Deo Volente, 1


Leiden, September 2007 

PERBINCANGAN pertama Alida dengan jodohnya lahir dari majalah Alle den Volcke di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde, KITLV. Lelaki itu mahasiswa pasca sarjana dari Indonesia, yang dalam majalah itu disebut Hindia Belanda, tempat yang beberapa kali pernah Alida kunjungi namun selalu ingin dia datangi lagi dan lagi. Dengan modal bahasa Belanda yang amat terbatas, lelaki itu serius membaca majalah tua itu. Di kursi yang terletak tepat di sebelah kirinya, Alida membaca edisi lain dari majalah yang sama untuk kepentingan novel pertamanya.

“Bolehkah aku bertanya?” tanya lelaki itu tiba-tiba.

“Bukankah itu pertanyaan?” jawab Alida, juga bertanya.

Lelaki itu menepuk jidatnya lalu tertawa. Alida ikut tertawa.

“Pertanyaan keduanya apa?” tanya Alida menghentikan tawa lelaki itu. Tawa lelaki itu mengingatkan Alida pada tawa ayahnya.

“Ini maksudnya apa?” tanyanya sambil meletakkan telunjuk di dekat dua huruf kapital yang dipisahkan tanda titik.

Akronim yang dia tunjuk ada di surat tanpa tanggal di majalah Alle den Volcke,Vol. 8, halaman 52, yang terbit tahun 1914.

“D.V. itu singkatan dari Deo Volente.”

“Artinya?”

“Jika Tuhan menghendaki. Maaf, anda seorang muslim?”

Lelaki itu mengangguk.

“Dalam kepercayaan agama anda mungkin sama makna dan fungsinya dengan ungkapan Insya Allah,” kata Alida.

“Kedengarannya itu bukan bahasa Belanda.”

“Iya, bukan. Itu bahasa Latin.”

Hanya itu perbincangan singkat yang terjadi di antara Alida dan lelaki itu. Setelahnya, lelaki itu kembali tenggelam ke dalam Alle den Volcke di hadapannya. Alida menatap kanal yang ada di depan jendela kaca perpustakaan itu. Beberapa detik kemudian, dia tiba-tiba kaget karena ada sepasang burung dara hinggap di dekat jendela tepat di depannya.

*

Bone, 2004 

RALAWA tiba di depan Penginapan Kaganga dengan satu tas punggung dan satu koper tua milik ibunya. Tas hitam berukuran sedang di punggungnya membuat Ralawa terlihat lebih muda dan kuat. Sementara koper tua berwarna coklat tua yang salah satu rodanya rusak membuatnya terlihat sebagai orang yang tiba-tiba muncul dari masa lampau.

Penginapan Kaganga mengenakan mode yang sudah ketinggalan zaman. Penginapan Kaganga dikelilingi rumah, toko, dan beberapa bangunan lain yang meminjam bentuk-bentuk modern dari majalah-majalah arsitektur, atau barangkali dari sinetron-sinetron di televisi. Koper tua Ralawa, yang dia jinjing seolah dia seret, seperti barang hilang yang menemukan tempat pulang, tempat di mana seharusnya berada dan mengakhiri petualangannya.

Ralawa disambut seorang lelaki tua di pintu penginapan. Lelaki itu mengenakan sarung kotak-kotak, paduan hijau lumut dan putih kotor. Sehelai sarung tua, barangkali kesayangannya, yang seharusnya sudah menjadi lap di dapur atau orang-orang sawah. Lelaki itu membantu Ralawa menurunkan tas dari punggungnya. Dia terlihat lebih cocok sebagai seorang ayah yang menyambut anaknya dari perantauan ketimbang pemilik penginapan yang menyambut tamunya.

Setelah masuk, Ralawa duduk di salah satu kursi kayu tua di depan meja, di sudut kanan ruang berukuran kira-kira enam kali empat meter. Ruangan itu berfungsi sebagai kantor, ruang tamu, dan ruang makan penginapan sekaligus.

