selusin puisi kecil – 7

 

satu –

barangkali kau telah menghanyutkan peti matiku

di alir air mataku sendiri. berulangkali.

 

dua –

betapa lengang jalan dan lengan,

betapa jauh engkau dari jangkau.

betapa malang malam-malamku,

betapa rindang rindu.

 

tiga –

kita akan selalu punya waktu

minum teh di beranda.

kita tak akan kehabisan percakapan

dan makanan ringan buat bercanda.

 

empat –

gaung bunyi sunyi agung ini

milikmu atau milikku, aku tak tahu.

 

lima –

suatu saat, katanya, akan aku buat rindu

sangat merindukan kita. maka aku biarkan

dia pergi.

 

enam –

sejak kau pergi, bioskop tak pernah

memutar film komedi lagi.

 

tujuh –

ke sunyi yang menghutan ini, datanglah membawa tawa.

telah aku siapkan kakiku yang pandai menari.

 

delapan –

sore pucat di halaman: cuma bunga-bunga

yang lupa cara tersenyum dan bangku kayu

sudah rapuh menunggu punggungmu.

 

sembilan –

kata-kata memilih membubarkan diri

menjadi kota yang riuh. kini puisi semata berisi aku

dan kenangan tentang engkau.

 

sepuluh –

aku angin yang terus berpusar di atas nisan pusara

menjaga agar namamu tetap terbaca.

 

sebelas –

aku dan kau dua batang besi rel panjang berkarat.

tak pernah ada kereta lewat. kita tak bisa lagi sama

merasa sekarat.

 

duabelas –

di kamar dengan mata lampu redup,

ke telingaku kau bisikkan hidup.

di ruang tengah, televisi membohongi

diri sendiri.

One thought on “selusin puisi kecil – 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s