selusin puisi kecil – 9

 

satu –

matahari mengecup embun.
burung-burung menggoda angin.
roti-keju-tomat. satu lagi pagi
dan harapan menemanimu sarapan.

 

dua –

ketika masa lalu dan masa depan

bertikai di kepalaku,aku menyeduh teh

sambil menangis mengingat-ingat

siapa namamu.

 

tiga –

terima kasih kepada arsitek

yang membuat sudut di kamarku,

tempat aku duduk meletakkan dagu

di lutut saat butuh pelukan.

 

empat –

sejak mula senyummu bunga teratai,

mekar di mataku yang menjadi telaga,

bahkan setelah engkau tenggelam

entah di mana.

 

lima –

gemulai maut menyisir uban-ubanku

lalu mulai mau menyusur ubun-ubunku.

 

enam –

aku petani, mengusahakan cinta jadi biji-biji beras.

kau menanaknya dan kita memakannya.

 

tujuh –

dulu kau baca masa depan di telapak tanganmu.

meski kita batal terjadi, aku tetap bahagia pernah

kau bayangkan.

 

delapan –

ciuman singkat di kelopak mataku malam itu

telah memejamkan hatiku selamanya.

 

sembilan –

debu-debu yang dibawa angin ke kaca jendelamu,

yang kau bersihkan setiap pagi, adalah rinduku.

 

sepuluh –

aku ada di setiap jeda singkat

nafasmu yang panjang.

 

sebelas –

tengadah sendiri di tempat tidur,

aku membuat bulan di langit-langit kamar

menggunakan senter.

 

duabelas –

pada sore berwarna wortel itu,

angin singgah di pohon jambu.

ia bertanya: daun mana yang mau

pulang ke bumi kali ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s