Ralawa mengitarkan pandangan ke sekeliling ruangan seperti orang linglung. Sepasang matanya berhenti pada foto tua hitam putih kira-kira selebar setengah meja di depannya. Cat hitam bingkai foto itu sudah terkelupas di sana-sini. Foto itu terpasang sekenanya di dinding belakang meja yang disebut pemilik penginapan sebagai kantor. Ralawa merasa tidak asing dengan wajah-wajah yang terkurung bingkai kaca kusam berlapis debu tipis itu.

Ada empat orang berdiam dalam foto itu. Dua lelaki dan dua perempuan. Dua orang dewasa dan dua anak kecil. Setiap orang mengenakan senyum. Wajah-wajah itu tidak mampu menutupi kecanggungan sekaligus kegembiraannya berada di depan kamera. Namun senyum yang ada dalam semua foto keluarga, seperti foto di dinding ruangan berwarna biru pudar itu, sama dengan senyum yang dengan sengaja orang pantulkan di cermin. Tidak seorang pun mampu membuat senyum yang betul-betul senyum ketika bercermin. Ralawa membayangkan tukang foto memerintahkan mereka tersenyum.

“Senyum diciptakan untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Ketika kamu mencoba tersenyum untuk dirimu sendiri, kamu akan gagal membuatnya sempurna.”

Ralawa mengingat kata-kata ibunya sambil tersenyum memandang foto itu. Dibandingkan kamera, pikir Ralawa, cermin masih lebih baik. Atau mungkin lebih buruk, katanya lagi karena tidak yakin dengan pikirannya sendiri. Salah satu alasan yang mendasari penemuan kamera adalah kebutuhan akan sebuah alat yang mampu mengekalkan senyum palsu. Cermin tidak tahu menyimpan senyum.

Ralawa tidak ingin berlama-lama memikirkan empat senyum yang terlihat berusaha keras menutupi kepalsuannya di foto itu. Bagaimanapun juga, kata Ralawa dalam hati, sehelai foto selalu mampu menghadirkan banyak cerita lain yang lebih ceria selain kepalsuan. Bertahun-tahun sebelumnya, Ralawa pernah melihat foto itu, berserta kaca dan bingkai tuanya yang belum pernah diganti. Dulu foto keluarga itu tidak sekusam dan seburam sekarang, pikirnya. Betapa rakus waktu, sehelai foto yang berusaha mengekalkan kebersamaan satu keluarga kecil dilahapnya pula.

Pemilik penginapan hanya berdiri membiarkan Ralawa duduk. Dia sungkan mengganggu keasyikan tamunya mengamati foto di belakang mejanya. Lelaki tua itu meninggalkan Ralawa sambil berpikir untuk membersihkan debu-debu di kaca foto itu dan mengganti bingkainya. Bahkan debu bisa menjadi aib, pikirnya. Dia masuk ke dapur, dan ketika kembali, dia masih menemukan Ralawa mendongak di depan foto keluarganya. Dia meletakkan segelas air putih di depan Ralawa.

“Silakan minum dulu, Tuan. Itu foto lama kami. Ayah dan ibu saya, saya, dan adik saya. Foto itu diambil waktu saya masih kecil. Saya sudah kelihatan gagah sejak masih kecil, bukan? Barangkali tidak kelihatan jelas karena tertutup debu.”

Ralawa tersenyum palsu menanggapi lelucon pemilik penginapan yang tersenyum karena leluconnya sendiri. Sesaat kemudian Ralawa betul-betul tersenyum melihat senyum sepasang anak kecil di foto itu. Alangkah banyak senyum di ruangan itu. Seolah tanpa jendela dan cahaya matahari, ruangan yang minim perabotan itu sudah cukup terang hanya dengan senyum-senyum itu. Ralawa memperpanjang senyumnya ketika memikirkan hal itu. Ralawa sekali lagi melihat foto itu sebelum mengambil segelas air putih di atas meja dan meneguk isinya.

“Seperti inilah. Sama sekali bukan penginapan yang bagus untuk orang kota,” kata pemilik penginapan.

Ralawa tersenyum, sekali lagi. Dia tidak hendak menanggapi lelaki itu dengan kata-kata. Ralawa memang tidak suka dan tidak pandai berbasa-basi. Dia segera memesan kamar. Dia menginginkan satu kamar kosong dengan jendela menghadap ke hamparan pemakaman di sebelah timur penginapan.

