April 2011: Puisi Pertama

Aku Membayangkan Rumah Tangga
dan Sejumlah Percakapan di Dalamnya

ini malam alangkah raya. segala hal sudah pulas
tertidur, kecuali namamu dan pikiranku.

pikiranku sungai. namamu kaki-kaki hujan.
kuku-kukunya runcing mencakar lembut daging
bening airku.

aku ingin tidur. namun malam ini kantuk mencintai
pelupuk mata orang lain, barangkali juga matamu.

beruntung beruntun sejumlah percakapan
dalam sebuah rumah tangga menetes dan
menetas di kepalaku.

*

“para pelancong punya lebih banyak barang
di kedua tangan daripada di kepala mereka.”

—kau memasukkan beberapa lembar pakaian
ke dalam tas sedang buat kita berdua. sepasang
tiket pesawat di tempat tidur. hotel kecil di kaki
gunung. bulan madu dan pertengkaran kecil
yang lucu di pematang sawah.

*

“saking rindunya kepada musim kemarau, langit
menangis sepanjang malam, sepanjang siang.”

—kau memikirkan musim hujan yang tak kunjung
berujung. bunga-bunga di halaman tak menghasilkan
madu. barangkali serangga juga tidak lagi rindu.

*

“aku beli payung kuning untukmu. aku ingin melihat
bunga matahari mekar di musim hujan.”

—aku berdiri di beranda, mencoba bercanda. kau,
pagi, dan hujan hendak berangkat ke pasar. sudah dua
hari kulkas tak berisi apapun kecuali dingin yang sia-sia.

*

“angin selalu sama namun membisikkan kata berbeda
kepada setiap helai daun.”

—ada debu di jendela, sisa-sisa jalan di depan rumah
sebelum beraspal. hijau daun pohon terlihat lebih tua
seperti warna minuman di gelas yang menemanimu
duduk memandang langit abu-abu.

*

“semalam aku mengumpulkan bintang, agar kau
bisa menatap kampung yang dikepung cahaya
di mataku.”

—aku pulang pagi. tak ada hujan atau kecelakaan
yang bisa jadi alasan. kau tidur di kursi ruang tamu
memeluk tubuh sendiri dengan kunci di tangan. aku
berjalan ke dapur menyeduh teh dua gelas. suara
kendaraan di depan rumah semakin lama semakin
tak ramah.

*

“di pagi hari bunga-bunga bangun dan menjilat
embun di tubuhnya seperti seekor kucing.”

—kau tertawa mendengar kata ‘menjilat’ meloncat
dari lidah suamimu yang matanya tidak lagi sanggup
membaca buku apapun tanpa menggunakan kacamata.

*

“seni itu hadir sebab hidup tidak pernah cukup.”

—kau menggenggam kertas di hari ulang tahunmu.
aku duduk cemas bertanya dalam hati: apakah puisiku
masih mampu membuat kedua matamu berkilau-kilau
saat menangis seperti dulu? lilin sudah memakan
tubuhnya separuh. aku mendoakanmu.

*

“doa adalah lagu pengantar tidur buat harapan.”

—tawa geli juga tangis cucu, jembatan panjang
ke masa lampau sebelum aku entah kenapa bisa
menemukanmu di suatu sore, tersenyum kepadaku.
kau bertanya kepada anak bungsumu siapa nama
pacarnya sambil membayangkan sepasang cucu lagi.

*

ini malam alangkah raya. segala hal sudah pulas
tertidur, kecuali namamu dan pikiranku.

namamu kaki-kaki hujan. pikiranku sungai.
rumah tangga dan percakapan-percakapan itu
masih akan mengalir dan mengalir andai masjid
belum bangun.

Bantimurung, April 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s