Deo Volente, 2

PENGINAPAN Kaganga berjarak enam jam perjalanan menggunakan bus dari Makassar. Dekat saja seandainya tidak harus melewati jalan sempit berkelok-liku tajam dengan jurang di sisinya dan mendaki-menurun melewati pegunungan. Bus yang dia tumpangi harus melaju dengan kecepatan sedang. Penginapan Kaganga adalah satu-satunya penginapan di Kampiri, kota kecil yang penduduknya tidak lebih dari empat ribu jiwa. Hanya sebuah rumah tua, sebetulnya, yang sedikit diubah pemiliknya sehingga menyerupai penginapan dengan kamar-kamar berhadap-hadapan. Enam di lantai atas dan dua di lantai bawah.

Pemilik Penginapan Kaganga bernama Ngkapaba. Lelaki itu nampak sudah terlalu tua untuk mengurus sebuah penginapan. Tamunya sore itu adalah keponakannya sendiri. Ngkapaba tidak tahu.

Penginapan itu bekas rumah kakek dan nenek Ralawa. Di rumah itulah ibunya dilahirkan dan menikah dengan ayahnya. Di rumah itu pula Ralawa dilahirkan 30 tahun lalu. Ngkapaba adalah kakak ibunya. Ralawa dan Ngkapaba tidak pernah bertemu sebelumnya. Waktu Ralawa masih tinggal di rumah itu, Ngkapaba tinggal di Sumatera. Selama puluhan tahun Ngkapaba merantau di Sumatera sebelum akhirnya pulang setahun setelah ayahnya meninggal. Rumah itu warisan Kaganga untuk Ngkapaba. Ibu Ralawa sudah pindah ke Balikpapan ketika Ngkapaba kembali dari perantauan.

Selain karena satu-satunya penginapan di Kampiri, Ralawa dengan mudah menemukannya karena penginapan itu menggunakan nama kakeknya. Dia tidak bisa menjelaskan kebahagiaannya melihat di depan penginapan itu ada papan bertuliskan nama kakeknya. Nama itu sering sekali ada dalam surat-surat ibunya. Dia tahu banyak tentang kakeknya karena ibunya senang mengutip perkataan dan bercerita tentang lelaki itu. Kaganga sudah meninggal ketika Ralawa lahir.

Meskipun merasa bersalah, Ralawa tidak ingin memberi tahu Ngkapaba bahwa dirinya adalah anak sulung Nyancaya, adik kandung Ngkapaba. Dia tidak ingin ibunya tahu dia sedang berada di kota itu. Meskipun Ngkapaba dan Nyancaya jarang saling berhubungan, tetapi dia yakin Ngkapaba akan menelpon ibunya jika dia tahu.

Ralawa tidak jarang merasa heran melihat keluarganya sendiri. Nyaris semua anggota keluarga Kaganga tidak fasih berkomunikasi verbal dengan sesamanya. Mereka menyimpang dalam urusan komunikasi. Bukan berarti meraka tidak saling mencintai, namun kata-kata nampaknya bukan media yang nyaman untuk mereka gunakan berkomunikasi. Kepada orang lain, mereka bisa menjadi sangat cerewet. Kepada sesama anggota keluarga Kaganga, mereka nampak tidak akur karena jarang saling berbincang.

Ralawa tiba di Penginapan Kaganga sejam menjelang waktu shalat magrib. Udara bening kekuning-kuningan oleh matahari yang separuhnya sudah sembunyi di balik punggung bukit di sebelah barat penginapan. Beberapa jam sebelumnya hujan singkat turun, hujan pertama pada bulan Oktober tahun itu. Ralawa melihat debu-debu lembab mengotori kaca jendela kamar.

Dari balik kaca jendela kamar yang nampaknya sudah berbulan-bulan tidak dibersihkan, Ralawa bisa melihat ribuan makam menghampar tidak jauh dari penginapan. Hanya ada beberapa petak sawah mati, sudah bertahun-tahun hanya ditumbuhi rumput, memisahkan penginapan itu dengan pemakaman. Dia duduk berlama-lama di depan jendela tanpa tahu dia harus fokus mengamati dan memikirkan apa. Terlalu banyak hal berdesakan ingin keluar dan masuk kepalanya, sementara matanya hanya sepasang celah sempit yang pelupuknya sedang berjuang menahan kantuk.

Ketika azan magrib terdengar dari kubah masjid tidak jauh dari penginapan, dia berbalik dan menangkap jendela dan dirinya pada cermin lemari di sisi kiri tempat tidur. Dari cermin yang sama dia menyaksikan bulan purnama terbit, bulan besar dan bulat utuh seperti jeruk emas raksasa yang muncul dari tengah-tengah pemakaman. Peristiwa yang sama pernah Ralawa alami di rumah itu, waktu masih kecil, sehari sebelum neneknya meninggal.