“Jika boleh, saya minta kamar di lantai dua,” kata Ralawa.

Pemilik penginapan tersenyum, senyum yang tidak dibuat-buat seperti ketika berada di depan kamera. Dia seperti menangkap sesuatu yang menggemaskan dan membahagiakan dalam kalimat Ralawa.

“Tuan boleh memilih kamar manapun yang Tuan mau. Ada delapan kamar di penginapan ini, tidak ada perbedaan kelas. Luas, fasilitas, dan harganya sama. Semuanya sedang menunggu tamu.”

Ralawa bahagia mengetahui tidak ada tamu Penginapan Kaganga selain dirinya. Sepanjang perjalanan dari Makassar, dia terus membayangkan penginapan itu sepi. Dia tidak mau terganggu oleh percakapan-percakapan tidak penting dengan tamu lain, atau tatapan-tatapan curiga yang seringkali dia temukan di hotel ketika berada jauh dari rumah. Dia langsung menyerahkan segepok uang kepada pemilik penginapan. Lelaki tua itu tidak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Dia mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Dia terlihat seperti seseorang yang tiba-tiba lupa cara memadamkan senyum. Sore itu, sepasang kebahagiaan bertemu di ruang tamu penginapan. Kebahagiaan yang nampak berdiri sendiri tetapi saling melengkapi.

Pemilik penginapan memberi Ralawa diskon khusus, meskipun dia tidak memintanya. Selain karena Ralawa tamu pertama selama dua bulan terakhir, dia mendapatkan diskon karena dia langsung membayar biaya tinggal selama sebulan penuh. Bagi pemilik penginapan, setiap ada satu orang tamu tinggal selama seminggu, penginapan itu akan bertahan hidup selama dua bulan. Dia membutuhkan uang sewa itu untuk membayar biaya listrik dan telepon.

Kecuali Ralawa, semua orang yang pernah mampir ke Penginapan Kaganga akan berpikir bahwa usaha itu didirikan semata-mata agar pemiliknya punya pekerjaan di masa tuanya. Ralawa menganggap semua penginapan dibangun sebagai tempat pulang, meskipun kata ‘penginapan’ lebih terdengar sebagai tempat singgah bagi kebanyakan orang. Bukan hanya tempat pulang bagi keluarga pemiliknya, tetapi untuk siapapun. Perjalanan adalah rumah, bagi Ralawa.

Pemilik penginapan itu tidak pernah terlalu memikirkan biaya makan sehari-hari. Dia memiliki kebun kecil beberapa puluh meter dari penginapan. Di kebun itu, dia dan istrinya menanam berbagai jenis tumbuhan yang bisa dimakan. Kelapa, mangga, pisang, singkong, hingga sayuran seperti kacang panjang dan labu. Dia juga memiliki beberapa petak sawah yang digarap orang lain. Dia sudah terlalu tua untuk menggarap sawahnya sendiri—atau mungkin dia tidak cukup keterampilan bertani. Setiap usai panen, dia akan mendapatkan separuh hasilnya. Dari sana keluarganya memperoleh kebutuhan karbohidrat utama. Untuk lauknya, toko daging yang sudah bertahun-tahun ada di depan penginapan selalu menyediakan potongan harga besar khusus untuknya. Dia bahkan seringkali mendapatkan potongan-potongan daging segar dengan cuma-cuma.

Jika tidak ada tamu, hari-hari pemilik penginapan hanya akan ditemani istrinya.Pasangan suami-istri itu tidak memiliki anak. Satu-satunya anak yang pernah lahir dari rahim istri pemilik penginapan itu meninggal saat masih berusia dua minggu. Mereka tinggal di sebuah kamar di lantai bawah bagian belakang, di depan dapur. Istri lelaki tua itu yang memasak, mencuci pakaian tamu-tamu yang menginap, dan membantu suaminya membersihkan penginapan. Istrinya berusia 10 tahun lebih muda tetapi terlihat seusia dengannya, sebagian orang bahkan menganggapnya lebih tua. Perempuan, di manapun, selalu nampak lebih rapuh di hadapan usia. Sejak masih kecil, istri pemilik penginapan itu memiliki pendengaran kurang tajam.

