Pohon Mangga Keluarga

tidak pernah ada yang ngidam di rumah kami
semenjak pohon mangga itu tahu berbuah. ibu
sudah menjanda. aku perempuan namun, kau
tahu, belum ada lelaki yang singgah bertamu
hendak bertemu ibu.

kata bapak kepada ibu: kelak kau akar pohon
yang semakin subur dan aku semata matahari
tumbuh menguning bagai daun-daun gugur—
mengenang.

kata ibu kepada aku: barangkali kau terkutuk
juga menjadi akar yang tidak pernah mampu
sampai menyentuh satu dahan.

aku tidak marah ketika mengumpulkan daun,
bunga, dan ranting keringnya yang berjatuhan
kemudian membakarnya. namun tangan ibu
bergetar ketika mengelus rambutku.

pohon mangga keluarga itu terus saja tumbuh
seperti hendak menyelamatkan hidup sepasang
perempuan: yang satu tinggal dalam kenangan,
yang satu nyaris tanggal dari harapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s