Ralawa punya banyak cerita yang tidak pernah dia bagi mengenai kuburan itu. Dia tidak ingin menceritakan peristiwa-peristiwa masa kecilnya yang berkaitan dengan hal-hal gaib. Dia tidak suka mendengar orang tidak percaya kepada hal-hal yang dia ceritakan. Satu-satunya orang yang banyak tahu dan percaya adalah neneknya.

Dia menyalakan mata lampu 40 watt yang terpasang tidak persis di tengah langit-langit kamar kemudian menelpon Ngkapaba. Dia meminta tidak perlu dibangunkan untuk makan malam. Bus yang dia tumpangi mampir di sebuah rumah makan. Dia masih kenyang. Dia hendak istirahat beberapa jam sebelum bangun tengah malam.

Sebelum menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, Ralawa membuka koper tua ibunya. Dia ingin memastikan tidak ada kebutuhan yang tidak ikut terbawa. Dia menatap koper tua itu beberapa menit, seolah-olah sedang mengumpulkan kekuatan, sebelum menyentuhnya. Dia berpikir jangan-jangan Ngkapaba menyadari bahwa koper itu adalah koper adiknya. Beberapa detik kemudian, dia mengibaskan tangan kanannya di atas kepala yang sudah ditumbuhi beberapa helai uban seolah-olah pikiran itu serangga-serangga kecil yang berterbangan ingin mengganggunya.

Ralawa merogoh saku kiri celananya dan mengambil anak kunci. Dia membuka gembok berwarna perak koper itu dengan hati-hati. Gembok terbuka dengan mudah. Sebelum membuka tutup koper, dia berdiri lalu bergegas beranjak menuju pintu untuk memastikan apakah sudah terkunci atau belum. Dia tidak ingin Ngkapaba tahu apa yang sedang dia lakukan. Dia juga tidak menginginkan Ngkapaba tahu isi kopernya.

Koper tua itu berisi ratusan lembar surat, buku catatan harian, berlembar-lembar kertas berisi puisi-puisi penuh coretan, dua album foto yang cukup besar, dan sebuah laptop yang baru Ralawa beli dua hari sebelum berangkat ke Kampiri.

Setelah yakin isi kopernya lengkap dan baik-baik saja, Ralawa melepaskan tubuhnya dari semua pakaian berbau peluh yang dia kenakan. Dia mengambil piyama dari tas punggungnya yang tergeletak di depan lemari seperti bangkai seekor babi gemuk. Dia melihat tubuh telanjangnya di cermin. Ah, lelaki malang! Dia tersenyum membalas pikirannya sendiri.

Ralawa hendak mencuci wajah dan gosok gigi sebelum tidur, tetapi dia terlalu malas untuk berjalan ke kamar mandi. Dia hanya menatap pintu kamar mandi yang berwarna hijau dan pudar seolah ingin menghapus sebagian dirinya agar serasi dengan warna merah kulit kuda yang menutupi dinding kamar. Dia mendongak menatap langit-langit berwarna kuning telur bercampur susu, warna yang terlalu muda untuk dihadap-hadapkan dengan lantai papan berwarna cokelat pekat dan seprei berwarna ungu gelap.

Ketika Ralawa memejamkan mata, dia mengingat satu persatu dongeng Nanracaja, neneknya. Waktu Ralawa kecil, hingga tamat Sekolah Dasar, neneknya sering mendongeng sebelum tidur. Ralawa tidak ingin tidur sebelum neneknya bersedia mendongeng. Ada sejumlah dongeng yang selalu dikisahkan neneknya, tetapi tidak satupun yang Ralawa tahu akhir kisah sebenarnya. Dia selalu tertidur sebelum dongeng-dongeng itu selesai.

Ralawa punya akhir kisah masing-masing dongeng. Versinya sendiri.

KAMPIRI sudah berubah. Betul-betul sudah jauh meninggalkan wujudnya ketika Ralawa masih tinggal di sana. Kota kecil itu dulunya hanya kampung yang terdiri dari duapuluhan rumah. Sampai Ralawa pindah mengikuti ibunya ke Balikpapan setamat Sekolah Dasar, sembilan puluh persen lebih wilayah Kampiri masih berupa hamparan padang rumput, petak-petak sawah, hutan, kebun, dan bukit-bukit tanah merah yang hanya ditumbuhi rumput. Ralawa tidak habis pikir kenapa sebuah kampung sekecil Kampiri bisa berubah menjadi kota hanya dalam tempo tidak sampai tiga dekade.

“Seorang kaya raya entah bagaimana caranya bisa tiba-tiba menjadi pemilik enam puluh persen wilayah Kampiri. Dia membangun peternakan besar di sana.” Begitu kata Nyancaya dalam salah satu surat kepada Ralawa.

