selusin puisi kecil – 5

 

satu –

senyummu terperangkap di mataku sebagai kenangan.

barangkali itulah yang menghangatkan airmataku.

 

dua –

alangkah lambat waktu kini mengalir.

seperti sungai di musim kemarau.

seperti airmataku.

 

tiga –

setiap tetes hujan adalah doa, katamu.

kau tidak tahu seluruh awan di langit

berasal dari dadaku.

 

empat –

engkau adalah pikiranku yang hilang.

kapan engkau pulang?

 

lima –

dari ciuman-ciumanmu dulu,

aku menghirup nafas panjang kehidupan.

setelah bertahun-tahun, kau lihat,

aku masih tersenyum.

 

enam –

di novel ini, kita berada di halaman yg sama.

kau mencium kekasihmu, aku membiarkan es krim

di tanganku meleleh sendiri.

 

tujuh –

seluruh keajaiban alam sedang bersamaku kini.

aku masih ingat senyum yang dia kenakan saat itu.

 

delapan –

di hadapanmu, kekasih, bahkan mengedipkan mata

membuat aku merasa telah melakukan kesalahan besar.

 

sembilan –

aku berharap segera bisa mendengar

degup jantungmu, dengan bibirku.

 

sepuluh –

selain parfum dan kentang goreng,

aku mau sesuatu yang lebih perancis darimu.

ciuman, umpamanya.

 

sebelas –

di kaca jendela yang tertutup debu tebal aku menulis namamu.

dari huruf-hurufnya aku melihat langit alangkah biru.

 

duabelas –

sebab tuhan belum mengabulkan permohonanku

buat hidup dua kali, aku ingin seluruh ruang di diriku berisi kau.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s