“Jika Tuan menginginkan sesuatu, mohon bicaralah kepadanya dengan suara lantang. Telinganya hanya menerima uang besar,” kata lelaki pemilik penginapan.

“Tidak banyak hal yang dibutuhkan orang yang datang untuk sekadar bermalas-malasan seperti saya. Hanya dua kali makan saban hari dan tidur lebih banyak dari biasanya.”

“Apakah Tuan yakin tidak ada lagi selain itu? Teman tidur, misalnya. Jika Tuan menginginkannya, saya tidak mampu menyediakannya.”

Seringkali ada tamu penginapannya yang banyak mau; perempuan dan air hangat untuk mandi sampai makanan-makanan aneh yang istrinya tidak tahu bagaimana cara memasaknya.

“Seusai makan malam saya akan butuh segelas besar kopi hitam kental. Cuma itu.”

Dia mengatakan kepada lelaki tua pemilik penginapan bahwa dia datang ke kota kecil itu semata berlibur, tidak ada tujuan lain. Dia merasa bosan tinggal di Makassar. Dia jengah setiap hari harus mengumpat karena banyaknya kendaraan yang menyumbat jalan. Pemilik penginapan mengangguk-angguk dan tidak bertanya lebih jauh perihal tujuan kedatangan tamunya.

Ralawa berjalan menaiki anak-anak tangga di belakang lelaki pemilik penginapanyang sesekali menoleh sambil terus memain-mainkan sejumlah anak kunci di tangan kanannya. Ralawa menghitung jumlah anak tangga dalam hati. Sembilan. Dia ingat, suatu kali ibunya pernah mengatakan bahwa rumah-rumah Orang Bugis selalu memiliki anak tangga ganjil. Keganjilan lebih mulia daripada kegenapan di mata Orang Bugis.

“Ini kamarnya, Tuan. Jika butuh sesuatu, di meja dekat jendela itu ada telepon. Saya memasang telepon yang sama di ruang tamu dan kamar kami. Selamat beristirahat dan mohon berusahalah menikmati segala keterbatasan penginapan ini, Tuan.”

(bersambung)

20 thoughts on “Deo Volente, 1

  1. Jika kelak dituntaskan, Deo volente, ini akan jadi sesuatu yang besar. Gatel pengen ngasih spasi antara dua kata di beberapa paragraf, karena benar-benar itu aja kelemahannya.😀

    Hebat.

    • terima kasih. semoga betul-betul bisa kelar. soal tanpa spasi di beberapa kata itu, saya juga heran karena di file aslinya tidak begitu. hehe. tapi sudah saya perbaiki.

  2. Saya baca pas sudah mau tidur, jadinya penasaran dengan lanjutannya. Di twitter jg penasaran Deo Volante itu artinya apa? ada berapa banyak senyum di bagian I ini? rasanya ceritanya sungguh sedih dan sepi.🙂

    • terima kasih, ri. ikuti terus ya kisahnya. bocorannya: ini akan jadi kisah dua keluarga. hehe. deo volenta cerita ini akan terus berjalan hingga ‘tamat’.

    • sabar, ini akan hadir setiap hari selama sebulan. dan cerita ini akan banyak bercerita tentang toraja pada tahun 1913-1919. kampungmu.

  3. Selalu ikuti dan tidak pernah ragu tulisannya huruf kecil. Semuanya memberi kejutan.🙂 makassar dan toraja dekat dengan kampungku, poso. Sesekali jalan ke sana, banyak kisah sejarah menarik buat dibikin cerita.🙂

  4. Kalau tidak salah, Alida yg disebut disini adalah Alida van de Loosdrecht- istri seorang misionaris yang pernah tinggal dan bekerja di Tana Toraja. Kisah cinta antara Alida dan Antoon van de Loosdrecht memang sangat menginspirasi. Meski keduanya hanya hidup bersama selama 4 tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s