Sepertiga hamparan padang rumput Kampiri  telah berubah menjadi peternakan milik orang itu. Ribuan ternak didatangkan entah dari mana. Sejak saat itu, banyak kendaraan lalu-lalang di Kampiri. Kampung itu tiba-tiba menjadi pemasok utama kebutuhan daging untuk kota-kota yang tidak terlalu jauh dari Kampiri. Di sana dibangun pasar daging ternak.

Rumah-rumah tumbuh dengan kecepatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Pemilik rumah-rumah itu nyaris seluruhnya adalah pendatang. Penduduk asli—penduduk awal Kampiri lebih tepatnya—ramai-ramai meninggalkan wilayah itu. Mereka memilih merantau menjadi buruh di pulau-pulau jauh untuk menghindari pekerjaan sebagai buruh peternakan di kampung mereka sendiri.

Ralawa datang sebagai orang asing di Kampiri yang juga sudah asing bagi pengetahuannya—yang dia peroleh dari masa kecilnya juga surat-surat ibunya. Kedatangan Ralawa ke Kampiri itu semacam perkenalan ulang.  Sesungguhnya, niat awal dia datang adalah merampungkan sebuah kumpulan puisi tentang ayah dan ibunya yang sudah lama dia rencanakan tapi tidak pernah terwujud. Namun nampaknya akan melakukan banyak hal lain selama berada di Kampiri.

Ke dalam sehimpun puisi, Ralawa ingin mengabadikan apa yang dia pikir dan rasakan mengenai hubungan ibu dan ayahnya. Dia ingin menghadiahkan sebuah kumpulan puisi itu kepada ibunya kelak. Kini ibunya sudah renta. Ralawa tidak ingin menyesal hanya karena tidak menepati janjinya kepada diri sendiri. Sejak pertama kali dia menyebut diri sebagai penyair, dia berjanji menulis satu buku puisi khusus untuk ibunya. Dia sudah menerbitkan sejumlah buku puisi dan semakin dihantui janji tersebut. 

*

Dari Rotterdam ke Genoa, September 1913

MENJELANG senja, 5 September 1913, Anton dan Ida, meninggalkan Stasiun Maas, Rotterdam. Dengan kereta api, pasangan pengantin baru itu akan melakukan perjalanan menuju Italia. Di Genoa telah menunggu kapal S.S. Vondel yang akan mengantarnya berlayar melintasi Samudera Hindia.

Di kereta, Ida terus mengenang ibunya yang sakit dan tidak sempat mengantarnya ke stasiun. Anton berusaha menghiburnya dengan menceritakan sejumlah kisah tentang tempat indah yang dia lihat melalui jendela kereta. Dari Coblenz hingga Bingen, ketika kereta menyusuri Sungai Rhine, Anton menceritakan kisah tentang Mäuseturm, Menara Tikus, yang dibangun bangsa Romawi sebagai benteng kecil dan kemudian diperbaiki oleh Uskup Agung Hatto.

Konon, kata Anton memulai ceritanya, di daerah itu pernah terjadi kelaparan hebat karena cuaca buruk dan gagal panen. Orang-orang yang kelaparan tiba-tiba punya kekuatan besar untuk menerobos masuk ke lumbung-lumbung uskup yang ironisnya penuh makanan. Ketika mereka berada di dalam, uskup mengunci dan membakar lumbung-lumbung itu. Orang-orang itu mati terpanggang. Selama api lahap melalap orang-orang lapar itu, uskup terus berteriak dan menyebut mereka sebagai tikus keparat.

Anton belum sampai menceritakan bagaimana tikus-tikus yang marah dan menyerang uskup namun Ida sudah tertidur di pundaknya, persis seperti gadis kecil yang kelelahan.

Kereta berhenti di Heidelberg, Jerman. Di kota itu Anton dan Ida menghabiskan hari Minggu terakhirnya tahun itu di Eropa. Ketika bangun pagi, dari jendela kamar penginapan, mereka menyaksikan Sungai Neckar mengalirkan air yang bening seperti udara. Di kejauhan mereka menyaksikan Heiligenberg, Gunung Suci, yang menjulang seperti hendak mencapai langit.

Siang hari, mereka melanjutkan perjalanan. Ketika melintasi Swiss, Anton mengagumi Pegunungan Alpen, salju abadi di pucuk-pucuknya, sapi-sapi yang merumput di kaki-kakinya, dan danaunya yang berwarna biru.

Dari Luzern mereka melakukan perjalanan sepanjang Sungai Reuss, yang membelah lembah. Kereta api yang mereka tumpangi melewati terowongan-terowongan panjang, berkelok-liku, dan mendaki. Mereka bisa melihat sebuah gereja kecil yang sama sebanyak tujuh kali, dan lenyap kembali ke dalam terowongan sampai mereka tiba di ketinggian lebih dari 1000 meter.

