baca pagi itu, dia tulis ketika Ralawa mengunjungi ibu dan adiknya di Balikpapan, setelah dua tahun tidak pulang. Ralawa tinggal di Makassar sejak SMU.

Sebelum menulis surat itu, Ralawa terakhir pulang ke Balikpapan lima tahun sebelumnya. Saaha menikah waktu itu. Logat ibunya ketika itu sudah sangat berbeda. Ralawa lebih nyaman menggunakan Bahasa Bugis ketika bicara dengannya, meskipun lidahnya semakin kaku menggunakannya. Dia merasa berbicara dengan orang asing ketika mendengar ibunya bicara dengan logat Balikpapan. Dia sering tertawa mendengar logat yang sudah menguasai kalimat-kalimat ibunya. Ibu dan adiknya malah sering balik menertawai Ralawa yang logatnya sangat Makassar.

Bagi Ralawa, sesungguhnya itu peristiwa lucu dan menyedihkan sebab tidak ada lagi di antara mereka yang fasih menggunakan logat Bugis yang dulu mereka gunakan di Kampiri. Selain itu, Makassar sebagai suku, dulu bagi keluarga Ralawa adalah musuh Orang Bugis. Ketika Ralawa menjadi sangat Makassar, tentu saja akan menjadi bahan tertawaan dan sindiran di tengah keluarga.

Ralawa ingat, ketika pertama kali mengatakan sudah punya pacar. Reaksi pertama ibunya membuat Ralawa kaget.

“Kamu boleh pacaran dengan perempuan manapun kecuali Orang Makassar.”

Seperti ada dendam luar biasa besar dalam kalimat ibunya itu. Belakangan dia tahu bahwa banyak Orang Bugis tidak rela menikahkan anak mereka dengan Orang Makassar. Dia tidak pernah membayangkan kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut ibunya. Dia mengenal ibunya sebagai seorang perempuan yang tidak pandai menyimpan dendam. Jika betul ada dendam di balik pernyataan itu, Ralawa yakin bukan dendam pribadi ibunya kepada Orang Makassar. Begitu juga ketika suatu kali neneknya mengatakan bahwa Ralawa hanya boleh menikah dengan Orang Jawa jika tidak ada lagi gadis lain di dunia.

Pastilah ada persitiwa besar di balik pernyataan semacam itu. Ralawa menduga, pernyataan itu sangat politis. Peristiwa luar biasa besar seperti perang di masa lampau antara kerajaan-kerajaan yang tertanam kuat di alam bawah sadar mereka. Untuk kasus Jawa, Ralawa tahu bahwa selain karena kebencian karena beringasnya Tentara Jawa di masa konflik dengan gerilyawan beberapa tahun setelah kemerdekaan, lebih utama karena kekejaman Orde Suharto.

Barangkali kebenciannya terhadap Orang Jawa juga yang membuat di rumah Nyancaya tidak pernah sekalipun tersaji bakso—dan membuat anak-anaknya tidak suka makan bakso. Bisa jadi begitu, bukan karena Nyancaya tidak tahu membuat bakso, namun dia mengangap bakso adalah makanan yang sangat Jawa. Ketika bakso mulai dikenal luas di Sulawesi, umumnya yang menjual makanan itu adalah orang Jawa. Ralawa tidak pernah membayangkan peristiwa-peristiwa politik bisa sedemikian kuatnya mengakar dan menjadi prinsip bagi seseorang.

Tetapi prinsip selalu bisa berubah. Nyancaya akhirnya bisa menerima jika anaknya pacaran atau ingin menikah dengan Orang Makassar atau Orang Jawa.

“Barangkali salah satu fungsi merantau adalah untuk menguji prinsip-prinsip seseorang,” kata Nyancaya suatu waktu.

Ralawa pernah bercanda bahwa dia punya pacar baru, Orang Makassar.

“Lebih cantik mana dibanding Rahama?”

Rahama adalah pacar pertama Ralawa. Tanggapan ibunya membuat Ralawa tersenyum.

(bersambung)

2 thoughts on “Deo Volente, 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s