Ida selalu ketakutan dan sesak napas setiap kali kereta memasuki terowongan. Di sepanjang terowongan St. Gotthard, misalnya, Anton harus terus memeluk istrinya selama nyaris setengah jam sampai kereta kembali menemukan cahaya di ujung terowongan.

Setelah melewati lebih dari 80 terowongan, akhirnya perjalanan mereka tiba di Genoa. Langit Genoa saat itu berwarna persis sama dengan langit Rotterdam ketika mereka berangkat.

*

Oegstgeest, November 2007 

DI BALKON yang menghadap ke gereja kecil tua, St. Willebrordus, Alida duduk membaca surat kakek buyutnya, Anton. Salinan surat itu pernah dimuat di Alle den Volcke, Vol. 7, 1913. Alida ingin memulai novelnya dengan menceritakan perjalanan Anton dan Ida melintasi Samudera Hindia menuju Batavia.

Ketika menulis surat ini, kami berada di Samudera Hindia. Kami berharap tiba di Colombo, di Pulau Ceylon, dalam waktu lima hari. Di Colombo kami akan mengirimkan surat ini. 

Senin, 15 September, cuaca sangat bagus ketika kami mendekati Port Said. Mulai dari Kreta, pelayaran berlangsung lancar. Dengan penuh harapan kami menikmati cahaya lampu-lampu kota. Kami memandangi pesisir pantai dan melihat lampu-lampu Kota Damiate, yang terkenal dengan perang salibnya. Menjelang pukul 11 malam kami tiba di Port Said. Kapal singgah untuk memuat pasokan batu bara untuk bahan bakar. 

Di pelabuhan ini siapa pun yang mampu berjalan harus turun dari kapal, karena selama batu bara dimuat seluruh kapal tertutup lapisan debu hitam. Kabin kapal menjadi hitam tidak terkira. Karena itu jendela-jendela dan pintu kabin ditutup rapat. 

Sebelum tali tambang kapal diikat erat di dermaga, kapal tlah dikelilingi banyak perahu kecil. Perahu-perahu dayung itu milik orang-orang Arab yang berbadan tinggi ramping dan mengenakan jubah putih. 

Segera kami tiba di pantai. Setiap orang membayar 30 sen untuk ongkos perahu ke pantai. Para pemandu mengerubungi kami dari segala penjuru. Mereka ini pedagang, porter hotel dan kafe, dengan carayang kasar memaksa kami; sesuatu yang tidak biasa bagi kami orang-orang Barat. 

Kami sebenarnya ingin mengunjungi perkampungan orang Arab, tetapi demi keamanan kami membatalkan rencana. Kami segera bosan setelah melihat-lihat pertokoan dan kami duduk sejenak di kedai minum untuk beristirahat. Di sini pun, tetap saja para pedagang mendatangi kami dan menjajakan segala macam dagangan lainnya. 

Tiba-tiba kami mendengar seorang Nubia berkulit hitam tembaga berteriak, “Lihat, lihat, semuanya lihat!”Lelaki itu seorang pesulap yang sedang menunjukkan permainannya. Setelah menunjukkan trik sulapnya yang sulit, dia memandang ke arah kami, tersenyum dengan gigi putihnya dan berteriak, “Lihat, lihat, hebat kan?” Tidak lama kemudian kami harus kembali ke kapal.

 Menjelang subuh kapal Vondel berlayar memasuki Terusan Suez. Perjalanan melalui terusan hebat buatan manusia ini membutuhkan waktu sekitar 15 jam dan tidak begitu menarik. Karena lelah berjalan-jalan sebelum berangkat, kami tidur hingga siang hari. 

Hal pertama yang kami sadari saat bangun adalah udara yang sangat panas. Kami belum pernah merasakan panas matahari seterik ini sebelumnya. Terusan Suez ini tidak terlalu lebar dan kapal-kapal harus bergantian melewatinya. Di Mesir masih terdapat beberapa pohon, sedangkan di bagian Arab hanya ada padang pasir. Di sana-sini orang-orang Arab dan Negro sedang membetulkan tepi terusan. Sungguh menakjubkan keterampilan berenang dan menyelam orang-orang ini. Kami mendengar bagaimana mereka dengan mudah bisa mengambil uang logam dan benda lainnya yang dilemparkan penumpang ke dalam air, bahkan mereka menyelam di bawah kapal. 

 

ALIDA berhenti membaca surat itu dan meletakkannya di atas meja di sebelah kanannya. Dia mencoba membayangkan pelayaran itu. Dua tahun lalu dia ke Indonesia, mengunjungi Toraja, melakukan semacam napak tilas. Tetapi dia tidak mungkin bisa melakukan perjalanan berhari-hari di atas kapal seperti Anton dan Ida.

(bersambung)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s